Buka menu utama

WikiShia β

Musailamah al-Kadzdzab

Musailamah bin Tsumanah Hanafi Waili (bahasa Arab: مسيلمة بن ثمامة الحنفي الوائلي) yang lebih populer dengan sapaan Musailamah Kadzdzab (terbunuh tahun 12 H) mengaku nabi pada tahun 10 H. Pada tahun 122 H ia terbunuh dalam perang Yamamah melawan pasukan Khalid bin Walid.

Musailamah menerima akan kenabian Nabi Muhammad saw dan mengaku bersekutu dalam kenabiannya. Dia menghalkan zina dan khomer kepada para pengikutnya dan melarang salat terhadap mereka. Ia juga hendak mengulangi sebagian mukjizat-mukjizat Nabi saw namun tidak mampu.

Daftar isi

Nama, Garis Keturunan dan Lakab

Musailamah berasal dari kaum Bani Hanifah, sebuah kabilah di Yamamah. Ia bernama Musailamah bin Tsumamah bin Kabir bin Habib Hanafi Waili [1] dan dipanggil dengan nama Abu Tsumamah. [2] Ia mempunyai lakab Rahman dan pada masa jahiliyah dikenal dengan Rahman Yamamah. [3] Pada tahun Delegasi (sanah al-Wufud) ia bersama para pembesar kabilahnya pergi ke Madinah dari Yamamah. Mengenai pertemuan mereka dengan nabi Islam terdapat dua penukilan:

  • Musailamah bersama rombongannya pergi bertemu dengan Nabi saw. Ia berkata: Jika Muhammad mengangkat aku sebagai penggantinya, niscaya aku akan mengikutinya. Nabi saw sambil memegang ranting pelepah kurma bersabda: "Jika engkau meminta apa yang ada di tanganku, niscaya tidak akan kuberikan kepadamu. Dalam urusanmu, janganlah engkau memusuhi segala sesuatu yang telah Allah tentukan kepadamu, jika engkau membangkang pasti Allah memutus keturunanmu". [4]
  • Musailamah di Madinah menjadi penjaga barang-barang rombongannya dan tidak menemui Nabi saw. [5] Setelah mereka menampakkan keislaman di hadapan Nabi saw, mereka berkata bahwa kami menugaskan satu orang diantara kami untuk menjaga barang-barang kami. Nabi saw pun mengeluarkan perintah supaya segala sesuatu yang diberikan kepada mereka, diberikan pula kepada Musailamah.[6]

Setelah pulang ke negrinya, Musailaman mengaku nabi [7] dan Rasulullah saw memanggilnya dengan Musailamah Kadzdzab. [8] Ia juga dipanggil dengan nama Harun dan Muslimah. Dikatakan bahwa dahulu namanya Muslimah, namun setelah menganku nabi ia dipanggil Musailamah (muslim kecil) sebagai penghinaan. [9]

Mengaku Nabi

Pada tahun 11 H, Musailamah mengirim surat kepada Nabi saw mengaku bersekutu dengannya dalam kenabian. Dalam jawabannya, Nabi saw memanggilnya dengan Musailamah Kadzadzab[10] dan beliau mengutus Habib bin Yazid bin Ashim kepadanya, namun karena Habib tidak mengakui kenabian Musailamah, maka Musailamah membunuhnya. [11] Setelah Nabi saw wafat terciptalah suasana bagus untuk Musailamah sehingga ia mengumpulkan beberapa orang di sekitarnya, dan dengan meniru Alquran ia membuat kalimat-kalimat dalam bentuk prosa berirama dan menyampaikannya di depan mereka.[12] Musailamah menikah dengan Sajjah putri Harits Tamimi yang ia juga mengaku nabi[13]. Maskawinnya adalah meliburkan salat Subuh dan Isya kepada para pengikutnya. [14]

Dia menghalalkan zina dan minuman khomer kepada para pengikutnya dan melarang salat terhadap mereka sementara ia memberikan kesaksian terhadap kenabian Nabi Islam saw. [15]

Mukjizah Lemah

Berdasarkan sebagain catatan sejarah, musailamah hendak mengulangi beberapa mukjizat Nabi saw, namun perbuatannya rapuh. Ia melemparkan air ludahnya ke dalam sumur, namun air sumur itu mengering. Ada seorang anak kecil dibawa ke sisi Musailamah supaya didoakan, ketika tangannya diusapkan di atas kepalanya maka anak kecil itu jadi gundul. Bekas air wudunya disiramkan di sebuah kebun, maka kebun itu pun tidak menumbuhkan pohon kembali. Tangannya diusapkan di mata seseorang, maka mata orang itu menjadi buta. [16]

Kematian

Pada tahun 12 H [17] Abu Bakar mengirim sebuah pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid ke Yamamah [18], dan di Aqraba' Khalid bertempur dengan Musailamah dan pasukannya. Pada bulan Rabiul Tsani tahun 12 H Musailamat terbunuh. [19] Wahsyi bin Harb (pembunuh Hamzah), Abdullah bin Zaid bin Ashim dan Abu Dujanah memiliki peran dalam pembunuhan Musailamah. [20] Tentunya, masing-masing dari Wahsyi bin Harb[21] dan Abdullah bin Zaid bin Ashim [22] secara independen diperkenalkan sebagai pembunuhnya.

Catatan Kaki

  1. Zirikli, al-A'lām, jld.7, hlm.226
  2. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.576
  3. Zirikli, al-A'lām, jld.7, hlm.226; Baladzuri, Futuh al-Buldān, hlm.109
  4. Bukhari, Shahih al-Bukhari, jld.4, hlm.203
  5. Ya'kubi, Tarikh Ya'qubi, jld.2, hlm.130; Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.576
  6. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.576-577
  7. Zirikli, al-A'lām, jld.7, hlm.226
  8. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.3, hlm.146
  9. Zirikli,al-A'lām, jld.7, hlm.226
  10. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.3, hlm.146
  11. Ibnu Abdil Bar, al-Isti'āb, jld.1, hlm.320; Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld.1, hlm.4433
  12. Zirikli, al-I'lam, jld.7, hlm.226
  13. Ibnu Hajar, al-Ishabah, jld.7, hlm.344
  14. Ibnu A'tsam, al-Futuh, jld.1, hlm.22
  15. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.577
  16. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld.6, hlm.327
  17. Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld.3, hlm.194
  18. Ibnu Abdil Bar, al-Isti'āb, jld.2, hlm.429
  19. Ya'kubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld.2, hlm.131
  20. Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld.5, hlm.96
  21. Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld.4, hlm.662
  22. Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld.3, hlm.147

Daftar Pustaka

  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Futuh al-Buldān. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1988.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Peneliti: Al Nashir, Muhammad Zuhair bin Nashir. Damaskus: Dar Thauq al-Najah, cet. 1, 1422 H.
  • Ibnu Abdilbar, Yusuf bi Abdullah. Al-Isti'āb fi Makrifah al-Ashhab. Peneliti: Ali Muhammad al-Bajawi. Beirut: Dar al-Jabal, 1412 H/ 1992.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usd al-Ghabah fi Ma'rifah ash-Shahabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H/ 1989.
  • Ibnu Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali. Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah. Peneliti: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Muawwadh. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1415 H/ 1995.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Malik. As-Sirah an-Nabawiyah. Peneliti: Mustafa Saqa dan Ibrahim Abyari dan Abdul Hafiz Syabli. Beirut: Dar al-Makrifah, tanpa tahun.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa an-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H/1986.
  • Ibu A'tsam Kufi, Ahmad bn A'tsam. Al-Futuh. Peneliti: Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa', 1411 H/ 1991.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Trikh al-Umam wa al-Muluk. Peneliti: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H/1967.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Shadir, tanpa tahun.
  • Zirikli, Khairuddin. Al-A'lām Qamus Tarājum li Asyhar ar-Rijāl wa an-Nisa min al-Arab wa al-Musta'rabin wa al-Mustasyriqin. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malāyin, 1989.