Buka menu utama

WikiShia β

Hamzah bin Abdul Mutthalib

Sahabat
Hamzah bin Abdul Mutthalibhttp://id.wikishia.net/view/Majma_Jahani_Ahlulbait_As
Info pribadi
Julukan Abu Ya'la
Lakab Sayyid al-Syuhada • Asadullah
Garis keturunan Bani HasyimQuraisy
Kerabat termasyhur Nabi sawAbdul MuththalibAbu Thalib
Muhajir/Anshar Muhajir
Tempat Tinggal MekahMadinah
Wafat/Syahadah Sabtu 7 Syawal, kawasan Uhud
Penyebab Wafat /Syahadah Syahid di Perang Uhud di tangan Wahsyi, budaknya Jubair bin Muth'im
Tempat dimakamkan Kawasan Uhud
Informasi Keagamaan
Memeluk Islam Tahun ke-2 atau ke-6 setelah Bi'tsah
Hijrah ke Madinah

Hamzah bin Abdul Muththalib (bahasa Arab: حَمزة بن عَبدالمُطَّلِب) dengan gelar Asadullah, Asadu Rasulillah dan Sayyid al-Syuhada adalah paman Nabi saw dan merupakan salah seorang syahid perang Uhud. Hamzah adalah pendukung utama dakwah Nabi, bahkan diriwayatkan meskipun ia belum masuk Islam, ia selalu menjaga Nabi saw dari gangguan kaum Musyrikin. Ia termasuk pembesar dan tokoh suku Quraisy. Oleh karena itu, setelah Hamzah masuk Islam, gangguan kepada Nabi Muhammad saw yang dilancarkan oleh kaum musyrikin semakin berkurang.

Ia berada di syi'bi Abi Thalib bersama kaum muslimin dan turut hadir dalam perang Badar dan perang Uhud. Pada tahun 3 Hijriah ia gugur sebagai syahid di perang Uhud.

Daftar isi

Nama, Gelar dan Julukan

Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Nabi Muhammad saw merupakan salah satu syuhada perang Uhud. Gelarnya adalah Abu 'Amarah dan Abu Ya’la. [1] Ibunya Halah binti Uhaib (Wuhaib) bin Abdi Manaf bin Zuhrah. [2] Kata Hamzah bermakna singa[3] atau cerdas.[4]

Ia dijuluki dengan Asadullah atau Asadu Rasulillah. [5] Berdasarkan hadis dari Nabi Muhammad saw, gelar ini mendapat sokongan Ilahi meskipun setelah zaman kesyahidannya dan ia terkenal dengan julukan sayidus syuhada. [6] atau orang yang pemahamannya tajam. [7] Kata Hamzah sendiri artinya adalah singa. [8]

Silsilah keluarga Nabi saw
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Qushay
wafat: 400 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdul Uzza
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdu Manaf
wafat: 430 M
 
 
 
 
 
 
 
Abd al-Dar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Asad
 
 
 
Muththalib
 
 
Hasyim
wafat: 464 M
 
 
 
Nawfal
 
'Abd Shams
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Khuwaylid
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdul Muththalib
wafat: 497 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Al-'Awwam
 
Khadijah Sa
 
Hamzah
 
 
Abdullah
lahir: 545 M
 
 
 
Abu Thalib
 
Abbas
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Zubair
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Nabi Muhammad saw
lahir: 571 M
 
Ali as
llahir: 599 M
 
'Aqil
 
Ja'far
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Fatimah binti Muhammad sa
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Muslim
 
Abdullah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Hasan as
lahir: 625 M
 
 
 
 
 
 
Husain as
lahir: 626 M
 
 
Zainab sa
lahir: 627 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Kelahiran

Berdasarkan riwayat yang mengatakan bahwa Tsuwaibah, budak Abu Lahab menyusui Nabi Muhammad saw dan Hamzah, [9] dan juga penegasan Nabi saw bahwa Hamzah adalah saudara susuannya,[10]maka Hamzah maksimal 2 tahun lebih besar dari umur Nabi Muhammad saw. Sebagian menyebutkan bahwa perbedaan umur ini hingga 4 tahun[11] yang mana jika didasarkan pada keraguan para peneliti tentang menyusunya Nabi saw dari Tsuwaibah, [12] bahkan boleh jadi lebih banyak. Oleh karena itu, kelahiran Hamzah kemungkinan 2 hingga 4 tahun sebelum Tahun Gajah, tahun kelahiran Nabi saw.

Sebelum Masuk Islam

Hamzah ikut serta pada perang Fijar dan Hilf al-Fudhul. Ia, Abu Thalib dan juga paman-paman Nabi yang lain juga hadir pada acara pertunangan Khadijah. Bahkan sebagian sumber mengatakan bahwa meskipun perbedaan usianya dengan Nabi saw tidak begitu lama dan akad nikah dibacakan oleh Abu Thalib, namun dalam acara peminangan itu hanya disebutkan nama Hamzah. [13]

Pada tahun ketika Quraisy mengalami kekeringan yang sangat mencekik, dan karena mengikuti usulan Nabi Muhammad saw untuk menolong Abu Thalib yang memiliki banyak anak, Hamzah bersedia menjadi orang tua asuh Ja’far. [14] Thabari menyebutkan nama Abbas sebagai ganti nama Hamzah. [15]

Hamzah adalah seorang pemburu dan rajin pergi berburu. .[16] Pada zaman jahiliyah ia adalah salah seorang anak Abdul Muththalib yang menduduki kepala suku Quraisy dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi sehingga sebagian orang mengikat janji dengannya. [17]

Setelah Masuk Islam

Pada suatu hari ketika Nabi saw mengajak keluarga dekatnya untuk masuk Islam pada Yaumu Indzar, Hamzah juga hadir. [18]

Semenjak Hamzah belum masuk Islam, ia seperti Abu Thalib selalu menjaga Nabi Muhammad dari gangguan kaum musrik Quraisy. Berdasarkan sebagian nukilan sejarah, Hamzah membalas penghinaan Abu Lahab terhadap Nabi Muhammad saw. [19]


Memeluk Islam

Pada suatu hari, Abu Jahal berada di dekat gunung Shafa dan bertemu dengan Nabi Muhammad saw kemudian mengatakan perkataan buruk kepadanya. Nabi tidak membalas perkataan buruk itu. Ketika itu ada seorang pelayan disana dan melihat kejadian itu. Tak lama setelah itu, Hamzah datang ke Mekah sepulang dari berburu. Kebiasaan Hamzah adalah melakukan tawaf di sekitar Ka’bah ketika pulang kembali ke Mekah. Kemudian ia mendekati ke kumpulan orang-orang Quraisy dan berbincang-bincang dengan mereka. Orang Quraisy menyukai Hamzah karena ia adalah seorang ksatria. Pada saat Hamzah menemui orang-orang yang dikenalnya, pelayannya mendatanginya dan berkata: Tuan, ketika Anda tidak ada, tahukah yang dikatakan Abu Jahal kepada keponakan Anda? Hamzah menghampiri Abu Jahal yang sedang duduk di masjidil Haram di tengah-tengah khalayak.

Hamzah mencucukkan anak panahnya ke atas kepala Abu Jahal sehingga kepala Abu Jahal pun luka hingga darah mengalir dari kepalanya. Kemudian Hamzah berkata: "Kau telah menghina Muhammad, memangnya kau tidak tahu bahwa aku sudah memeluk agama yang dibawa Muhammad? Aku mengucapkan apa-apa yang ia ucapkan". Bani Mahzum berdiri untuk menolong Abu Jahal tapi Abu Jahal berkata: Biarkan Hamzah, karena aku telah menghina kemenakannya. Inilah yang menjadikan Hamzah masuk Islam. Setelah mengetahui bahwa Muhammad memiliki pelindung yang kuat dan akan menjaganya dari bahaya seperti Hamzah, kaum Quraisy mengurangi ganguan dan penindasan mereka kepada Nabi. [20]

Berdasarkan riwayat dari Imam Sajjad as, yang menjadikan Hamzah masuk Islam adalah karena emosinya ketika ia menyaksikan kaum Musyrikin melempar kotoran unta ke kepala Muhammad saw. [21] Meskipun demikian, sebagian peneliti berkeyakinan bahwa keislaman Hamzah semenjak awal berdasarkan pengetahuan dan ma’rifahnya. [22]

Ia memeluk Islam pada tahun ke-2 atau ke-6 Bi'tsah dan sebelum Abu Dzar masuk Islam. [23] Keislaman Hamzah memiliki pengaruh positif bagi keluarga Bani Hasyim. [24]

Pengetahuan kita tentang Hamzah setelah ia masuk Islam hingga hijrah tidak begitu banyak. Setelah Nabi Muhammad saw memulai dakwah secara terang-terangan, Hamzah juga berdakwah secara terbuka. [25] Ia tetap berada di sisi Nabi saw dalam berbagai kesempatan seperti ketika Nabi saw tidak hijrah ke Habasyah. [26]

Selama tiga tahun kaum Musyrikin mengepung Bani Hasyim di Syi'b Abi Thalib, Hamzah bersama dengan kaum Muslimin yang lainnya. [27]

Pada baiat Aqabah yang kedua, pada tahun ke-12 Bi'tsah, ketika masyarakat Madinah mengadakan perjanjian dengan Nabi Muhammad saw, Hamzah bersama dengan Ali bin Abi Thalib menjaga Nabi saw sehingga kaum musyrikin tidak mengganggu Nabi. [28]

Hijrah ke Madinah

Artikel Utama: Hijrah

Hamzah pada perjanjian persaudaraan kaum Muslimin di Mekah, mengikat persaudaraan dengan Zaid bin Haritsah dan pada hari Uhud Zaid diangkat sebagai washinya. [29] Pada perjanjian Madinah, sebelum perang Badar ia mengikat perjanjian persaudaraan dengan Kultsum bin Hadam. [30]

Nabi Muhammad memberikan panji perang pertama kali pada bulan Ramadhan tahun pertama Hijrah kepada Hamzah supaya memimpin sariyyah untuk melawan karavan perdagangan kaum Quraisy dari Syria ke Mekah. Hamzah bersama dengan 30 orang Muhajirin dan Anshar sampai di ‘Aish di pinggiran laut dan di sana berhadap-hadapan dengan 300 penunggang kuda yang dikomandani oleh Abu Jahal. Dengan perantara Majdi bin Amru Juhani yang mengadakan perjanjian damai dengan dua kelompok, maka peperangan pun diurungkan dan kedua pasukan kembali ke tempatnya masing-masing. [31]

Hamzah juga sebagai pembawa panji perang dalam perang Abwa atau Waddan, Dzul ‘Usyairah dan Bani Qainuqa’. [32]

Dalam perang Badar, Hamzah berada dalam front terdepan dalam menghadapi pasukan kaum Musyrikin. [33] Nabi Muhammad saw mengirim Hamzah, Ali bin Abi Thalib as, Ubaidah bin Harist bin Abdul Muththalib untuk melakukan pertarungan duel dengan pemuka kaum Musyrikin. Berdasarkan laporan sejarah yang berbeda-beda, Utaibah bin Rabi’ah atau Syaibah terbunuh ketika berduel dengan Hamzah. [34]

Pada peristiwa Sadd al-Abwab, juga diisyaratkan nama Hamzah. Seolah-olah Hamzah adalah salah seorang yang juga memiliki pintu ke arah masjid Nabawi. Nabi memerintahkan semua rumah kecuali rumah Ali as untuk dikunci, Hamzah menanyakan sebabnya dan Nabi Muhammad saw menjawab bahwa hal itu adalah perintah dari Allah swt. [35]

Meskipun dari sebagian riwayat kita memahami bahwa peristiwa ini berhubungan dengan masa setelah Fathu Makkah, namun riwayat pertama lebih kuat. [36] Menjelang perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah, Hamzah adalah diantara orang-orang yang mengusulkan supaya peperangan diadakan di luar Madinah hingga ia bersumpah tidak akan makan apa-apa sampai ia berperang dengan pihak lawan di luar Madinah. Ia adalah penanggung jawab inti pasukan Islam, ia berperang dengan menggunakan dua pedang dan menunjukkan keberaniannya yang luar biasa.[37]

Berkas:Hamzeh.jpg
Kuburan Hamzah dan para syahid Perang Uhud yang sekarang

Syahid

Artikel Utama: Perang Uhud

Perang Uhud meletus pada hari Sabtu 7 Syawal (atau 15 Syawal)[38] tahun ke-3 H (23 Maret 625)[39]. Pada peperangan ini, Hamzah syahid di tangan Wahsyi bin Harb, budak Habasyi, anak perempuan Harits bin Amar bin Naufal atau ghulam Jubair bin Muth’im. [40]

Berdasarkan sebuah riwayat, anak perempuan Harits dengan menjanjikan kebebasan bagi Wahsyi, ingin supaya ia membalas dendam ayahnya yang terbunuh dalam perang Badar. Harits tewas ditangan Nabi saw atau Ali as atau Hamzah. [41] Berdasarkan riwayat yang lainnya, Jubair bin Muth’im demi membalas dendam pamannya, Thu'aimah yang terbunuh di Badar berjanji kepada Wahsyi untuk membebaskannya. [42] Namun dikatakan bahwa motivasi Hindun, anak perempua Utabah dan istri Abu Sufyan untuk melakukan balas dendam dikarenakan ayah, saudara dan pamanya terbunuh di perang Badar, lebih terdorong oleh Jubair atau anak perempuan Harits. Berdasarkan beberapa nukilan, semenjak awal Hindun dengan menjanjikan harta kepada Wahsyi, mendorongnya untuk melakukan pembunuhan terhadap Hamzah. [43]

Dimutilasinya Badan Hamzah

Menurut riwayat, Hindun bernazar untuk dapat memakan hati Hamzah. [44] Wahsyi pada awalnya berjanji untuk membunuh Ali As. Namun di medan peperangan ia membunuh Hamzah dan membawakan hati Hamzah untuk Hindun. Hindun memberikan baju dan perhiasannya kepada Wahsyi dan berjanji akan memberian dinar di Mekah. Kemudian Hindun pergi ke arah jasad Hamzah dan memotong-motong badan Hamzah. [45] Dari jasad Hamzah, kemudian ia membuat anting, gelang dan kalung. Lalu membawa hati Hamzah ke Mekah. [46] Disebutkan juga bahwa Muawiyah bin Mughairah dan Abu Sufyan juga ikut memotong-motong atau mencabik-cabik tubuh Hamzah. [47] Karena jasad Hamzah sangat mengenaskan, sebagian sahabat[48]bersumpah akan memotong-motong tubuh pihak musuh sebanyak 30 bahkan lebih. Namun pada saat itu turun surah Al-Nahl ayat 126 bahwa meskipun mereka diperbolehkan untuk membalas dengan perbuatan yang setimpal, tapi apabila mereka bersabar, maka hal itu adalah tindakan yang lebih baik.[49]

Pemakaman

Makam Hamzah dan syuhada Perang Uhud sebelum dihancurkan oleh kaum Wahabai

Hamzah adalah syahid perang Uhud yang disalati oleh Nabi Muhammad saw, kemudian syahid-syahid yang lainnya dibawa kehadapan Nabi beberapa kali untuk disalatkan dan meletakkan para syahid itu didekat jasad Hamzah, sehingga Nabi mensalati mayat-mayat mereka dan mayat Hamzah. Dengan demikian kira-kira Hamzah disalati sebanyak 70 kali baik secara sendiri maupun bersamaan dengan jenazah-jenazah yang lainnya. [50] Hamzah diletakkan dalam kain kafan yang dibawakan oleh saudarinya, Shafiyah karena kaum Musyrikin membiarkan Hamzah dalam keadaan telanjang.[51]

Menangisi Hamzah

Nabi Muhammad saw menangis karena melihat jenazah Hamzah yang sangat memilukan. [52] Ketika Nabi saw mendengar orang-orang Anshar menangisi para kerabatnya, Nabi berkata, “Tidak ada yang menangisi Hamzah.” Karena Sa'ad bin Mu'adz mendengar perkataan ini, maka ia membawa para wanita ke rumah Nabi untuk menangisi Hamzah. Semenjak saat itu, setiap wanita Anshar yang akan menangisi kerabatnya yang telah meniggal dunia, maka mereka akan menangisi Hamzah terlebih dahulu. [53] Dilaporkan bahwa Zainab binti Abu Salmah menangisi Hamzah selama tiga hari dan mengenakan pakaian duka. [54]

Kuburan Hamzah

Disebutkan bahwa Sayidah Fatimah sa pergi berziarah ke pusara Hamzah dan meletakkan batu di atas makamnya. [55]

Kaum Umawi dikarenakan memiliki rasa permusuhan dengan Nabi Muhammad saw bertindak kurang ajar terhadap pemakaman Hamzah dan pemakaman-pemakaman yang lainnya. Diberitakan bahwa Abu Sufyan pada masa pemerintahan Utsman menendangkan kakinya di pusara Hamzah dan berkata kepadanya, apa yang pada masa lalu engkau jaga sehingga berperang dengan kami, maka pada masa sekarang menjadi alat permainan anak-anak muda kami. [56] Muawiyah kira-kira 40 tahun setelah meletusnya perang Uhud, dengan maksud mengalirkan mata air dan kanal di Uhud, dan nampaknya karena rasa permusuhannya dengan keluarga Nabi saw, memerintahkan untuk membongkar makam para syuhada Uhud termasuk pusara Hamzah dan memindahkan kuburan mereka ke tempat lain. Kelihatannya, beberapa makam para syuhada, termasuk makam Hamzah dipindah. [57]

Semenjak dahulu, terdapat masjid dan kubah di atas kuburan Hamzah. Namun setelah Wahabi menguasai kerajaan Arab Saudi di Hijaz, kubah yang menaungi pusara Hamzah itu dirusah pada tahun 1344. [58] Demikian juga masjid Hamzah, masjid lain yaitu yang dikenal dengan masjid Uhud, masjid Ali dan masjid Hamzah yang dibangun di sebelah barat pusara syuhada Uhud juga dirusak. [59] Pusara Hazah semenjak dahulu telah menjadi perhatian para ziarah, khususnya peziarah Syiah termasuk orang-orang Iran yang pergi ziarah ke Madinah.

Kedudukan Hamzah

Contoh pengaruh mendalam dari kepribadian Hamzah dan kecintaan terhadapnya adalah setelah ia syahid sebagian sahabat-sahabat memberikan nama anaknya dengan nama Hamzah. [60] kesyahidan Hamzah dan Ja'far bin Abu Thalib mengurangi kekuatan Bani Hasyim dalam menghadapi kaum Quraisy dan menjadi salah satu sebab bagi Imam Ali as tidak menjadi khalifah sepeninggal Nabi Muhammad saw.[61]

Keutamaan Hamzah dalam Riwayat

Imam Ali as dan para Imam yang lainnya dalam berargumen dengan orang-orang yang menentangnya, membanggakan keluarganya yaitu dengan menyebut nama-nama Hamzah dan Ja'far. [62]

Mengenai kemuliaan dan karamah Hamzah banyak riwayat yang dinukilkan[63] Nabi Muhammad saw bersabda bahwa Hamzah, Ja’far bin Abi Thalib dan Ali adalah sebaik-baik orang[64] dan merupakan bagian dari tujuh orang terbaik dari keturunan Bani Hasyim. [65] dan juga menyebut Ali as, Ja’far dan Hamzah sebagai syuhadah terbaik. [66] Rasulullah bersabda bahwa Hamzah memperhatikan syarat-syarat kekeluargaan dan berperilaku baik. [67]

Dalam riwayat-riwayat diisyaratkan kepada kuda Hamzah yang bernama Ward dan pedangnya, Liyah[68] dan segala sesuatu yang merupakan kepemilikannya.

Anak-anak

Hamzah memiliki 3 orang putra: 'Amarah, Ya'la dan Amir. [69] 'Amarah (putra tertua Hamzah) ikut serta dalam perang Fatah di Irak. [70] Ya’la memiliki 5 anak laki-laki. [71] Meskipun tidak banyak referensi-referensi yang menyebutkan keturunan Hamzah, [72] namun pada abad ke-10 sebagian orang-orang mengetahui keturunannya. [73]

Terdapat banyak nama bagi anak-anak perempuan Hamzah yang disebutkan dalam sumber-sumber sejarah. Menurut keterangan dari kebanyakan literatur-literatur yang ada menyebutkan nama Murajjah atau Umamah[74] Nama Umamah termasuk salah seorang perawi hadis Ghadir Khum.[75]

Pranala Luar

Catatan Kaki

  1. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 8; Baladzuri, Ansāb al-Asyraf, jld. 3, hlm. 282.
  2. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bag. 1, hlm. 109.
  3. Lihat: Murtadha Zubaidi, Tajul 'Arus, jld.8, hlm.53
  4. Ibnu Darid, Kitab al-Isytiqaq, jld.1, hlm. 45-46
  5. Lihat: Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 68; Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 8.
  6. Lihat: Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 290; Nahj al-Balāghah, surat ke-28.
  7. Ibnu Duraid, Kitāb al-Isytiqāq, jld. 1, hlm. 45-46.
  8. Lihat: Zubaidi, Tāj al-’Arus, jld. 8, hlm. 53.
  9. Ya’qubi, Tārikh Ya’qubi, jld. 2, hlm. 9.
  10. Lihat: Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 1, hlm. 108-110; Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 437.
  11. Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 70; Ibnu Abdul Bar, al-Isti’āb, jld. 1, hlm. 369.
  12. Lihat: Al-Shahih min Sirah al-Nabi, jld. 2, hlm. 71-78.
  13. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bag. 1, hlm. 189-190.
  14. Lihat: Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm. 26.
  15. Thabari, Tārikh, jld. 2, hlm. 313.
  16. Ibnu Habib, Kitāb al-Munammaq, hlm. 243.
  17. Lihat: Ibnu Habib, Kitab al-Muhabbar, hlm. 164-165; Ibid, Kitab al-Munammaq; Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 153.
  18. Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 319-320.
  19. Lihat: Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 131; Kulaini,al-Kāfi, jld. 1, hlm. 449.
  20. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bag. 1, hlm. 291-292.
  21. Lihat: Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 449, jld. 2, hlm. 308.
  22. Amili, al-Sahih min Sirah al-Nabi, jld. 3, hlm. 153-154.
  23. Ibnu Abdul Barr, al-Isti’ab, jld. 1, hlm. 369; Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 9; Kulaini, al-Kāfi, jld. 8, hlm. 298.
  24. Lihat: Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, hlm. 123.
  25. Lihat: Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 123.
  26. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bag. 1, hlm. 243-244.
  27. Lihat: Ibnu Ishaq, al-Sair wa al-Maghazi, hlm. 160-161.
  28. Ali bin Ibrahim al-Qumi, Tafsir al-Qumi, Qs al-Anfal: 30.
  29. Lihat:Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bag. 1, hlm. 505.
  30. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 270.
  31. Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 9; Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bag. 1, hlm. 596-599; Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 2, hlm. 6.
  32. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 2, hlm. 8-9, jld. 3, hlm. 10.
  33. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 12.
  34. Lihat: Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 68-69; Thabari, Tārikh, jld. 2, hlm. 445.
  35. Samhudi, Wafā al-Wafā, jld. 2, hlm. 477-479.
  36. Lihat: Amili, al-Shahih min Sirah al-Nabi, jld. 5, hlm. 342 dst.
  37. Lihat: Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 211; Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 12; Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 76, 83, 259 dan 290.
  38. Thabari, Tarikh, jld.2, hlm. 5214
  39. Waqidi, al-Maghazi, jld. 1, hlm.199
  40. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 10
  41. Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 285.
  42. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bag. 2, hlm. 70-72.
  43. Lihat: Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 3, hlm. 286-287
  44. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 12.
  45. Dengan memotong telinga atau bibis, seseorang yang menyiksa orang lain, Farhang Lughat Amid.
  46. Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 285-286.
  47. Lihat: Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 338; Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bag. 2, hlm. 93.
  48. Ali bin Ibrahim Qumi, Tafsir al-Qumi, Thusi, Al-Tibyan, Qs Al-Nahl: 126
  49. Ibnu Ishaq, Kitab al-Sair wa al-Maghāzi, hlm. 335.
  50. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 11
  51. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 16015
  52. Ibnu Abdul Barr, al-Isti’ab, jld. 1, hlm. 374.
  53. Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 315-317
  54. Ibnu Atsir, al-Bidayah wa al-Nihāyah, jld. 5, hlm. 68.
  55. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 19; Ibnu Syabbah Numairi, Kitab Tarikh al-Madinah al-Munawarah, jld. 1, hlm. 132.
  56. Ibnu Abil Hadid, jld. 16, hlm. 136.
  57. Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 267-268; Ibnu Sa’ad, Al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 11; Ibnu Syabbah Numairi, Kitāb al-Tārikh al-Madinah al-Munawarah, jld. 1, hlm. 133; Muhammad Baqir Najafi, Madinah Syenasi, jld. 2, hlm. 275.
  58. Ja’far Khayath, al-Madinah al-Munawarah fi al-Maraji’ al-Gharibah, hlm. 245; Najmi, Hamzah Sayyidus Syuhada, hlm. 191, 212.
  59. Qaidan, Tārikh wa Atsar Islāmi Mekah wa Madinah al-Mukaramah, hlm. 332.
  60. lihat: Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 5, hlm. 186; Kulaini, al-Kāfi, jld. 6, hlm. 19; Hakim Nisyaburi, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, jld. 3, hlm. 196.
  61. Kulaini, al-Kāfi, jld. 8, hlm. 189-190; lihat juga: Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balāghah, jld. 11, hlm. 111, 115, 116.
  62. Lihat: Nahj al-Balāghah, surat ke-28; Thabari, Tarikh, jld. 5, hlm. 424
  63. Lihat: Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 12
  64. Lihat: Abul Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 17.
  65. Kulaini, al-Kāfi, jld. 8, hlm. 50.
  66. Al-Kulaini, jld. 1, hlm. 450.
  67. Lihat: Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 13-14.
  68. Ibnu Habib, Kitab al-Munammaq, hlm. 407-411.
  69. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 8.
  70. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 3, hlm. 288-289.
  71. Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 9.
  72. Lihat: Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 3, hlm. 9
  73. Lihat: Agha Buzurg Tehrani, al-Dzari’ah, jld. 26, hlm. 96.
  74. Lihat: Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 3, hlm. 283; Ibnu Atsir,Usd al-GHabah jld. 6, hlm. 21, 147, 199, 219, 378.
  75. Amini, Al-Ghadir, jld. 1, hlm. 139.


Daftar Pustaka

  • Agha Buzurg Tehrani, al-Dzari’ah
  • Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balāghah, Cet. Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, 1385-1387 H/1965-1967, Cet. Offset Beirut, tanpa tahun.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad, Usd al-Ghabah fi Ma’rifah al-Shahabah, cet. Muhammad Ibrahim Bian dan Muhammad Ahmad ‘Asyura, Kairo, 1970-1973.
  • Ibnu Atsir, Mubarak bin Muhammad, al-Nihāyah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar, Cet. Thahir Ahmad Zawi dan Mahmus Muhammad Thanahi, Qahirah, 1383-1385/1963-1965, cet. Offset Beirut, tanpa tahun.
  • Ibnu Ishak, Kitab al-Sair wa al-Maghāzi, cet. Sahil Zakar, tanpa tempat, Dar al-Fikr, 1398 H/1978, Cet. Offset Qom, 1410 H.
  • Ibnu Habib, Kitab al-Muhabbar, cet. Elza Likhten Shtiter, Hyderabad, Dekkan, 1361/1942, cet. Offset Beirut, tanpat tahun.
  • Ibnu Habib, Kitāb al-Munammaq fi Akhbār Quraisy, Cet. Khursyid Ahmad Fariq, Beirut, 1405/1985.
  • Ibnu Duraid, Kitab al-Isytiqāq, Cet. Abdul Salam Muhammad Harun, Baghdad, 1399 H/1979.
  • Ibnu Saa’d, al-Thabaqāt, Beirut.
  • Ibnu Syabbah Namiri, Kitab Tārikh al-Madinah al-Munawarah, Akhbar al-Madinah al-Nabawiyah, cet. Fahim Muhammad Syaltut, Jedah, 1399 H/1979, cet. Offset Qum, 1410 H.
  • Ibnu Abdul Barr, Al-Isti’āb fi Ma’rifah al-Ashhāb, cet. Ali Muhammad Bijawi, Beirut, 1412 H/1992.
  • Ibnu Qudamah, al-Tabyin fi Ansāb al-Quraisyiyin, cet. Muhammad Naif Dalimin, Beirut, 1408 H/1988.
  • Ibnu Kalbi, Jamharah al-Nasab, jld. 1, cet. Naji Hasan, Beirut, 1407 H/1986.
  • Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, Cet. Mustafa Saqa, Ibrahim Abyari, Abdul Hafidz Syalbi, Beirut, Dar Ibnu Katsir, tanpa tahun.
  • Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyin, cet. Ahmad Saqar, Kairo, 1368 H/1949.
  • Amini, Abdul Husain, Al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunah wa al-Adab, Qom, 1416-1422 H/1995-2002.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, cet. Muhammad Hamidullah, Mesir, 1959, jld. 2, cet. Muhammad Baqir Mahmudi, Beirut, 1394 H/1974, jld. 3, cet. Abdul Azizi Duri, Beirut, 1398 H/1978.
  • Ja'far Khayath, al-Madinah al-Munawarah fi al-Marāji’ al-Gharibah, Dar Mausu’ah al-‘Atabatt al-Muqadasah, Ja’far Khalili, jld. 3, Beirut, Muasasah al-A’lami lil Mathbu’at, 1407 H/1987.
  • Hakim Nisyaburi, Muhammad bin Abdullah, al-Mustadrak ala Shahihain, cet. Yusuf Abdurahman Mar’asyli, Beirut, 1406.
  • Zubaidi, Muhammad bin Muhammad, Tāj al-Arus min Jawahir al-Qamus cet. Ali Syiri, Beirut, 1414 H/1994.
  • Samhudi, Ali bin Abdullah, Wafā al-Wafā bi Akhbar dar al-Mustafā, cet. Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Beirut, 1404 H/1984.
  • Syahidi, Tārikh Tahlili Islām ta Pāyān Umawiyān, Tehran, Nasyar Markaz Danesygahi, 1411 H.
  • Thabari, Tārikh (Beirut)
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Tibyān fi Tafsir al-Quran, cet. Ahmad Habib Qashiri ‘Amili, Beirut, tanpa tahun.
  • ‘Amili, Ja’far Murtadha, al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A’zham, Beirut, 1415 H/1995.
  • Ali bin Ibrahim Qumi, Tafsir al-Qumi, Cet. Tayib Musawi Jaairi, Qom, 1414 H.
  • Qaidan, Asghar, Tārikh wa Atsar Islāmi Makah Mukaramah wa Madinah Munawarah, Tehran, 1426 H.
  • Kulainin, Al-Kāfi.
  • Muhammad Baqir Najafi, Madinah Syenāsi, jld. 2, 1417 H.
  • Muhammad Shadiq Najmi, Sayyidus Syuhada As, Tehran, 1425 H.
  • Nahj al-Balagha, Imam Ali bin Abi Thalib As, cet. Subhi Salihi, Kairo, 1991/1441 H.
  • Waqidi, Muhammad bin Umar, Kitab al-Maghāzi, Cet. Marsden Jones, London, 1966.
  • Ya’qubi, Tārikh.