Buka menu utama

WikiShia β

Doa, Munajat dan Ziarah
مسجد جامع خرمشهر.jpg

Malam Qadar atau Lailatul Qadr (bahasa Arab:لَیلَةُ القَدر) adalah malam diturunkannya Alquran dan malam ditakdirkannya segala urusan dalam setahun mendatang bagi umat manusia. Alquran mengisyaratkan tentang Lailatul Qadr dalam dua surah yaitu surah al-Qadr dan Al-Dukhan. Dalam Alquran dan beberapa riwayat diyakini bahwa nilai malam lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan. Malam ini adalah malam yang paling utama dalam setiap tahunnya dan malam rahmat Ilahi dan malam diampunkannya dosa-dosa dan di malam ini, para malaikat berdatangan ke bumi dan menurut sebagian besar hadis-hadis Syiah, dan takdir-takdir para hamba di tahun mendatang telah disodorkan kepada Imam.

Terjadinya Lailatul Qadr tidak bisa dikenali secara jelas bahwa malam ini berada di malam yang mana. Namun berdasarkan dari banyak riwayat Malam Qadr terjadi pada bulan Ramadan dan kemungkinan besar berada pada malam-malam: 19 atau 21 atau 23 bulan ini. Kaum Syiah menegaskan Lailatul Qadr jatuh pada malam 23 Ramadan dan Ahlusunah pada malam 27 Ramadan.

Kaum Syiah pada malam-malam ini dengan mengambil contoh dari para maksum as, sibuk menghidupkan malam-malam qadar dengan membaca Alquran, berdoa dan melakukan amalan-amalan lainnya yang berkaitan dengan malam ini. Terpukulnya kepala suci Imam Ali as dengan pedang musuh dan kesyhahidannya pada malam-malam ini juga semakin menambah pentingnya Lailatul Qadr di kalangan Syiah dan duka cita untuk Imam mulia ini bersamaan dengan malam qadar.

Daftar isi

Penamaan

"Qadr" adalah sebuah kata dari bahasa Arab yang bermakna ukuran, takdir dan nasib. [1] Adapun terkait dengan mengapa malam ini dinamakan dengan malam Qadar terdapat beberapa alasan:

  • Sebagian berkata: Karena pada malam ini takaran dan ukuran para hamba tentang hal-hal yang akan terjadi selama setahun akan ditentukan, maka malam ini dinamakan Malam Qadar.[2]
  • Sekelompok orang meyakini jika seseorang menghidupkan malam ini, dia akan memiliki kadar kemuliaan dan kedudukan (di sisi Allah swt). [3]
  • Sekelompok lainnya juga meyakini bahwa: Alasan penamaan, kemuliaan dan kadar tingginya malam ini.[4]

Lailatul Qadr juga disebut dengan nama-nama seperti "Lailatl Azamah" dan Lailatus Syaraf"[5]

Kepentingan dan Keutamaan

Dalam budaya Islam, Lailatul Qadr paling agung dan paling pentingnya malam di setiap tahunnya.[6] Berdasarkan sebuah riwayat dari Rasulullah saw, Lailatul Qadr merupakan karunia dan anugerah dari Allah swt kepada umat Islam yang mana anugerah dan karunia ini tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya.[7] dalam Alquran Alkarim, terdapat sebuah surah yang lengkap yang secara khusus menyifati dan menyunjung malam Qadar dan disebut dengan nama ini (surah al-Qadr).[8] Dalam surah ini, nilai Lailatul Qadr diyakini lebih baik dari seribu bulan. [9] Ayat pertama sampai ayat keenam surah ad-Dukhan juga menjelaskan tentang kepentingan dan peristiwa-peristiwa malam Qadar.[10]

Dimuat dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as bahwa sebaik-baiknya bulan, adalah bulan Ramadan dan jantung bulan Ramadan adalah malam Lailatul Qadr. [11] juga dinukil dari Nabi Muhammad saw bahwa malam Qadr adalah penghulu malam-malam.[12] Berdasarkan sumber riwayat fikih, hari-hari Qadr juga memiliki kedudukan yang sama sebagaimana malam-malamnya sangat dihormati dan diutamakan. [13] dalam sebagian riwayat dimuat bahwa Fatimah sa adalah rahasia malam Lailatul Qadr [14] dan siapa saja yang mengenal makrifah kedudukan Fatimah sa, maka dia mendapatkan malam Lailatul Qadr.[15] terjadinya sebagian peristiwa seperti syahadah Imam Ali as pada malam kesepuluh ketiga bulan Ramadan, telah menambah kepentingan malam-malam ini di kalangan orang-orang Syiah dan mereka pada malam-malam ini selain menjalankan amalan-amalan mustahab khusus pada malam ini, mereka juga berkabung dan melampiaskan rasa duka atas musibah yang terjadi atas Imam Ali.[16]

Penurunan Alquran

Ayat pertama surah al-Qadr dan ayat ketiga surah ad-Dukhan, menjelaskan diturunkannya Alquran pada malam Qadr. [17] Muhammad Abduh meyakini bahwa dimulainya penurunan Alquran secara bergradasi pada bulan Ramadan; [18]Namun kebanyakan para mufassir meyakini bahwa Alquran diturunkan secara langsung sekaligus pada malam ini dari Lauh Mahfuz ke Baitul Makmur atau ke jantung Nabi saw, yang mana hal ini disebuat dengan Nuzul Daf'i (penurunan secara langsung) atau Nuzul Ijmali Quran (penurunan Global Alquran).[19]

Takdir Segala Urusan

Imam Baqir as dalam menjelaskan ayat keempat surah ad-Dukhan berkata: Di setiap tahun pada malam ini, takdir setiap manusia ditulis untuk setahun mendatang.[20] berdasarkan hal ini dalam sebagian riwayat diyakini bahwa malam Qadr sebagai awal tahun.[21] Allamah Thabathabai berkata: "Maksud dari Qadr adalah takdir dan ukuran. Dan pada malam ini Allah swt telah menentukan urusan-urusan seperti kehidupan, kematian, rezeki, kebahagiaan dan kesengsaraan seluruh manusia."[22] menurut sebagian riwayat, wilayah dan otoritas Imam Ali dan seluruh Ahlulbait as juga pada malam ini ditentukan dan ditandatangani. [23]

Pengampunan Dosa

Menurut sumber-sumber Islam, Malam Qadar adalah malam khusus yang penuh dengan rahmat Ilahi dan malam pengampunan dosa-dosa dan tangan-tangan Syaithan dan kaki-kakinya pada malam ini dibelenggu dan pintu-pintu surga dibuka bagi kaum muslim.[24] diriwayatkan dari Rasulullah saw: Setiap orang yang menghidupkan malam Qadar dan dia beriman serta meyakini hari pembalasan, seluruh dosa-dosanya akan diampuni.[25]

Turunnya Para Malaikat

Berdasarkan ayat-ayat surah al-Qadr, para malaikat dan ruh turun ke permukaan bumi [26] dan sesuai dengan sebagian hadis, mereka pergi ke hadapan Imam untuk menyampaikan takdir dan keputusan setahun mendatang dan apa saja yang telah ditakdirkan mereka sampaikan kepadanya. [27] Imam Baqir as berkaitan dengan hal ini berkata: Pada malam ini, para malaikat bertawaf mengelilingi kami dan kami dengan begitu mengetahui bahwa Malam Qadr sudah tiba.[28] dalam riwayat-riwayat yang lain kepada pengikut Syiah telah dipesankan bahwa dengan permasalahan ini hendaklah mereka gunakan sebagai bukti kepentingan Imamah dan dalil kebenaran Syiah; dengan demikian pada setiap masa dan periode diharuskan akan keberadaan Imam maksum sehingga para malaikat menyampaikan takdir dan ketentuan Allah kepadanya.[29]

Zaman dan Masa

Mengenai malam Qadar kapan terjadinya dari malam-malam di setiap tahunnya, terdapat berbagai pandangan.

Peringatan Lailatul Qadar di Haram Imam Ridha Masyhad

Pandangan Syiah

Para mufassir Syiah, dengan bersandar pada ayat-ayat surah al-Qadr berkeyakinan bahwa Lailatul Qadr tidak dikhususkan pada malam diturunkannya Alquran di zaman Rasulullah saw, akan tetapi akan berulang di setiap tahunnya. Banyak juga riwayat yang menegaskan hal ini bahkan menurut sebagian sampai batas mutawatir.[30] Namun dengan begitu tetap tidak jelas masa kapan terjadinya malam Qadar dan tidak ada dalam ayat atau riwayat yang menjelaskan kapan dan pada malam ke berapa terjadinya Lailatul Qadr. Namun banyak riwayat yang menegaskan bahwa malam Qadar terjadi di bulan Ramadhan.

Dalam riwayat-riwayat Syiah menganjurkan dengan tegas untuk menghidupkan tiga malam, malam 19, 21 atau 23 bulan Ramadhan dan dari tiga malam ini juga lebih diutamakan untuk lebih memperhatikan malam ke-23 dibandingkan dengan malam-malam lainnya.[31] Dan menurut riwayat lainnya, pada malam ke-19, segala takdir ditulis dan pada malam ke-21 ibram (penegasan akan hal-hal yang telah ditakdirkan) dan penandatangannya pada malam ke-23. [32] malam ke-27 Ramadan dan malam pertengahan Syakban juga adalah dua kemungkinan lain akan terjadinya malam lailatul Qadar.

Pandangan Ahlusunnah

Kebanyakan Ahlusunnah dengan bersandarkan pada hadis nabawi berpandangan bahwa malam Qadar adalah satu malam dari malam-malam kesepuluh terakhir bulan Ramadan dan kemungkinan malam lailatul Qadar terjadi pada malam ke 27 sangat besar dibandingkan malam-malam lainnya, oleh karena itu, pada malam ini mereka sibuk berdoa dan tetap terjaga hingga Subuh untuk beribadah.[33] Sebagian Ahlusunah lainnya juga berpandangan bahwa Lailatul Qadr hanya ada dan terjadi pada masa hidup Nabi Muhammad saw yang akan terulang di seiap tahunnya, namun sepeninggal Nabi malam Qadar tidak ada lagi .[34] Menurut sebagian yang lain, Lailatul Qadr kapan saja bisa terjadi sepanjang setahun dan malam-malam itu tidak ditentukan. [35] Sebagian lagi meyakini bahwa malam Qadar, pernah terjadi pada tahun Bi’tsah, pada bulan Ramadan, namun pada tahun-tahun yang lainnya mungkin saja terjadi pada bulan-bulan lainnya. [36]

Perbedaan Ufuk danPenentuan Malam Qadar

Malam Lailatul Qadar hanya terjadi pada satu malam dari malam-malam yang ada di setiap tahunnya [37] Adapun perbedaan ufuk negara-negara (seperti ufuq Iran dan Arab Saudi) hal ini akan menyebabkan perbedaan zaman dan waktu dimulainya bulan Ramadan di pelbagai kawasan dan mau tidak mau akan menjadikan perbeadaan waktu malam-malam 19, 21 dan 23 bulan Ramadan juga.[38] Fukaha mengenai kontradiksi ini berkata: Perbedaan ufuk setiap negara tidak menujukkan berbilangnya malam Qadar dan masyarakat di setiap belahan dunia harus menentukan satu waktu untuk malam Qadar dan waktu-waktu lainnya seperti Idul Fitri atau Idul Adha sesuai dengan ufuk mereka.[39] Menurut pandangan Ayatullah Makarim, malam adalah bayangan setengah dari bulatan bumi atas setengahnya yang lain dan bayangan ini bersamaan dengan putaran bumi selalu bergerak dan putaran sempurnanya adalah sepanjang 24 jam.[40] Oleh karena itu, mungkin saja malam Lailatul Qadar, merupakan putaran sempurna dari gerakan alami bumi untuk dirinya sendiri; yaitu waktu 24 jam kegelapan yang akan menutupi seluruh titik bumi. Dengan demikian, malam Lailatul Qadar akan dimulai dari satu kawasan dan akan terus berlanjut sampai 24 jam dan seluruh putaran bumi akan mendapatkan Lailatul Qadar.[41]

Sirah Perjalanan Para Maksum

Dikatakan dalam sebuah hadis dari Imam Ali as bahwa Nabi saw di kesepuluh hari terakhir bulan Ramadan, beliau melipat kasurnya dan pergi ke masjid untuk beriktikaf dan dengan keadaan masjid Madinah yang tidak memiliki atap ketika itu, walau di cuaca hujanpun Nabi tidak meninggalkan masjid.[42] Begitu juga dinukil bahwa Nabi saw pada malam-malam Lailatu Qadar beliau terjaga dan Beliau juga memercikkan air ke muka orang yang tertidur.[43]

Metode Fatimah sa ketika itu adalah Beliau melewati malam-malam Qadar dengan beribadah sampai subuh dan memaksa anak-anaknya serta keluarganya untuk terjaga dan melakukan ibadah dan masalah tidur, mereka selesaikan dengan cara tidur di siang hari dan sedikit makan. [44] Para Imam Maksum di malam-malam Qadar, senantiasa hadir di masjid dan tidak meninggalkan untuk menghidupkan malam-malam tersebut.[45] menurut sebuah riwayat, di salah satu malam Qadar Imam Shadiq as terserang sakit yang cukup parah, namun dengan keadaan seperti itu beliau tetap memaksa kepada kalangan familinya untuk membawanya ke masjid supaya beribadah di sana. [46]

Amalan-Amalan Malam-Malam Qadr

Amalan-Amalan Lailatul Qadr ada dua jenis:

  • Amalan-Amalan yang dilaksanakan selama 3 malam dan disebut dengan amalan umum. [47]
  • Amalan-Amalan khusus setiap salah satu dari malam-malam Qadar: malam ke-19, 21 dan 23.[48]
Amalan-Amalan Lailatul Qadr
Amalan-Amalan Umum
  • Mandi
  • Dua rakaat salat, di setiap rakaatnya membaca Al-Fatihah dan 7 kali Al-Ikhlash atau surah At-Tauhid dan si pesalat seusai salatnya beristighfar 70 kali اَسْتَغْفِرُ اللّهَ وَاَتُوبُ اِلَیهِ
  • Menghidupkan malam-malam ini dengan beribadah dan tidak tidur
  • Salat 100 rakaat (di setiap dua rakaat satu salam)
  • Membaca doa «اَللهمَّ اِنّی اَمسیتُ لَکَ عَبداً» sampai akhir...
  • Membaca doa Jausyan Kabir
  • Membaca doaZiarah Imam Husain as
  • Menaruh Alquran di atas kepala dan bersumpah dengan 14 maksum.
Malam ke-19
  • Berzikir seratus kali «اَستَغفِرُاللهَ رَبّی و اَتوبُ اِلیهِ»
  • Berzikir seratus kali «اَلّلهُمَّ العَن قَتَلَةَ اَمیرِالمُؤمِنینَ»
  • Berdoa: «اَللّهُمَّ اْجْعَلْ فیما تَقْضی وَتُقَدِّرُ مِنَ الاَْمْرِ الْمَحْتُومِ» sampai akhir...
Malam ke-21
  • Membaca doa-doa yang berkaitan dengan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
  • Membaca doa: یا مُولِجَ اللَّیلِ فِی النَّهارِ sampai akhir
Malam ke-23
  • Membaca doa-doa yang berkaitan dengan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan..
  • Membaca beberapa Surah Al-Ankabut، Ar-Rum dan Ad-dukhan
  • Membaca seribu kali Surah Al-Qadr
  • Membaca doa-doa Jausyan Kabir, Makarimul Akhlaq dan Al-Iftitah
  • Mandi dipermulaan Malam dan mandi di akhirnya
  • Membaca doa: اَللَّهُمَّ امْدُدْ لِی فِی عُمُرِی وَ أَوْسِعْ لِی فِی رِزْقِی sampai akhir...
  • Membaca: اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِیمَا تَقْضِی وَ فِیمَا تُقَدِّرُ مِنَ الْأَمْرِ الْمَحْتُومِ sampai akhir...
  • Membaca doa: یا بَاطِنا فِی ظُهُورِهِ وَ یا ظَاهِرا فِی بُطُونِهِ sampai akhir...
  • Membaca doa keselamatan Imam Zaman as.


Tradisi dan Manasik

Kaum Syiah setiap tahunnya menyelenggarakan tradisi dan amalan-amalan Lailatul Qadar di masjid-masjid, lembaga-lembaga, tempat-tempat suci(haram), husainiyah-husainiyah dan rumah-rumah mereka dan sejak pertengahan malam hingga menjelang subuh atau sahur mereka menghidupkannya dengan beribadah dan tidak tidur. [49] Mengadakan majelis-majelis ceramah agama bagi para alim dan ulama, mendirikan salat berjamaah, membaca doa iftitah, Abu Hamzah Tsumali, Jausyan Kabir, dan membaca doa Alquran ditaruh di atas kepala secara bersama-sama juga termasuk hal-hal penting adari amalan-amalan yang dilakukan pada malam-malam Qadar secara umum.[50] memberi bukaan puasa, dan memberikan hidangan sahur, menunaikan Nazar dan kebaikan-kebaikan untuk orang-orang yang sudah meninggal, memberikan makan para fakir dan membebaskan para tawanan penjara juga merupakan tradisi sampingan pada malam ini. [51]

Dikarenakan syahadah Imam Ali as terjadi pada sepuluh terakhir bulan Ramadan para pengikut Syiah pada malam-malam ini juga sibuk berduka cita atasnya. [52]

Catatan Kaki

  1. Syakir, Syabi Bartar az Hezar Mah, hlm. 48; Qarisyi, Qamus Quran, jld. 5, hlm. 22-227.
  2. Thabathabi, Tafsir al-Mizan, jld.20, hlm.561.
  3. Qadamyari, Syabe Qadr dar Ghazaliyate Hafez, hlm.180.
  4. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld.27, hlm.188.
  5. Majidi Khameneh, Syabhaye Qadr dar Iran, hlm. 1.
  6. Turbati, Hamrah ba Ma'shuman dar Syabe Qadr, hlm. 33.
  7. Makarim Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh, jld. 27, hlm. 190.
  8. Makarim Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh, hlm. 178.
  9. Q.S. Al-Qadr, ayat2.
  10. Q.S. Ad-Dukhan, ayat1-6.
  11. Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalian, jld.5, hlm. 918.
  12. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.4, hlm. 54.
  13. Syaikh Thusi, Al-Tahdzib, jld. 4, hlm. 331, hadis. 101.
  14. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.25, hlm. 97, dinukil dari Abidin Zadeh, Imam wa Syabe Qadr, hlm.64.
  15. Hasan Zadeh, Mumid al-Himam, dinukil dari Mathlabi dan Shadiqi, Syabe Qadr dar Negahe Mufasiran, hlm.23.
  16. Majidi Khameneh, Syabhaye Qadr dar Iran, hlm. 19.
  17. Syakir, Syabi Bartar az Hezar Mah, hlm. 50.
  18. Anshari, Nuzuli Ijmali Quran, hlm. 227.
  19. Makarim Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh, hlm. 182.
  20. Sayid Radhi, Bazkhani Fadhail Syabe Qadr, hlm. 91.
  21. Abidin Zadeh, Emtiyazat wa Adabe Syabe Qadr, hlm. 85.
  22. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, jld.20, hlm. 561.
  23. Shaduq, Ma'ani al-Akhbar, hlm. 315, dinukil dari Sayid Radhi, Bazkhani Fadhail Syabe Qadr, hlm. 91.
  24. Sayid Radhi, Bazkhani Fadhail Syabe Qadr, hlm. 94.
  25. Kasyani, Tafsir Manhaj al-Shadiqin, jld.10, hlm. 308.
  26. Q.S. al-Qadr, ayat4.
  27. Wafa, Syabe Qadr dalam pandangan Alquran, hlm. 87.
  28. Wafa, Syabe Qadr dalam pandangan Alquran, hlm. 87.
  29. Abidin Zadeh, Imam wa Syabe Qadr, hlm.62.
  30. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld.27, hlm.190.
  31. اتفق مشایخنا [فی لیلة القدر] علی انها اللیلة الثالثة و العشرون من شهر رمضان. Shaduq, al-Khisal, hlm.519.
  32. Kulaini, Ushul Kāfi, jld. 2, hlm. 772.
  33. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, jld.20, hlm. 566.
  34. Al-Qasimi, Tafsir al-Qasimi, jld.17, hlm. 217.
  35. Ibnu Al-Miftah, Abdullah, Syarh al-Azhar, jld. 1, hlm. 57.
  36. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, jld.20, hlm. 566.
  37. Q.S. Al-Qadr, ayat 1 dan Syaikh Thusi, Al-Tahdzib, jld. 3, hlm. 85.
  38. Mukhtari dan Shadiqi, Ridha dan Muhsin, Ru'yate Hilal, jld. 4, hlm. 2972.
  39. Makarim Syirazi, Istiftaat Jadid, jld.3, hlm.103.
  40. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, hlm.192.
  41. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, hlm.192.
  42. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.95, hlm. 145, dinukil dari Turbati, Hamrah ba Ma'shuman dar Syabe Qadr, hlm.33.
  43. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.97, hlm. 9-10, dinukil dari Syakir, Syabi Bartar az Hizar Mah, hlm.52.
  44. Mustadrak al-Wasail, jld.7, hlm. 470, dinukil dari Turbati, Hamrah ba Ma'shuman dar Syabe Qadr, hlm.34.
  45. Turbati, Hamrah ba Ma'shuman dar Syabe Qadr, hlm.32.
  46. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.97, hlm. 4, dinukil dari Syakir, Syabi Bartar az Hizar Mah, hlm.52.
  47. Makarim Syirazi, Mafatih Nuin, Amalan-amalan Bulan, di bawah amalan-amalan umum malam-malam Qadar, hlm.759.
  48. Makarim Syirazi, Mafatih Nuin, Amalan-amalan Bulan, di bawah amalan-amalan khusus malam-malam Qadar, hlm.762.
  49. Majidi Khameneh, Syabhaye Qadr dar Iran, hlm. 21.
  50. Majidi Khameneh, Syabhaye Qadr dar Iran, hlm. 22.
  51. Majidi Khameneh, Syabhaye Qadr dar Iran, hlm. 22.
  52. Majidi Khameneh, Syabhaye Qadr dar Iran, hlm. 19.

Daftar Pustaka

  • Ibnu al-Miftah, Syarh al-Azhar, Al-Hijaz, Qahirah, tanpa tahun.
  • Huwaizi, Ali bin Jum’ah, Tafsir Nur Tsaqalain, Qum, Ismailiyan.
  • Shahifah Sajādiyah, Terjemah Muhsin Gharawiyan, Qum, Al-Hadi, 1378.
  • Thabthabai, Sayid Muhammad Husain, Mizān fi Tafsir Al-Qur'an, Qum, Ismailiyan, 1371.
  • Thabarsi, Fadhl Husain, Majma’ al-Bayān fi Tafsir Al-Qur'an, Tehran, Nasir Khosro, 1372.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan (Syaikh Thusi), Al-Tahdzib, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, 1365.
  • Farahidi, Khalil bin Ahmad, Kitab al-Ain
  • Faidh Kasyani, Mula Muhsin, Tafsir Shāfi, Terjemah Abdurahim Aqiqi Bahsyayesyi, Qum, Nuyad Islami, 1358.
  • Qarisyi, Ali Akbar, Qāmus al-Qurān, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, tanpa tahun.
  • Al-Qasemi, Muhammad Jamaluddin, Tafsir al-Qāsemi, Beirut, Tanpa tahun.
  • Qumi, Syaikh Abbas, Mafātih al-Jinan, tentang Amalan Malam-malam Lailatul Qadr
  • Kasyani, Mula Fathullah, Tafsir Minhaj al-Shādiqin, Tehran, Ilmi, 1340.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Ushul Kāfi, Terjemah Muhammad Baqir Kumrehi, Qum, USwah, 1375.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwār, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi
  • Muslim, Sahih Muslim, Dar al-Kutun al-Ilmiyah, Beirut.
  • Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, Nashir, Tafsir Nemuneh, Tehran, Dar al-Kitab Islamiyah, 1371.
  • Maliki Tabrizi, Mirza Jawad, Al-Murāqibat fi A’mal al-Sanah, Beirut, Dar al-I’tisham.
  • Ibnu Babuwaih, Muhammad Ali, Al-Khishal, Penyunting: Ghifari, Ali Akbar Jamiah Mudarisin Qum, 1362.