Buka menu utama

WikiShia β

Maharim (bahasa Arab: المحارم) jamak mahram adalah semua orang yang haram dinikahi karena ada hubungan tali kekeluargaan. Mahram dan hukum-hukum syar'inya telah dimuat di dalam Alquran dan berbagai bab fikih seperti nikah, talak dan hukum-hukum mayat. Berdasarkan hukum-hukum fikih, keturunan (nasab), pernikahan dan persusuan dihitung sebagai sebab-sebab kemahraman. Sebab-sebab lain seperti jatuhnya tiga talak kepada istri, kekafiran dan kenasibian (benci dan memusuhi Ahlulbait as) dikategorikan sebagai sebab-sebab dari pengharaman nikah.

Dalam bahasa orang awam, maharim adalah para famili dan kerabat yang hukum-hukum hijab tidak berlaku diantara mereka.

Daftar isi

Kemahraman

Mahram diambil dari kata 'haram' (حرم). Semua orang yang memiliki ikatan kekeluargaan (rahim) dan diharamkan pernikahan diantara mereka untuk selamanya disebut 'mahram', [1] sementara tali ikatan (nisbat) diantara mereka disebut 'kemahraman' (mahramiyah). Mahram dan hukum-hukumnya disinyalir di dua ayat Alquran; ayat 23 surah Al-Nisa menjelaskan mahram-mahram dan hukum keharaman menikah dengan mereka. [2] Di dalam surah an-Nur disinggung pula beberapa mahram dari wanita. [3]

Berdasarkan pandangan fukaha, hukum-hukum hijab (kain penutup seluruh badan selain wajah dan tangan hingga pergelangan) tidak wajib diantara mahram-mahram.[4]

Sebab-sebab Kemahraman dan Pembagian Mahram

Mahram Karena Keturunan (nasabi)

Ikatan famili dan kekeluargaan yang muncul dari lahirnya satu atau beberapa orang dari yang lain dinamakan ikatan keturunan (nasab). Dan mahram nasabi adalah orang-orang yang sejak lahir terdapat ikatan kemahraman dengan mereka.

Menurut fikih, ayah, kakeh dan seterusnya ke atas (ajdād), anak laki-laki, para cucu laki-laki, paman (dari jalur ayah atau dari ibu), saudara, putra saudara/i (keponakan) adalah mahram nasabi bagi wanita. Begitupun ibu, nenek dan seterusnya ke atas (jaddāt), putri, cucu perempuan, bibik (dari jalur ayah atau dari jalur ibu), saudari, putri saudara/i (keponakan) adalah mahram nasabi bagi laki-laki.[5]

Mahram karena Sebab Tertentu (sababi)

Di dalam fikih dijelaskan, seseorang akan menjadi mahram orang lain dengan perantara pernikahan dan persusuan. Oleh karena itu, maka pernikahan dan persusuan merupakan sebab-sebab lain dari kemahraman.

Mahram yang Muncul dari Pernikahan

Dengan pembacaan akad nikah, maka sebagian keluarga suami akan menjadi mahram utuk istri, begitu juga sebagian keluarga istri akan menjadi mahram untuk suami. Mereka itu dinamakan 'maharim sababi' (mahram-mahram karena sebab tertentu).[6] Dengan perantara nikah, maka ayah dan kakek suami menjadi mahram bagi istri, begitu juga ibu dan nenek istri menjadi mahram bagi suami. [7] Demikian juga saudari-saudari istri, selama istri masih hidup atau tidak ditalak, dianggap tidak mahram, tetapi kawin dengannya diharamkan pula.[8]

Ikatan tali kemahraman bersifat selamanya dan keharaman nikah dengan mahram termasuk jenis keharaman yang abadi. [9]

Mahram yang Muncul dari Persusuan

Diantara bayi yang menyusu dengan wanita yang menyusuinya dan sebagian keluarga wanita tersebut seperti suami dan anak-anaknya terdapat ikatan kemahraman.[10] Untuk terjalinnya ikatan ini telah disebutkan syarat-syaratnya di dalam fikih, diantaranya adalah bayi yang menyusu itu berumur kurang dari 2 tahun sementara wanita yang menyusuinya harus hamil secara syar'i. [11]

Kasus-kasus Lain dari Keharaman Pernikahan

Beberapa hal yang menjadi penyebab keharaman pernikahan adalah:

  • Menjatuhkan tiga talak kepada istri: menurut fikih Syiah, apabila suami mentalak istrinya sebanyak tiga kali, maka ia tidak berhak lagi untuk menikahinya kecuali setelah istri itu melakulan muhallil, yaitu kawin lagi dengan lelaki lain, kemudian lelaki itu mentalaknya.[12] Tentu saja dengan perantara pernikahan, saudari istri menjadi haram bagi suami selama istri masih berada dalam akad suami.
  • Kekafiran dan kenasibian diyakini sebagai sebab lain dari keharaman pernikahan. [13]

Keharaman yang Abadi

Di dalam fikih Syiah disebutkan beberapa sebab untuk keharaman pernikahan laki-laki dan wanita yang bersifat abadi. Antara lain: jatuhnya talak kepada istri setelah talak yang kesembilan,[14] mengakad wanita yang sedang dalam idahnya lelaki lain, [15] melakukan zina dengan wanita muhshanah (wanita bersuami)[16] dan pelaknatan.[17] demikian juga liwat menjadi sebab keharaman pernikahan abadi antara pelaku liwat dengan ibu, putri dan saudari orang yang diliwati.[18]

Catatan Kaki

  1. Farahidi, al-'Ain, jld.3, hlm.222
  2. QS. An-Nisa:23
  3. QS. An-Nur:21
  4. Risalah Taudhih al-Masāil Marāji', bab nikah, masalah no. 2437
  5. Imam Khomaini, Tahrir Wasilah, jld.2, hlm. 263-264; Khurramsyahi, Danesynameh Quran wa Quran pazuhi, hlm.1988
  6. Imam Khomaini, Tahrir al-Wasilah, jld.2, hlm.264
  7. Khurramsyahi, Danisynameh Quran wa Quran Pazuhi, hlm.1989
  8. Bani Hasyimi Khomaini, Risalah Taudhih al-Masail Sizdah Marja', hukum nikah, masalah no. 2390
  9. Imam Khomaini, Tahrir al-Wasilah, jld.2, hlm.280
  10. Khurramsyahi, Danisynameh Quran wa Quran Pazuhi, hlm.1988
  11. Mufid, al-Muqni'ah, hlm.502-503; Imam Khomaini, Tahrir al-Wasilah, jld.2, hlm.265
  12. Mufid, al-Muqni'ah, hlm.501
  13. Mufid, al-Muqni'ah, hlm.500
  14. Mufid, al-Muqni'ah, hlm.501
  15. Mufid, al-Muqni'ah, hlm.501
  16. Mufid, al-Muqni'ah, hlm.501
  17. Najafi, Jawāhir al-Kalām fi Syarh Syarāyi' al-Islam, jld.30, hlm.24
  18. Mufid, al-Muqni'ah, hlm.501