Buka menu utama

WikiShia β

Ali bin Muhammad al-Hadi as
'
مرقد امام هادی علیه السلام.jpg

Haram Askariyain (foto diambil dari depan) adalah tempat dimakamkannya Imam Ali al-Hadi as
Lahir 15 Dzulhijjah 212 H/827
Tempat lahir Sharya, Madinah
Imamah 34 tahun
Waktu syahid 3 Rajab 254 H/868 di
Tempat dimakamkan Samara, Irak
Imam sebelumnya Imam Muhammad al-Jawad as
Imam setelahnya Imam Hasan al-Askari as
Ayah Imam Muhammad al-Jawad as
Ibu Samanah Maghribiyah
Pasangan Salil
Putra Imam Hasan al-Askari as• Muhammad• Husain• Ja'far
Putri Aisyah atau Aliyah
Lakab Najib • Murtadha • Hadi • Naqi • 'Alim • Faqih • Amin • Thayyib
Imam-Imam Syiah
Ali, al-Hasan, al-Husain, al-Sajjad, al-Baqir, al-Shadiq, al-Kazhim, al-Ridha, al-Jawad, al-Hadi, al-Askari, al-Mahdi

Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa (bahasa Arab: ابوالحسن علي بن محمد بن علي بن موسی) lebih dikenal dengan sebutan Imam Hadi as (212 H/827-254 H/868) putra dari Imam Jawad as dan Imam kesepuluh umat muslim Syiah. Ia juga dikenali dengan nama Imam Ali al-Naqi as. Ia sejak tahun 220 H/835 sampai 254 H/868 yaitu selama 34 tahun memegang jabatan keimamahan atas umat Islam Syiah.

Ia banyak menghabiskan masa keimamahannya di kota Samara Irak dan berbarengan dengan masa kekhilafaan sejumlah khalifah dari Bani Abbasiyah diantaranya khalifah Mutawakkil Abbasi. Ia dimakamkan di kota Samara, yang pada tahun 2004 kubah makamnya rusak akibat sebuah aksi peledakan yang dirusak kembali pada tahun 2005 melalui aksi peledakan dengan modus yang sama.

Imam Hadi as banyak meriwayatkan hadis mengenai akidah, tafsir Alquran, fikih dan akhlak. Ziarah Jami'ah Kabirah salah satu doa ziarah yang masyhur dikalangan Syiah menurut keyakinan yang kuat juga diriwayatkan oleh Imam al Hadi as.

Dimasa keimamahannya, ia mendidik dan mencetak banyak murid yang kemudian menjadi ahli dan pakar dalam bidang agama. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah adalah Abdul Adzhim al-Hasani, Utsman bin Sa'id, Ayyub bin Nuh, Hasan bin Rasyid dan Hasan bin Ali Nashir.

Daftar isi

Nasab, Kunyah dan Lakab

Ayah Imam Hadi as yaitu Imam Jawad as adalah imam kesembilan umat Islam Syiah. Ibunya bernama Samanah [1]atau dalam riwayat lain Sausan [2]Ia memiliki putra yang kemudian menjadi imam penggantinya yaitu Imam Hasan Askari as, sehingga kemudian ia dan putranya dikenal dengan nama Askariyain. [3] Ia sejak tahun 233 H/847 atas perintah khalifah Abbasiyah menetap di Samara, sampai kemudian menghabiskan usianya juga di kota tersebut.

Imam Hadi as banyak memiliki gelar diantaranya: Najib, Murtadha, Naqi, Alim, Faqih, Amin dan Thayyib. [4]kuniyanya yang terkenal adalah Abu al-Hasan. [5]

Diantara imam yang memiliki kunyah yang sama adalah Imam Kazhim as dan Imam Ridha as, yaitu Abu al-Hasan. Untuk bisa membedakan antara ketiganya maka disebut Abu al-Hasan awal untuk Imam Kadzhim as, Abu al-Hasan Tsani (kedua) untuk Imam Ridha as dan Abu al-Hasan Tsalits (ketiga) untuk Imam Hadi as.

Ukiran yang terdapat dalam batu cincin Imam Hadi as "اللّه ربّی و هو عصمتی من خلقه‌" [6]Cincin lainnya berukiran kaligrafi yang bertuliskan, "حفظ العهود من الخلاق المعبود" [7]

Kelahirannya

Berdasarkan periwayatan dari Syaikh al-Kulaini, Syaikh Mufid dan Syaikh Thusi dan juga Ibnu Atsir, Imam Hadi as lahir pada pertengahan bulan Dzulhijjah tahun 212 H/827 di kawasan yang bernama Sharya di dekat kota Madinah. [8] Sebagian perawi lain yang meyakini tanggal kelahirannya pada hari kedua atau kelima bulan Rajab tahun yang sama. [9][10]

Istri dan Keturunannya

Istri Imam Hadi as bernama Salil. [11]Ia budak dari Naubah [Note 1] yang kemudian melahirkan Imam Hasan Askari as.

Mayoritas ulama Syiah menyebutkan Imam Hadi as memiliki 4 orang putra, namun mengenai jumlah putrinya para sejarahwan berbeda pendapat. Hadhini menulis, putra Imam Hadi as terdiri dari Imam Hasan Askari as, Muhammad, Husain dan Ja'far. Yang terakhir ini karena mengklaim diri sebagai imam pengganti ia dikenal dalam sejarah dengan sebutan Ja'far al-Kadzdzab (Ja'far yang pendusta). [12]

Mengenai keturunan Imam Hadi as, Syaikh Mufid menulis, "Penggantinya adalah Abu Muhammad Hasan sebagai Imam selanjutnya, sementara keturunan lainnya bernama Husain, Muhammad, Ja'far dan seorang putri bernama Aisyah."[13] Sementara Ibnu Syahr Ashub berpendapat putri Imam Hadi as bernama Aliyah. [14]Sebagian ulama Ahlusunnah juga berpendapat sama, bahwa Imam Hadi as memiliki 4 putra dan seorang putri. [15]

Masa Keimamahan

Imam Hadi as memegang tampuk keimamahan pada tahun 220 H/835. Dari sini umat Syiah khususnya dalam jumlah yang terbatas meragukan keimamahan Imam Hadi as. Syaikh Mufid [16] menulis semua pengikut Imam Jawad as kecuali orang-orang khusus yang sedikit jumlah meyakini pelanjut keimamahan adalah Imam Hadi as. Sedikit orang ini meyakini keimamahan berada ditangan Musa bin Muhammad (w. 296 H/909) yang dikenal dengan nama Musa Mubarqa'. Namun karena usianya tidak lama yang kemudian dimakamkan di Qom, pengikutnyapun beralih meyakini keimamahan Imam Hadi as. [17] Sa'ad bin Abdullah tokoh yang sebelumnya menolak keimamahan Imam Hadi as dan memilih memberikan baiatnya kepada Musa Mubarraqa', namun kemudian merujuk dari pendapatnya dan beralih mengakui keimamahan Imam Hadi as. [18]

Dalil Keimamahan

Menurut pendapat Thabrisi dan Ibnu Syahr Asyub, kesepakatan pendapat mayoritas umat Syiah adalah dalil yang paling kuat mengenai keabsahan keimamahan Imam Hadi as. [19]Syaikh Kulaini meriwayatkan demikian juga dalam sejumlah literatur Syiah klasik lainnya, bahwa sewaktu Imam Jawad as diminta ke Baghdad oleh khalifah Mu'tashim Abbasi, dan menganggap keselamatannya berada dalam keadaan bahaya, iapun memperkenalkan putranya Imam Hadi as sebagai penggantinya dihadapan pengikutnya. [20] Dengan adanya nash-nash yang jelas baik sewaktu menjabat keimamahannya maupun masa setelahnya, tidak ada lagi ruang bagi umat Syiah untuk meragukan keimamahan Imam Hadi as. [21]

Imam Hadi as dimasa keimamahannya, ia berbarengan dengan masa sejumlah kalifah dari Dinasti Abbasiyah, yang dapat dirincikan sebagai berikut:

  • Mu'tashim, saudara Ma'mun (218-227 H/833-842)
  • Watsiq putra Mu'tashim (227-232 H/842-846)
  • Mutawakkil saudara Watsiq (232-248 H/846-862)
  • Muntashir putra Mutawakkil (6 bulan)
  • Musta'in putra paman Muntashir (248-252 H/862-866)
  • Mu'taz putra lain dari Mutawakkil (252-255 H/866-869)

Imam Hadi as dimasa pemerintahan khalifah Mu'taz mencapai kesyahidannya dengan cara diracun di dalam rumahnya sendiri, dan jenazahnya dimakamkan di Samara. [22]

Sikap Mutawakkil kepada Imam

Sebelum Mutawakkil memegang posisi khalifah, kekhalifaan berada di tangan Ma'mun. Dimasa kekhalifaan Ma'mun, terjadi pertarungan sengit antara paham Mu'tazilah yang didukung rezim dengan kelompok Ahli Hadis. Dukungan rezim terhadap paham Mu'tazilah tersebut memberi angin segar bagi kelompok Alawiyyin untuk turut mendakwahkan ajaran Ahlulbait as. Namun dengan naiknya Mutawakkil di singgasana menggantikan Ma'mun, yang kemudian mendapat dukungan dari kelompok Ahli Hadis, ia pun menyatakan permusuhan terhadap paham Mu'tazilah dan Syiah, sehingga para pengikut kedua paham tersebut mendapat siksaan dan menjadi buronan rezim.

Abu al-Faraj Isfahani meriwayatkan kekejaman dan permusuhan khalifah Mutawakkil beserta perdana menterinya yang bernama Abdullah bin Yahya bin Khaqan kepada Ahlulbait as. Diantara bentuk permusuhan dan kebenciannya yang besar adalah merusak makam Imam Husain as termasuk menghukum dan menangkap siapapun yang menziarahi makam Imam Husain as. [23] Larangan tersebut ditetapkan karena kekhawatiran khalifah Ma'mun akan hubungan batiniyah yang bisa terjalin antara Imam Husain as dengan pecintanya, termasuk kecondongan masyarakat terhadap ajaran Syiah yang bisa memperkuat dukungan mereka kepada Imam Ahlulbait as.

Panggilan ke Samara

Mutawakkil pada tahun 233 H memutuskan memerintahkan Imam Hadi as untuk meninggalkan kota Madinah dan menetap di Samara, ibu kota pemerintahan Bani Abbasiyah saat itu, karena berita yang disebarkan pembenci Ahlulbait as menyebutkan, Imam Hadi as sedang menghimpun kekuatan untuk melakukan kudeta atas kekuasaan Mutawakkil. Ibnu Jauzi menulis bahwa Mutawakkil memanggil Imam Hadi as untuk juga menetap di Samara karena kekhawatirannya terhadap kecintaan dan kecenderungan rakyat terhadap Imam Hadi as. [24]

Syaikh Mufid meriwayatkan, "Imam Hadi as mengirimkan surat kepada Mutawakkil yang berisi bantahan dari laporan yang didapat oleh Mutawakkil mengenai tentangnya, bahwa berita tersebut adalah kedustaan. Mutawakkil kemudian mengirim surat balasan yang berisi penghormatan kepada Imam Hadi as dan memintanya untuk menuju Samara dan akan mendapatkan pengawalan khusus." [25]Syaikh Kulaini dan Syaikh Mufid menuliskan transkrip lengkap surat Mutawakkil tersebut dalam masing-masing kitabnya. [26]

Mutawakkil untuk menjemput Imam Hadi as di kota Madinah dan membawanya ke Samara merancang skenario sedemikian rupa agar masyarakat tidak menaruh curiga dan merestui kepergian sang Imam. Imampun terpaksa memenuhi permintaan Mutawakkil, dan menuju Samara beserta rombongan penjemput yang diutus Mutawakkil. Sejak kepergian Imam Hadi as, umat Syiah sadar dan mengetahui secara pasti, skenario dibalik penjemputan tersebut.

Ibnu Jauzi meriwayatkan dari Yahya bin Haritsma, "Saya pergi ke kota Madinah dan sewaktu memasukinya saya melihat orang-orang larut dalam kesedihan dan kebingungan karena telah terjadi sesuatu yang tidak mereka harapkan. Yang karena sedemikian banyaknya orang-orang melakukan hal tersebut sehingga terdengar tangisan mereka, dan tidak pernah sebelumnya kota Madinah terlihat dalam keadaan seperti itu." [27]

Khatib Baghdadi (w. 463 H/1070) menuliskan Ja'far Mutawakkil memindahkan Imam Hadi as dari Madinah ke Baghdad, kemudian dipindahkan lagi ke Samara yang kemudian menetap di kota tersebut selama 20 tahun 9 bulan hingga menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di tempat tersebut. [28]

Menetap di Samara

Imam Hadi as ketika memasuki kota Samara mendapat sambutan yang hangat dari penduduk setempat. Iapun kemudian menetap di rumah Khazimah bin Hazm. [29]

Sebagaimana yang diriwayatkan Syaikh Mufid, dihari pertama Imam Hadi as memasuki kota Samara, Mutawakkil memerintahkan agar ia menginap sementara di Khan Sha'alik [30]yang kemudian keesokan harinya baru ia diperbolehkan menetap di rumah yang ia kehendaki. Shalih bin Sa'id mengatakan, perintah Mutawakkil tersebut bermaksud untuk melecehkan Imam Hadi as, bahwa ia dikota tersebut sama halnya dengan para tamu lainnya. [31] Imam Hadi as pun menetap di kota tersebut selama lebih dari 20 tahun sampai akhir usianya. Syaikh Mufid menyinggung menetapnya Imam di kota Samara secara terpaksa dengan menulis, "Secara lahiriah Imam mendapatkan penghormatan dari khalifah, namun sesungguhnya itu hanyalah konspirasi dari Mutawakkil yang ia tidak berhasil dengan usahanya." [32]

Imam di Samara sangat disegani karena kepribadiannya yang menarik, akhlaknya yang tinggi dan sikap kerendahan hatinya. Siapapun yang berinteraksi dengannya akan menghormatinya, karena dengan penuh ketawadhuan Imam Hadi as akan memberikan penghormatan terlebih dulu terhadap siapapun yang bertemu dengannya. Selama menetap di Samara secara lahiriah Imam Hadi as hidup dalam ketenangan dan kenyamanan, karena dibawah pengawasan dan kontrol Mutawakkil Imam Hadi as tidak bisa berbuat apa-apa. Ia dikesankan oleh Mutawakkil layaknya seorang abdi disisinya, dengan tujuan untuk mengecilkan pandangan masyarakat mengenai kebesaran nama dan kemuliaan Imam Hadi as. [33]

Suatu ketika Mutawakkil mendapat laporan dari bawahannya bahwa di kamar Imam Hadi as terdapat sejumlah peralatan perang dan daftar nama-nama pengikutnya. Mutawakkil pun memerintahkan kepada sejumlah pasukan dan petugas keamanan untuk menciduk Imam Hadi as dan membawanya kehadapan Mutawakkil. Ketika kediaman Imam Hadi as diserbu pasukan Mutawakkil, ia dalam keadaan membaca Alquran. Tanpa penolakan ia dibawa menghadap Mutawakkil di istananya. Di singgasananya Mutawakkil menunggu Imam sembari ditangannya menggenggam cangkir berisi arak. Begitu pasukan yang membawa Imam memasuki istananya, Mutawakkil memerintahkan agar membawa Imam kesisinya. Iapun berkata kepada Imam sembari mengajukan gelas yang ada digenggamannya, "Minumlah ini". Imam Hadi as menjawab, "Saya tidak mungkin akan mengotori daging dan darahku dengan minuman haram." Mutawakkilpun menanggapi penolakan Imam tersebut dengan membacakan sebuah syair. Imampun menanggapinya balik dan mengatakan, "Saya juga akan membacakan sebuah syair." [34]

Mutawakkilpun mengizinkan sang Imam. Setelah mengumandangkan syairnya, semua yang hadir di majelis khalifah tersebut termasuk Mutawakkil sendiri bersimbah air mata. Ia menutupi wajahnya yang banjir uraian air mata. Iapun menumpahkan araknya dan memerintahkan agar pabrik-pabrik arak ditutup. Setelah itu ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa Imam kembali pulang kekediamannya dengan penuh penghormatan. [35]

Periode Muntashir

Pasca kekuasaan Mutawakkil, kekhalifaan jatuh ditangan putranya yang bernama Muntashir. Ini pula sebabnya tekanan rezim kepada Ahlulbait as terutama Imam Hadi as menjadi berkurang. Namun di kota-kota lainnya, tekanan penguasa setempat terhadap umat Syiah masih terus berlanjut. Dengan kebijakan yang sedikit moderat terhadap Ahlulbait as, kemajuan dakwah dan penyebaran ilmu-ilmu Ahlulbait kewilayah-wilayah lain menjadi menguat. Jika disebuah kota, seorang wakil Imam ditangkap penguasa setempat, dengan segera Imam Hadi as mengangkat penggantinya.

Pengenalan Ma'arif Islam

Orisinalitas Alquran dalam Pandanngan Imam Hadi as

Diantara penyimpangan mendasar komunitas Syiah Ghulat yang menjadi penyebab meruncingnya hubungan Syiah dengan mazhab Islam lainnya, adalah adanya keyakinan akan perubahan yang terjadi dalam Alquran. Bahwa Alquran di sisi umat Islam sudah tidak orisinil lagi, dan telah terjadi penyimpangan dan perubahan didalamnya. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah sendiri terdapat sejumlah riwayat yang mengindikasikan pembenaran telah terjadinya perubahan di dalam Alquran. Dalam menghadapi penyimpangan akidah tersebut, Imam-imam Syiah, khususnya Imam Hadi as sendiri telah memberikan bantahan-bantahan dan dalil-dalil yang kuat mengenai kebatilan pandangan tersebut. Imam Hadi as memiliki risalah yang secara terperinci menegaskan akan orisinalitas Alquran yang diriwayatkan oleh Ibn Syu'ba Harrani. Ia menyebutkan bahwa keutuhan Alquran menjadi tolok ukur kebenaran atau tidaknya sebuah hadis yang mengatasnamakan Nabi saw atau Maksumin as. Alquran pun dalam penjelasan Imam Hadi as adalah satu-satunya kitab yang diterima oleh semua kelompok Islam, sehingga apa yang terkandung didalam Alquran bisa menjadi penyelesai masalah jika terjadi perbedaan pandangan di tengah-tengah umat Islam. [36]

Diriwayatkan oleh 'Ayyasyi yang berkata, "Abu Ja'far dan Abu Abdillah as pernah berkata, tidak bersumber dari kami, kecuali apa-apa yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya." [37]

Imam Hadi as dan Masalah Alquran sebagai Makhluk

Salah satu persoalan pelik yang menimpa dunia Islam Sunni diawal kurun ketiga yang menyebabkan munculnya berbagai kelompok adalah perbedaan pendapat mengenai huduts dan qadimnya Alquran, menyoal apakah Alquran itu makhluk atau bukan. Umat Syiah dengan petunjuk Aimmah as dalam perdebatan ini diminta diam dan tidak turut campur. Dalam salah satu surat yang ditujukan kepada salah seorang Syiahnya, Imam Hadi as memerintahkan agar dalam masalah ini jangan mengeluarkan pendapat apapun dan jangan berpihak pada satupun pandangan, baik itu pendapat yang menyebutkan Alquran itu makhluk atau yang menyebutnya bukan makhluk. [38]

Perintah Imam Hadi as tersebut atas pengikutnya, agar mereka tidak terjebak pada perselisihan antara kelompok Ahlusunnah yang dapat menimbulkan kerugian pada mereka.

Ilmu Kalam

Perbedaan pendapat yang muncul ditengah-tengah komunitas Syiah, menyulitkan langkah dakwah Ahlulbait as. Umat Syiah disejumlah wilayah terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok. Terlebih lagi, permusuhan dari kelompok diluar Syiah, merupakan faktor-faktor penyebab melemahnya umat Syiah. Diriwayatkan perselisihan dikalangan Syiah meruncing dengan terbentuknya kelompok-kelompok yang menisbatkan diri dengan sahabat-sahabat Imam Shadiq as, seperti Zurarah bin A'yan, Ammar Shabathi dan Ibnu Abi Ya'fur dengan menamakan kelompok mereka dengan sebutan Zurariyah, Ammariyah dan Ya'furiyah. [39]

Kehadiran Aimmah as menjadi penengah dikalangan Syiah atas berbagai ikhtilaf yang terdapat diantara mereka, dengan memberikan jawaban atas syubhat-syubhat yang muncul. Diantara perbedaan pendapat yang sering muncul adalah dalam bahasan kalam, seperti mengenai Tasybih dan Tanzih. Ketika kedua perbedaan pendapat tersebut muncul, Aimmah as menegaskan akan kebenaran tanzih. Perbedaan pendapat antara Hisyam bin Hakam dan Hisyam bin Salim dalam masalah Tasybih dan Tanzih menyebabkan merebaknya perselisihan dikalangan Syiah, sehingga Aimmah as pun turun tangan untuk menyelesaikan dengan memberikan jawaban-jawaban dan pendapat-pendapatnya. Dalam masalah ini lebih dari 21 riwayat yang secara detail dan terperinci yang dinukilkan dari Imam Hadi as yang memberikan ketegasan dan penekanan akan masalah tanzih. [40]

Masalah akidah Syiah berkenaan dengan Jabr dan Ikhtiyar, juga mendapat penjelasan terperinci dari Imam Hadi as. Berdasarkan ayat Alquran dan syarah (penjelasan) dari hadis "لا جبر و لا تفویض بل امر بین الأمرین‌" yang dinukil dari Imam Shadiq as, Imam Hadi as memberi penjelasan dan pendapat mengenai keyakinan mazhab Syiah akan masalah Jabr dan Tafwidh ini. [41] Bahkan dari semua riwayat yang dinukilkan dari Imam Hadi as mayoritas didominasi oleh hadis-hadis yang berkenaan dengan masalah Jabr dan Tafwidh. [42]

Doa'dan Ziarah

Dari Imam Hadi as juga diriwayatkan sejumlah doa dan bacaan ziarah yang memuat pesan-pesan tarbiyah dan ilmu-ilmu yang mendalam mengenai ma'arif Islam. Kandungan doa-doa tersebut selain memuat lantunan pengharapan dan hajat yang ditujukan kepada Allah swt, juga memuat kutipan-kutipan mengenai pesan-pesan politik dan sosial, yang memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan politik dan sosial umat Islam Syiah. Ia menyampaikan pemahaman yang khusus kepada para pengikutnya secara sistematis, contohnya adalah doa Ziarah Ghadiriyah yang secara langsung dijelaskan oleh Imam as.

Ziarah Jami'ah Kabirah

Ziarah Jami'ah Kabirah tidak hanya berisikan lantunan bahasa yang indah dan puitis namun juga mengandung ma'arif Islam yang sangat luas, sehingga memiliki kedudukan yang tinggi dan perhatian yang besar dari umat Syiah. Ziarah ini diajarkan oleh Imam Hadi as atas permintaan para Syiahnya.

Perhatian kepada Umat Syiah

Imam Hadi as menjalin hubungan dengan para Syiahnya diberbagai wilayah melalui Lembaga Perwakilan yang dibentuknya, sebagaimana yang juga dilakukan imam-imam sebelumnya. Mayoritas pecinta dan pendukung Imam Hadi as bermukim di Iran kala itu.

Lembaga Perwakilan di Masa Imam Hadi as

Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
Tauhid Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah
Furuk Tawasul • Syafa'at • Tabarruk •
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amru bainal Amrain •
Kenabian
Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran
Imamah
Keyakinan-keyakinan Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah
Para Imam
  1. Imam Ali
  2. Imam Hasan
  3. Imam Husain
  4. Imam Sajjad
  5. Imam Baqir
  6. Imam al-Shadiq
  7. Imam al-Kazhim
  8. Imam al-Ridha
  9. Imam al-Jawad
  10. Imam al-Hadi
  11. Imam al-Askari
  12. Imam al-Mahdi
Ma'ad
Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirat • Tathayur al-Kutub • Mizan
Permasalahan Terkemuka
Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja Taklid

Semakin besar tekanan Khulafa Abbasiyah atas umat Syiah, justru ajaran-ajaran madrasah Ahlulbait as semakin menyebar di negeri-negeri Islam. Imam Hadi as menjalin hubungan dengan Syiahnya yang tersebar di Irak, Yaman, Mesir dan negeri-negeri Islam yang lain. Lembaga perwakilan yang dibentuk Imam Hadi as lah yang memperkuat dan memperlancar hubungan antara Imam Hadi as dengan para Syiahnya. Para wakil tersebut bertugas untuk mengumpulkan khumus dan mengirimkannya kepada Imam as. Wakil-wakil Imam tersebut juga membantu persoalan yang dihadapi umat Syiah di negeri mereka berada, seperti isu-isu kalam dan persoalan fikih. Dr. Jasim Husain menulis: Disebutkan dalam catatan sejarah lembaga perwakilan Imam terdapat dibeberapa kota berikut yang dibagi menjadi 4 wilayah:

Para wakil tersebut menjalin hubungan dengan Imam melalui surat yang diantar oleh kurir yang bisa dipercaya. Yang kemudian menyampaikan kepada umat Syiah ditempat mereka berada mengenai ilmu-ilmu Islam, baik kalam maupun persoalan fikih. Ali bin Ja'far salah seorang wakil Imam Hadi as yang bermukim di Haminiyah salah satu desa di Baghdad. Oleh mata-mata kerajaan, aktivitas dan keberadaannya dilaporkan kepada Mutawakkil yang kemudian memerintahkan agar ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Setelah mendapat hukuman pemenjaraan sekian lama, iapun dibebaskan, dan Imam Hadi as memerintahkan agar ia ke Mekah dan iapun menetap di kota tersebut sampai akhir usianya. [43]Hasan bin Abdurrabbah, salah seorang wakil Imam yang lain, yang pasca wafatnya digantikan oleh Abu Ali bin Rasyid yang ditunjuk langsung oleh Imam Hadi as sendiri yang memberinya tugas sebagai wakil pengganti. Dinukil dari Kassyi yang menyebutkan Ismail bin Ishaq Naisyaburi memberi kesaksian bahwa Ahmad bin Ishaq ar-Razi adalah juga salah seorang wakil Imam Hadi as yang lain. [44]

Imam Hadi as dan Komunitas Syiah Iran

Mayoritas Muslim Syiah pada kurun awal adalah penduduk Kufah. Sehingga jika ada seorang tokoh yang diberi gelar Kufi, adalah untuk menunjukkan bahwa ia adalah orang Syiah. Sementara di masa Imam Baqir as dan Imam Shadiq as, lakab Qomi dibelakang nama seseorang menunjukkan ia adalah salah seorang sahabat Aimmah as. Pada masa Imam Hadi as, Qom menjadi kota terpenting bagi umat muslim Syiah di Iran dan memiliki hubungan yang intens dengan Imam Hadi as. Jika di Kufah pada masa Imam Hadi as menjadi kota tempat bermunculan dan berkembangnya paham-paham yang menyimpang dan ghuluw yang mengatasnamakan Syiah maka Qom menjadi pusat penyebaran ajaran Ahlulbait as yang menentang kelompok Syiah Ghulat tersebut dan memberikan konfirmasi atas ajaran Ahlulbait as yang semestinya. Disamping kota Qom, kota Aba, Awa dan Kasyan adalah juga menjadi kota-kota pendidikan dan penyebaran Mazhab Syiah, Hal ini diketahui dari penggalan riwayat yang menyebutkan nama Muhammad bin Ali Kasyani pada bab tauhid yang mengajukan pertanyaan kepada Imam Hadi as. [45]

Dimasa Imam Hadi as kota Qom juga menjadi sumber finansial bagi kebutuhan-kebutuhan dakwah dan kebutuhan umat Syiah secara umum. Muhammad bin Dawud al-Qomi dan Muhammad Thalhi disebutkan sebagai sosok penting yang menjadikan Qom sebagai kota pengumpul khumus terbesar. Keduanya juga berperan besar dalam menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dan permintaan bimbingan dari masyarakat Qom kepada Imam Hadi as. [46]

Mendapat penegasan dan anjuran dari Imam Hadi as untuk menziarahi makam Imam Ridha as di kota Masyhad, warga Qom dan Awa pun rajin melakukan ziarah ke makam suci Imam tersebut. [47] Hal ini menjadi perekat jalinan emosional antara Syiah Qom dengan Aimmah as, termasuk juga Syiah di kota-kota lain di Iran. Meskipun pada masa itu, tetap kebanyakan dari kota-kota di Iran yang dikarenakan berada di bawah pengaruh dari Dinasti Umayyah dan Abbasiyah adalah termasuk sebagai kota-kota yang bermayoritas bermazhab Sunni dan Syiah menjadi warga minoritas. Abu Maqatil Dailami salah seorang sahabat Imam Hadi as, menulis kitab-kitab hadis dan kalam mengenai masalah Imamah. [48] Kota Dailam, sekarang dibagian timur Ghilan di penghujung akhir kurun kedua Hijriah merupakan salah satu kota pemukiman umat Syiah terbesar. Mereka yang menetap di Irak dan berasal dari Dailami bisa dipastikan bahwa mereka penganut Syiah. Dari lakab yang digunakan sahabat-sahabat Imam Hadi as maka dapat dikenali asal negeri mereka sehingga diketahui pula bahwa di kota tersebut terdapat komunitas Syiah. Seperti misalnya, Basyar bin Basyār an-Naisyaburi, Fath bin Yazid Jurjani, Ahmad bin Ishaq ar-Razi, Husain bin Sa'id Ahwazi, Hamadan bin Ishak Khurasani dan Ali bin Ibrahim al-Thaliqani. Dari nama-nama sahabat Imam Hadi as tersebut diketahui bahwa ajaran mazhab Ahlulbait as kala itu tersebar dihampir semua kota di Iran. Khusus kota Jurjan dan Naisyabur sejak abad keempat Hijriah menjadi diantara kota keilmuan dan pusat penyebaran Syiah. Diriwayatkan bahwa sahabat-sahabat Imam Hadi as juga ada yang berasal dari Qazwin. [49]

Di kota Isfahan meskipun saat itu mayoritas penduduknya Sunni bermazhab Hanbali namun juga terdapat komunitas Syiah dan sejumlah ulama Syiah, diantaranya adalah Ibrahim bin Syaibah Isfahani, walaupun sebenarnya ia asli dari Kasyan, namun karena telah lama menetap di Isfahan maka gelar Isfahani pun melekat padanya. Sebaliknya, sahabat Imam Hadi as lainnya, yaitu Ali bin Muhammad Kasyani meski gelarnya Kasyani namun ia berasal dari Isfahan. [50] Diriwayatkan bahwa Abdurrahman adalah salah seorang sahabat Imam Hadi as yang berasal dari Isfahan. Ia bertemu dengan Imam Hadi as di Samara dan tertarik dengan ajaran-ajaran yang disampaikan keturunan Nabi Muhammad saw tersebut, yang kemudian sekembalinya ke Isfahan ia menjadi penyebar mazhab Syiah dan menyampaikannya kepada masyarakat setempat. [51] Riwayat lain menyebutnya bahwa Imam Hadi as pernah menulis surat yang ditujukan kepada wakilnya di Hamedan, yang menunjukkan komunitas Syiah juga terdapat di kota tersebut. [52]

Imam Hadi as dan Syiah Ghulat

Diantara aktivitas Imam Hadi as dalam mengemban amanah sebagai imam ummat adalah berhadapan dengan penyimpangan Syiah Ghulat. Tidak sedikit dari kaum Ghulat justru berasal dari sahabat-sahabat Imam sendiri. Ali bin Haskah guru dari Qasim Syahrani Yaqthani salah seorang pembesar Syiah Ghulat adalah sebelumnya murid dari para Imam maksum as. [53]Hasan bin Muhammad bin Baba Qomi dan Muhammad bin Musa Syariqi adalah murid dari Ali bin Haskah. Sementara diantara tokoh Syiah Ghulat yang mendapat laknat dari Imam Hadi as adalah Muhammad bin Nashir Namiri dan Faris bin Hatim Qazwini. Diriwayatkan Imam Hadi as mengirim surat yang menunjukkan penolakannya terhadap Ibnu Baba Qomi dengan menulis, "Ia menganggap bahwa saya telah mengangkat dirinya sebagai wakil dan pintu ilmuku. Sungguh setan telah menyesatkannya".[54] Kepada Syiahnya Imam Hadi as berkata, "Jika kalian memiliki kemampuan, bunuh dia." [55] Muhammad bin Nashir Namiri malah sampai mendakwahkan diri sebagai Nabi, dan pengikutnya dinamakan Naimiriyah atau Nashiriyah. Sementara Imam Hadi as mereka daulat memiliki sifat ketuhanan. Diantara penyimpangan mereka lainnya adalah membolehkan terjadinya pernikahan antar mahram maupun pernikahan sejenis. Ibnu Nashir Namiri mengklaim diri bahwa dia adalah Nabi yang diutus oleh Imam Hadi as. Klaim ini didikung oleh Muhammad bin Musa bin Hasan bin Furat, sedangkan para pengikut kelompoko ini disebut Nashiriyah. Mereka adalah kelompok yang paling masyhur dikalangan Syiah Ghulat, dan dalam perkembangan selanjutnya kelompok ini pun terbagi-bagi menjadi beberapa sekte. [56]

Diantara tokoh Syiah Ghulat lainnya yang terkenal adalah Abbas bin Shidqah, Abu al-Abbas Tharfani (Thabrani) dan Abu Abdullah al-Kindi yang dikenal dengan sebutan Syah Rais. [57]

Imam Hadi as tidak hanya mengingkari penyimpangan Faris bin Hatim namun juga memerintahkan kepada siapapun Syiahnya yang mampu untuk membunuhnya, bahkan memberikan jaminan kebahagiaan ukhrawi dan surga bagi yang bisa melakukannya. Seorang Syiah yang bernama Junaid diriwayatkan berhasil membunuh Ibn Hatim. Ahmad bin Muhammad Sayyari, salah seoang mantan murid Imam lainnya yang kemudian berkhianat dan menyebarkan akidah yang menyimpang. [58] Ia dikenal dikalangan ulama ahli rijal dan menyebunya sebagai Ghulat yang ekstrim dan memiliki akidah yang rusak. Dalam kitab al-Qiraāt, dia disebut sebagai sumber periwayatan hadis-hadis yang menyebutkan telah terjadi tahrif Alquran.

[[Husain bin Ubaidillah Muharrar] adalah salah satu tokoh Syiah Ghulat yang merupakan sahabat Imam Ali al-Hadi as.[59] Dan ketika para penentang mengusir para pengikut Syiah Ghulat dari kota Qom, ia pun termasuk orang yang terusir.[60]

Kesyahidan Imam al-Hadi as

Imam al-Hadi as meneguk cawan syahadah, akibat racun yang dibubuhkan atas perintah Mu'taz Abbasi. [61] Syaikh Mufid dan perawi lainnya meriwayatkan Imam al-Hadi as syahid pada bulan Rajab setelah 20 tahun 9 bulan menetap di Samara. [62] Sebagian sumber menyebutkan ia syahid pada hari ketiga Rajab. [63]Berdasarkan riwayat lainnya versi syahidnya justru terjadi pada tanggal 25 atau 26 Jumadil Akhir. [64]

Berita kesyahidannya sangat melukai hati para pecintanya. Proses pemakamannya dibanjiri oleh para Syiahnya, yang spontan memukul-mukuli wajah mereka, sebagai petanda kedukaan yang mendalam. Ketika jenazah suci Imam Hadi as akan dimandikan para Syiahnya membawa keluar tubuh suci tersebut dari rumahnya, kemudian meletakkannya di depan rumah [Musa bin Bagha]]. Ketika Mu'taz Abbasi mengetahui kabar tersebut, ia ingin menyalati jenazah Imam as. Oleh sebab itu, ia memerintahkan untuk meletakkan jenazah suci Imam as diatas tanah. Kemudian ia menyalatinya, namun salat jenazah telah dilakukan sebelumnya oleh Imam Hasan Askari as dan para Syiahnya. Setelah itu, jezanah Imam Hadi as dimakamkan disalah satu rumah dimana ia menjadi tahanan rumah semasa hidupnya. Dalam proses pemakaman tersebut masyarakat yang hadir sangat membludak, sehingga menyulitkan gerak Imam Hasan Askari as. Disaat itu seorang pemuda membawakan seekor kuda untuk Imam as dan masyarakat dapat mengiringi jenazah suci Imam al-Hadi as sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir. [65]

Murid dan para Sahabat

Berdasarkan tulisan Syaikh Thusi, jumlah total murid Imam Hadi as dan para perawi yang menukil riwayat darinya berjumlah 185 orang. Berikut ini, diantara murid dan sahabat Imam Hadi as yang terkenal:

Abdul Adzhim Hasani

Abdul Adzhim al-Hasani berdasarkan tulisan Syaikh Thusi termasuk sahabat Imam Hadi as dan Imam Hasan Askari as, namun sebagian literature lainnya menyebutkan ia adalah sahabat Imam Jawad as dan Imam Hadi as. Ia dikenal sebagai sosok yang saleh, abid dan alim. Selain itu ia juga ahli fikih dan merupakan sahabat kepercayaan Imam Hadi as. Abu Hamad Razi mengatakan: "Di Samara saya menemui Imam Hadi as dan menanyakan beberapa masalah kepadanya mengenai halal dan haram dan iapun menjawabnya. Dan ketika saya pamit, ia memesankan kepada saya, "Hai Hamad, jika ditempat yang engkau tinggali engkau menemukan masalah agama yang tidak bisa kau pecahkan, maka bertanyalah kepada Abdul Adzhim, dan sampaikan salamku kepadanya." [66]

Utsman bin Sa'id

Utsman bin Sa'id adalah seorang murid Imam Hadi as yang sejak berusia 11 tahun telah menimba ilmu langsung kepada Imam Hadi as. Hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama, Imam Hadi as telah menggelari Utsman bin Sa'id sebagai tsiqah dan amin, gelaran khusus yang ditujukan kepada individu yang dapat dipercaya dan amanah. [67]

Ayyub bin Nuh

Ayyub bin Nuh seorang yang terpercaya, ahli ibadah, dan bertakwa. Ia dikenal oleh para ulama rijal sebagai seseorang yang saleh dan ahli ibadah. Ia adalah wakil Imam Hadi as dan Imam Hasan Askari as dan meriwayatkan banyak hadis dari Imam Hadi as. [68]

Hasan bin Rasyid

Hasan bin Rasyid memiliki kunyah Abu Ali dan merupakan sahabat dari Imam Jawad as dan Imam Hadi as. Syaikh Mufid menyebutnya sebagai fakih kenamaan dan sangat mendalam keilmuannya mengenai halal dan haram, tidak ditemukan padanya aib dan kesalahan yang membuat musuh-musuhnya dapat merendahkannya. Syaikh Thusi juga melaporkan bahwa Hasan bin Rasyid adalah diantara wakil Imam Hadi as, dan diantara keduanya sering terjadi korespondensi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umat. [69]

Hasan bin Ali Nashir

Syaikh Thusi menyebutkan bahwa Hasan bin Ali Nashir adalah salah seorang sahabat Imam Hadi as. Ia adalah ayah dari kakek Sayid Murtadha dari pihak ibu. [70] Mengenai kepribadiannya, Sayid Murtadha menyifatkan, "Kedudukan dan keunggulannya dalam ilmu, kesalehan dan fikih, lebih terang dari sinar matahari. Ialah yang menyebarkan Islam di Dailam dan membimbing masyarakat setempat yang larut dalam kemaksiatan dan dosa menuju hidayah, dan dengan doanya mereka semua kembali kepada kebenaran. Dia memiliki akhlak yang sangat mulia dan diterima semua kalangan." [71]

Kerusakan parah kubah Haram Askariyain akibat ledakan bom kelompok takfiri

Upaya Pengrusakan ke Haram Imam Hadi as

Dalam kurun terakhir, terdapat upaya kelompok ekstrim Salafi dan Takfiri yang hendak menghancurkan pemakaman Imam Hadi as. Diantara serangan yang paling merusak pada 22 Februari 2005. Al-Qaedah mengaku bertanggungjawab atas aksi peledakan Haram Imam Hadi as yang menyebabkan kerusakan parah pada kubah makam tersebut, termasuk merusak menara Haram tersebut yang terbuat dari bahan emas. [72] Dua tahun setelahnya pada 13 Maret 2007, kembali terjadi peledakan bom yang merusak total menara yang tersisa dari upaya pengrusakan sebelumnya. [73] Pada 6 Juni 2014 kembali terjadi penyerangan yang dilakukan ISIS dengan niat hendak melakukan penghancuran total Haram Imam Hadi as dan Imam Hasan Askari as, namun berkat kerjasama warga setempat, pengelola Haram dan pihak militer Irak, upaya tersebut berhasil digagalkan. [74]

Renovasi Haram Askariyain di Samara pasca peledakan bom

Renovasi Haram Imam Hadi as

Setelah terjadi pengrusakan kubah dan menara Haram, dilakukan renovasi yang menelan biaya 100 juta dollar. Pembuatan kubah dimulai pada tahun 2010 di Qom yang didesain oleh Sayid Jawad Syahrestani. Kubah tersebut dibuat dari 23 ribu batu bata dengan sepuhan emas. Pusara makam Imam Ridha as juga dibuat kembali dengan biaya yang ditanggung oleh Ayatullah Sayid Ali Sistani. Pembuatan tersebut menelan biaya menggunakan sekitar 70 Kg emas, 4.500 Kg perak, 1.100 Kg tembaga dan 11 ton katu jati dengan taksiran mampu bertahan selama 300 tahun. [75]

Telaah Lebih Lanjut

  • Qarasyi, Baqir Syarif, Zendeghi Imam Ali al-Hadi as, terj. Sayid Hasan Islami, Qom, Daftar Tablighat Islami, 1371 S.
  • Al-'Athardi, Azizillah, Musnad al-Imam al-Hadi as, Qom, al-Mu'tamar al'Alimi lil Imam ar-Ridha as, 1410 H.
Didahului oleh:
Imam Muhammad al-Jawad as
Imam ke-10 Syiah Imamiyah
220 H-254 H
Diteruskan oleh:
Imam Hasan al-Askari as

Catatan Kaki

  1. Mufid, hlm. 635.
  2. Naubakhti, hlm. 135.
  3. Ibnu Jauzi, Tadzkirat al-Khawāsh, jld. 2, hlm. 492.
  4. Irbili, Manāqib, jld. 4, hlm. 432.
  5. Irbili, Manāqib, jld. 4, hlm. 432.
  6. Dakhil, jld. 2, hlm. 209.
  7. Bihār al-Anwār, jld. 50, hlm. 117.
  8. Mufid, al-Irsyād, hlm. 635.
  9. Kaf'ami, Misbāh, hlm. 512.
  10. Syaikh Abbas Qummi, jld. 3, hlm. 1835.
  11. Dakhil, Aimmatunā, jld. 2, hlm. 209.
  12. Khasibi, al-Hidāyah al-Kubrā, hlm. 313.
  13. Al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 649.
  14. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld. 4, hlm. 433.
  15. Ibnu Hajar, al-Shawā'iq al-Muhriqah, hlm. 207.
  16. Mufid, al-Irsyād, hlm. 638.
  17. Naubakhti, Furuq al-Syiah, hlm. 134.
  18. Asy'ari Qomi, al-Maqālāt wa al-Firaq, hlm. 99.
  19. Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 20.
  20. Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 381.
  21. Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 382.
  22. Irbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 4, hlm. 40.
  23. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, hlm. 478.
  24. Ibnu Jauzi, Tadzkirah al-Khawāsh, jld. 2, hlm. 493.
  25. Mufid, al-Irsyād, hlm. 644.
  26. Mufid, al-Irsyād, hlm. 644.
  27. Ibnu Jauzi, Tadzkirah al-Khawāsh, jld. 2, hlm. 492.
  28. Al-Khatib al-Baghdadi, Tārikh Baghdād, jld. 12, riset Mustafa Abdul Qadir 'Atha, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiah, 1417 H/1997 M, hlm. 56.
  29. Mas'udi, Itsbāt al-Washi, hlm. 200.
  30. Tempat penginapan sementara para musafir.
  31. Mufid, al-Irsyād, hlm. 648.
  32. Mufid, al-Irsyād, hlm. 649.
  33. Thabarsi, A'lām al-Wari, jld. 2, hlm. 126.
  34. Al-Mas'udi, Murūj al-Dzahab wa Ma'ādin al-Jauhar, jld.4, Qom: Mansyurat Dar al-Hijrat, 1404 H/1363 S, hlm. 11.
  35. Ibnu Jauzi, Tadzkirah al-Khawāsh, jld. 2, hlm. 497.
  36. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld. 4, hlm. 435.
  37. Majlisi, Bihār al-Amwār, jld. 2, hlm. 244.
  38. Shaduq, Amāli, hlm. 438.
  39. Rijāl Kasyi, hlm. 265.
  40. Musnad al-Imam al-HadiaAs, hlm. 84-94.
  41. Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 198-213.
  42. Atharudi, Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 198-227.
  43. Rijāl Kasyi, hlm. 607-608.
  44. Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 320.
  45. Shaduq, al-Tauhid, hlm. 101.
  46. Atharudi, Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 45.
  47. Shaduq, 'Uyūn Akhbār al-Ridha, jld. 2, hlm. 260.
  48. Atharudi, Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 317.
  49. Thusi, Rijāl Kasyi, hlm. 526.
  50. Atharudi, Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 352.
  51. Atharudi, Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 123.
  52. Thusi, Rijāl Kasyi, hlm. 610.
  53. Atharudi, Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 518.
  54. Kasyi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, jil. 2, hal. 805.
  55. Atharudi, Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 520-521.
  56. Nurbakhti, Furuq al-Syiah, hlm. 136.
  57. Rijāl Kasyi, hlm. 522.
  58. Musnad al-Imam al-Hadi as, hlm. 323.
  59. Rijal Thusi, hal. 386.
  60. Rijal Kassyi, hal. 512
  61. Dalāil al-Aimmah, hlm. 409.
  62. Mufid, al-Irsyād, hlm. 649.
  63. Naubakhti, Furuq al-Syiah, hlm. 134.
  64. Irbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 4, hlm. 7.
  65. Mas'udi, terj. Itsbāt al-Washiah, hlm. 456.
  66. Mustadrak al-Wasāil, jld. 17, hlm. 321.
  67. Thusi, Rijāl Thusi, hlm. 389-401.
  68. Syaikh Thusi, al-Ghaibah, jld. 1, hlm. 349.
  69. Syaikh Thusi, al-Ghaibah, jld. 1, hlm. 350.
  70. Syaikh Thusi, Rijāl, hlm. 385.
  71. Sayid Murtadha, Masail al-Nāshirāt, hlm. 63.
  72. Berita serangan atas Haram Askariyain.
  73. Berita serangan kedua atas Haram Askariyain.
  74. Berita serangan atas Samara Haram Askariyain.
  75. Berita pembuatan Haram Askariyain.
  1. Naubah, nama wilayah yang luas di bagian selatan Mesir.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Jauzi, Yusuf bin Qazaugali, Tadzkirah al-Khawāsh, Qom, Laila, 1426 H
  • Ibnu Hajar Haitsami, Ahmad bin Muhammad, al-Shawā'iq al-Muhriqah 'ala Ahl al-Rafidha wa al-Dhalāl wa al-Zindiqah, Maktabah al-Qāhira, tanpa tahun.
  • Ibnu Syahr Asyub, Abi Ja'far Muhammad bin Ali bin Syahr Asyub, Manāqib Ali Abi Thalib, Beirut, Dar al-Adhwa, 1421 H.
  • Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, Beirut, Muassasah al-Ilmi lil Mathbu'at, 1987 M.
  • Irbili, Abi al-Hasan Ali bin Isa bin Abi al-Fath Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah, Qom, Majma' Jahani Ahlul Bait, 1426 H.
  • Asy'ari Qomi, Sa'ad bin Abdlillah Abi Khalaf Asy'ari Qomi, al-Maqālāt wa al-Furq, Tehran, Intisyarat 'Ilmi wa Farhanggi, 1361 S.
  • Khushaibu, Husain bin Hamadan Khushaibi, al-Hidāyah al-Kubrā, Lebanon, Muassasah Balagh, 1991 M.
  • Dakhil, Ali Muhammad Ali Dakhil, Aimmatunā Sirah al-Aimmah Itsna Asyara, Qom, Intisyarat Sitar, 1429 H.
  • Sayid Murtadha, Ali bin Husain bin Musa, Masāil al-Nāshirāt, Tehran, Muassasah al-Huda, 1418 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan Thusi, al-Ghaibah, Dar al-Ma'arif Islami, cet. I, 1411 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Husain Qomi, al-Tauhid, Qom, Jami'ah Mudarrisin, cet. I, 1389 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Husain Qomi, 'Uyun Akhbār al-Ridha as, Tehran, Nasyr Jahan, cet. I, 1387 S.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan Thabarsi, A'lām al-Wara, Qom, Setareh, 1417 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan Thusi, Qom, Jami'ah Mudarrisin, cet. I, 1415 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan Thusi, Qom: al-Mu'tamar, al-Alim lil Iman ar-Ridha as, 1410 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub Kulaini, Ushul al-Kāfi, Lebanon, Dar al-Ta'arif lil Matbu'at. 1998 M.
  • Al-Mas'udi, Ali bin al-Husain bin Ali Mas'udi, Itsbāt al-Washiah lil Imam Ali bin Abi Thalib, Qom, Mansyurat Radhi, tanpa tahun.
  • Al-Mas'udi, Ali bin al-Husain bin Ali Mas'udi, Itsbāt al-Washiah lil Imam Ali bin Abi Thalib, terj. Muhammad Jawad Najafi, Tehran, *Intisyarat Islamiyah, 1362 S.
  • Nuri, Mirza Husain, Mustadrak al-Wasāil wa Mustanbith al-Masāil, Beirut, Ali al-Bait, 1408 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir bin Muhamamd Taqi, Bihār al-Anwār, Dar Ahya al-Turats al-'Arabi, Beirut, 1403 H, cet. II.
  • Mas'udi, Murūj al-Dzahab wa Ma'ādin al-Jauhar, jld. 4, Qom: Mansyurat Dar al-Hijrat, 1404 H.
  • Mas'udi, Ali bin al-Husain, Murūj al-Dzahab, terj. Abu al-Qasim Payandeh, Tehran" 'Ilmi Farhanggi, 1374 S.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man, al-Irsyād, terj. Sa'idi Khurasani, Tehran, Intisyarat Islamiyah, 1380 S.
  • Naubakhti, Hasan bin Musa, Furuq al-Syiah, terj. Muhammad Jawad Masykur, Tehran, Markaz Intisyarat 'Ilmi wa Farhanggi, 1361 S.