Buka menu utama

WikiShia β

Hasyim bin Abdu Manaf

Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah (Bahasa Arab:هاشم بن عبد مناف) adalah kakek kedua Rasulullah Saw dan seorang pejabat kabilah Quraisy di Mekah, semua keturunan Bani Hasyim sampai kepadanya. Setelah Hilf al-Muthayyibin (perjanjian yang dilakukan oleh Bani Abdu Manaf dan beberapa kabilah Quraisy), dua jabatan Siqayah (memberi air kepada jamaah haji) dan Rifadah (memberi makanan kepada jamaah haji) sampai kepadanya.

Dikatakan bahwa Hasyim adalah orang pertama Quraisy yang mengadakan perjalanan bisnis di musim panas dan musim dingin. Dia memiliki peran penting dalam stabilitas dan keamanan rakyat Quraisy masyarakat Mekah, sehingga ketika dia meninggal dunia, Quraisy merasa khawatir akan suku-suku Arab lainnya yang akan menguasai kabilah-kabilah lain. Memberi makan di saat masyarakat Mekah kelaparan dan undang-undang pembagian keuntungan dengan fakir miskin, adalah salah satu tindakan yang membuatnya terkenal.

Daftar isi

Silsilah dan keluarga

Silsilah keluarga Nabi saw
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Qushay
wafat: 400 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdul Uzza
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdu Manaf
wafat: 430 M
 
 
 
 
 
 
 
Abd al-Dar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Asad
 
 
 
Muththalib
 
 
Hasyim
wafat: 464 M
 
 
 
Nawfal
 
'Abd Shams
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Khuwaylid
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdul Muththalib
wafat: 497 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Al-'Awwam
 
Khadijah Sa
 
Hamzah
 
 
Abdullah
lahir: 545 M
 
 
 
Abu Thalib
 
Abbas
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Zubair
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Nabi Muhammad saw
lahir: 571 M
 
Ali as
llahir: 599 M
 
'Aqil
 
Ja'far
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Fatimah binti Muhammad sa
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Muslim
 
Abdullah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Hasan as
lahir: 625 M
 
 
 
 
 
 
Husain as
lahir: 626 M
 
 
Zainab sa
lahir: 627 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Nama aslinya adalah Amr. [1] Lahir di Mekah dan dikatakan bahwa dia adalah anak terbesar Abdu Manaf. [2] Ada beberapa pendapat tentang julukannya: Abu Nadhlah, [3] Abu Zaid, atau Abu Asad. [4]

Hasyim, setelah ayahnya, mendapatkan kehormatan dan reputasi yang besar. [5] Dia memiliki wajah yang bersih dan bersinar, [6] dan dalam suku Quraisy ia merupakan orang besar dan terhormat dari sisi keturunan dan akhlak kepribadian. [7] Mulia, ramah dan murah hati, sehingga namanya dalam kemurahan hati tercantum sebagai sebuah pribahasa dalam kebaikan. [8] Hasyim memiliki empat saudara laki-laki yang bernama Abd Syams, Muthalib, Naufal dan Abu Amru, dan memiliki enam saudara perempuan. Ibunya Atikah binti Murrah bin Hilal. [9]

Dalam satu cerita masyarakat umum terkenal bahwa Hasyim dan saudaranya, Abdu Syams, mereka lahir dalam keadaan kembar siam dan kemudian dipisahkan dengan pisau cukur dan dengan demikian sebagian mengatakan bahwa akan terjadi perselisihan pada anak keturunan mereka berdua. [10] (Bani Umayyah dari keturunan Abd Syams) dalam cerita lain, perselisihan antara keluarga Hasyim dan keluarga Umayyah mulai terjadi sejak keramahan dan kemurahan hati Hasyim, Umayah bin Abd Syams (keponakan Hasyim) merasa iri dan terjadi perseteruan antara mereka. [11]

Gelar

Dia digelari dengan nama Hasyim ketika di salah satu tahun, kaum Quraisy menghadapi kelaparan. Hasyim, untuk menyelasaikan masalah ini, pergi ke Syam (atau Palestina) memerintahkan untuk memasak roti yang banyak, kemudian roti-roti itu ditaruh di atas onta dan dibawa ke kota Mekah. Di sana mereka menghancurkan dan membasahi roti, menyembelih onta dan dimasak dan membuat kenyang penduduk Mekah. Setelah itu, dia dijuluki Hasyim ( penghancur dan pemotong) [12] Hasyim, dikarenakan menciptakan solidaritas dan jalinan dengan para pemimpin suku dan raja-raja tetangga , ia dijuluki dengan (pemilik kebiasaan Quraisy) ilaf Quraisy" . [13]

Dia juga dijuluki dengan Amr al-Ula karena keistimewaan-keistimewaan dan sifat-sifat utama serta ketinggiannya. [14] Nama lainnya adalah Abu al-Sya’as al-Syajiyat. [15] Badran adalah sebuah gelar yang diberikan masyarakat kepada Hasyim dan saudaranya Muthalib. Galar ini dikarenakan keindahan dan ketampanan mereka berdua. [16] (Iqdah al-Nadhar) yang berarti emas juga sebagai gelar Hasyim dan saudara-saudaranya ( yaitu Abdu Syams dan Muthalib dan Naufal) [17]

Mujirun (Para pelindung) atau Mujizun (para pemberi izin) adalah gelar lain untuk Hasyim dan saudara-saudaranya; karena mereka memiliki kemurahan hati dan lebih memiliki kebanggaan dan kepemimpinan dari pada orang-orang Arab lainnya. Selain itu, Hasyim juga membuat kontrak perjanjian dengan raja-raja Syam, Rum dan Ghasan dan saudara-saudaranya membuat perjanjian dengan para pemimpin Habasyah, Iran dan Yaman, dengan demikian, mereka mengambil surat perjanjian keamanan untuk kabilahnya, Quraisy, demi keamanan dan kemudahan mereka dalam melakukan bisnis di kawasan mereka. Dan menurut pandangan lain, karena Allah swt memberi imbalan melalui kemiskinan dan keadaan krisis di Quraisy, oleh karena itu, mereka disebut dengan Mujabbirun (orang-orang yang memberi imbalan). [18]

Istri–istri dan Anak-anak

Hasyim mempunyai beberapa istri dan dari mereka memiliki empat anak laki-laki dan lima perempuan. [19] Nama anak laki-lakinya adalah Syaibah terkenal dengan Abdu al-Mutthalib, Asad, Abu Shaifi, Nadhlah[20] [21] dan anak-anak perempuannya bernama al-Syafa’, Khalidah, Ruqayah, Habibah[22] dan Dhaifah. [23]

Nabi Saw adalah keturunan dari Abdul Muthalib dan Fatimah ibu Imam Ali As juga adalah putri Asad bin Hasyim. Generasi Hasyim hanya tersisa melalui Abdul Muhalib[24] tetapi generasi Nadhlah, Abu Shaifi dan Asad tidak tersisa sama sekali. [25] Tentu saja Abi Shaifi memiliki anak bernama Shaifi meninggal dunia ketika masih kecil dan juga dua anak laki-laki yang bernama Umar dan Dhahak, begitu juga Nadhlah mempunyai anak bernama Arqam. [26] Tetapi peneliti silsilah Arab menganggap bahwa generasi Abi Shaifi dan Nadhlah telah punah, bisa disimpulkan bahwa generasi mereka tidak tersisa. [27] Dan untuk Asad anak selain Fatimah binti Asad, Ibu Imam Ali as tidak disebut oleh mereka. [28]

Kedudukan dan Tindakan

Memberikan makanan dan minuman kepada jamaah haji

Sepeninggal Abdu Manaf, Hasyim dan saudara-saudaranya (Abd Syams, Muthalib, Naufal) dengan anak-anak pamannya (yaitu anak Abd al-Dar) terjadi pertengkaran atas kepemilikan jabatan dan posisi Ka'bah. Setiap kelompok melakukan perjanjian dengan suku Quraisy (Hilf Al-Muthayyibin). Akhirnya tanpa terjadi pertengkaran kedua kelompok berdamai dan dua jabatan Siqayah (memberi air kepada jamaah haji) dan Rifadah ( memberi makanan kepada jamaah haji) sampai ke tangan Hasyim.

Hasyim dalam memperingati manasik haji dengan tekun melaksanakan dua tugas yang dia pegang. Setiap tahun di musim haji di tengah-tengah orang Quraisy dia berdiri dan berkhutbah, mengajak orang-orang Quraisy untuk menghormati para jamaah haji, dan dia mengharap kepada mereka agar menyiapkan makanan selama musim haji untuk para jamaah haji yang harus tinggal di kota Mekah. Hasyim sendiri menyisihkan harta kekayaannya untuk hal ini, dan orang-orang Quraisy pun memberikan harta mereka sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing kepada Hasyim untuk digunakan para jamaah haji . [29]

Dia di musim haji, membuat kolam-kolam air yang terbuat dari kulit di dekat Ka’bah dan dia penuhi dengan air yang manis dari sumur-sumur kota Mekah dan dia bagikan pada para jamaah haji. Begitu juga dari tanggal 7 Dzulhijjah sampai jamah haji kembali dari Mina, dia memberi makanan para jamah haji di Mekah, Mina, Masy’ar al-Haram dan Arafah dan dia juga menjamu para jamaah haji dengan roti hangat, daging, minyak dan kurma.[30] Begitu juga hal-hal yang dia lakukan adalah dia membuat pintu Ka’bah dari Emas. [31]

Dia menggali dua sumur di kota Mekah, untuk memudahkan tugas pembagian air kepada jamaah haji. Sumur Bazzar yang dia gali di pintu masuk Syib Abi Thalib, dia wakafkan untuk umum. Begitu juga sumur Sajlah yang hingga beberapa waktu yang cukup lama digunakan oleh suku Mat’am bin Adi bin Nufal. [32]

Perkembangan dan Jalinan Perjanjian-perjanjian Bisnis

Menurut catatan para sejarawan, Hasyim adalah orang pertama yang melakukan perjalanan dagang di musim dingin (dengan tempat tujuan Yaman atau Habasyah atau Yaman dan Habasyah) dan musim panas (dengan tempat tujuan Syam) bagi orang-orang Quraisy. [33] Sebelum itu orang-orang Quraisy hanya melakukan transaksi di kota Mekah dan kota Mekah hanya sebagai tempat lalu lalang para pedagang selain Arab dan orang-orang pasar yang memasarkan barang-barang mereka. Hasyim sebelum itu telah sering melakukan perjalan ke Yaman dan Syam untuk melakukan transaksi, dan mengatur perdangan orang-orang Quraisy. Dan dengan dukungannya dalam satu tahun orang-orang Quraisy melakukan perjalanan dagang di dua musim, musim panas dan musim dingin. [34] Ia juga menulis surat untuk penguasa Habasyah agar mengizinkan orang-orang Quraisy bisa melakukan transaksi di daerah yang berada di bawah naungannya. [35]

Hasyim, begitu juga melakukan perjanjian dengan para pemimpin dan pembesar suku-suku Arab, agar orang-orang Quraisy dengan aman bisa melewati kawasan mereka dan di sisi lain kafilah Quraisy membawa barang-barang mereka tanpa memberikan bayaran. [36]

Tampaknya, Hasyim adalah pendiri tradisi ini bahwa setiap pengusaha Quraisy harus membagi keuntungannya kepada orang miskin. Dengan kebijakan ini semua orang miskin menjadi kaya seperti orang-orang kaya. Kebijakan ini berlanjut sampai kemunculan Islam. Kesimpulannya, tidak ada suku di antara suku-suku Arab seperti suku Quraisy yang makmur dan mulia. [37] Orang-orang Quraisy dengan panduan Hasyim dan kerjasama dengannya telah memiliki kehidupan yang nyaman. [38] Hasyim adalah faktor penting kemuliaan dan kebesaran serta keamanan orang-orang Quraisy dan merekapun sangat tergantung padanya, sampai-sampai ketika dia meninggal dunia, mereka khawatir suku-suku Arab akan menguasai mereka. [39]

Wafat

Masjid dan tempat ziarah Hasyim bin Abdu Manaf

Hasyim di perjalanan terakhirnya, bersama dengan empat puluh pengusaha dari Quraisy pergi menuju Syam. Ketika sampai di Gaza dia sakit dan mininggal Dunia. Rombongan Hasyim setelah menguburkannya di Gaza, mereka membawa hartanya untuk anak-anaknya. [40]

Saat ini masjid dan tempat ziarah Hasyim bin Abd Manaf di daerah al-Daraj berada di utara kota tua Gaza. Di kota Gaza untuk menghormati leluhur Rasulullah Saw juga disebut dengan Gaza Hasyim. [41]

Kebanyakan referensi sejarah tidak meyebutkan umur Hasyim ketika meninggal dunia, menurut Baladzuri Hasyim meninggal dunia pada usia 25 atau 20 tahun. [42] Dengan melihat setatus sosial Hasyim dan jumlah anak-anaknya maka jauh dari benak pikiran, Ibn Sa’ad salah satu rombongan Hasyim bernama Abu Rahm bin Abd al-‘Uzi al-‘Amiri bin Lu’ai mengatakan usia Hasyim 20 tahun dan mengatakan bahwa dia yang menyampaikan semua harta Hasyim kepada anak-anaknya. [43] Sepertinya mereka salah dalam menghitung angka usia Hasyim.

Hasyim telah menentukan bahwa Mutthalib adalah washinya, dan kemudian Bani Hasyim dan Bani Mutthalib senantiasa bersatu. [44]

Catatan Kaki

  1. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.1; Thabari, Tārikh, jld.2, hlm. 251.
  2. Ibnu Atsir, al-Kāmil, jld.2, hlm. 16; bandingkan: Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.138; Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 75.
  3. Baladzuri, Ansab al-Asyrāf, hlm.64.
  4. Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 80.
  5. Ya’qubi, Tārikh, jld.1, hlm. 242.
  6. Ibnu Hajar Asqalani, al-Ishabah, jld.3, hlm. 96.
  7. Ba’uni, Jawāhir al-Mathālib, jld.1, hlm. 26.
  8. Silahkan rujuk:Tsa’alibi, Tsimār al-Qulub, hlm. 609.
  9. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.111-112; Baladzuri, Ansab al-Asyrāf, jld.1, hlm.61.
  10. Ya’qubi, Tārikh, jld.1, hlm. 244.
  11. Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 76.
  12. Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 76; Ibnu Habib, al-Munammaq, hlm.219; Ibnu Jauzi, al-Muntazam, jld.2, hlm. 210.
  13. Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 76; Baladzuri, Ansab al-Asyrāf, jld.1, hlm.60; Tsa’alibi, Tsimār al-Qulub, hlm. 115-116.
  14. Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 76; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld.15, hlm. 210; Halabi, al-Sirah al-Halabiah, jld.1, hlm. 7.
  15. Silahkan rujuk: Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.150-148; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld.15, hlm. 212.
  16. Baladzuri, Ansab al-Asyrāf, jld.1, hlm.60; Ibnu Atsir, al-Kāmil, jld.2, hlm. 17.
  17. Halabi, al-Sirah al-Halabiah, jld.1, hlm. 7.
  18. Silahkan rujuk: Thabari, Tārikh, jld.2, hlm. 252; Ibnu Katsir, jld.2, hlm.253; Shalihi Syami, Subulul Huda, jld.1, hlm.269; Halabi, al-Sirah al-Halabiah, jld.1, hlm. 7.
  19. Silahkan rujuk: Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.112-113; Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 79-80.
  20. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.113.
  21. Jamharatu Ansāb al-Arab, Matan, hlm.14.
  22. Subulul Huda, jld.1, hlm.271.
  23. Al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.107.
  24. Jamharatu Ansāb al-Arab, Matan, hlm.14.
  25. Ibid.
  26. al-Thabaqāt al-Kubra, jld.1, hlm. 69.
  27. Ya’qubi, Tārikh, jld.1, hlm. 244.
  28. Jamharatu Ansāb al-Arab, Matan, hlm.14.
  29. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.149; Baladzuri, Ansab al-Asyrāf, jld.1, hlm.60; Ya’qubi, Tārikh, jld.1, hlm. 242; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld.15, hlm. 209-211.
  30. Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 78; Ya’qubi, Tārikh, jld.1, hlm. 242; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld.15, hlm. 210-211.
  31. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld.15, hlm. 211.
  32. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.149.
  33. Contoh, lihat: Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.143; Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 75; juga silahkan rujuk: Ya’qubi, Tārikh, jld.1, hlm. 242.
  34. Fakhrur Razi, al-Tafsir al-Kabir, jld.32, hlm.100; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld.15, hlm. 202; Haqqi Brusui, Tafsir Ruh al-Bayān, jld.10, hlm. 519.
  35. Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 78.
  36. Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 78; Ya’qubi, Tārikh, jld.1, hlm. 243.
  37. Rujuk: Fakhrur Razi, al-Tafsir al-Kabir, jld.32, hlm.100; Haqqi Brusui, Tafsir Ruh al-Ma’āni, jld.10, hlm. 519.
  38. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld.15, hlm. 202.
  39. Ya’qubi, Tārikh, jld.1, hlm. 244.
  40. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.1; Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 79; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld.15, hlm. 210.
  41. Masjid Hasyim di web site Gaza.
  42. Baladzuri, Ansab al-Asyrāf, jld.1, hlm.63.
  43. Al-Thabaqāt al-Kubra, jld.1, hlm. 65.
  44. Ibnu Saad, al-Thabaqāt, jld.1, hlm. 79.

Daftar pustaka

  • Ba’uni, Muhammad bin Ahmad, Jawāhir al-Mathālib fi Manāqib al-Imām Ali bin Abi Thālib As, cetakan Muhammad Baqir Mahmudi, Qum, 1415 H.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyrāf, cetakan Muhammad Hamidullah, Mesir, 1959.
  • Fakhrur Razi, Muhammad bin Umar, al-Tafsir al-Kabir atau Mafātih al-Ghaib, Beirut, 1421/2000.
  • Halabi, Ali bin Burhanuddin, al-Sirah al-Halabiah, Beirut, 1400 H.
  • Haqqi Brusui, Ismail, Tafsir Ruh al-Ma’āni, Beirut, 1405/1985.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Abdul Hamid, Syarh Nahjul Balāghah, cetakan Muhammad Abulfadhl Ibrahim.
  • Ibnu Atsir, al-Kāmil.
  • Ibnu Habib,Muhamamd, al-Munammaq fi Akhbār Quraisy, Beirut, 1405/1985.
  • Ibnu Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahābah, cetakan Ali Muhammad Bajawi, Beirut, 1412/1992.
  • Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, cetakan Musthafa Saqa, Ibrahim Abyari, dan Abdul Hafizh Syilli, Kairo, 1355H/1936.
  • Ibnu Jauzi, Abdurrahman, al-Muntazham fi Tārikh al-Muluk wa al-Umam, cetakan Muhammad Abdul Qadir Atha dan Musthafa Abdul Qadir Atha, Beirut, 1412/1992.
  • Ibnu Katsir, Abul Fida’ Ismail bin Umar, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Beirut, 1407/1986.
  • Ibnu Saad, al-Thabaqāt al-Kubra, riset: Muhammad Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan pertama, 1410/1990.
  • Shalihi Syami, Muhammad bin Yusuf, Subulul Huda wa al-Rasyad fi Sirati Khairil Ibād, cetakan Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Muawwadh, Beirut, 1414/1993.
  • Thabari, Tārikh, (Beirut).
  • Tsa’alibi, Abdul Mulk bin Muhammad, Tsimār al-Qulub, cetakan Muhammad Abulfadhl Ibrahim, Kairo, 1384H/1965M.
  • Ayati, Muhammad Ibrahim, Tārikh Islam, revisi: Dr. Abul Qasim Gorji, cetakan ketujuh, Tehran,Universitas Tehran, 1385S.
  • Ibnu Hazm, (Wafat 456), Jamharatu Ansāb al-Arab, Riset: Komite Ulama, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan pertama, 1403/1983.
  • Ya’qubi, Tārikh al-Ya’qubi, Beirut, Dar Shadir, Tanpa Tanggal.