Buka menu utama

WikiShia β

Kaligrafi Hadis Manzilah

Hadis Manzilah (bahasa Arab:حدیث المنزلة) adalah salah satu hadis nabawi yang populer dan diterima oleh semua kalangan, baik kalangan Sunni maupun Syiah. Hadis ini memperkenalkan posisi dan kedudukan Imam Ali as dan nisbahnya terhadap Nabi Muhammad saw serta keunggulan posisinya atas para sahabat Nabi Muhammad saw yang lain. Menurut para cendekiawan Syiah, hadis ini mutawatir dan termasuk dalil kebenaran Imam Ali as untuk menjadi pengganti Nabi besar Islam saw. Hadis ini berkali-kali disampaikan Rasulullah saw pada berbagai kesempatan, terutama dalam perang Tabuk. Salah satu riwayat yang paling populer mengenai hadis ini adalah bahwa Nabi Muhammad saw berbicara tentang Imam Ali as dan bersabda: Kedudukanmu atasku adalah sebagaimana kedudukan Harun atas Musa. Hanya saja tidak ada kenabian setelahku..


Daftar isi

Penjelasan-penjelasan Hadis Manzilah

Hadis ini dikutip dari Nabi Muhammad saw dengan redaksi yang berbeda-beda dan dalam waktu serta tempat yang berbeda. Diantaranya, pada hari perjanjian persaudaraan pertama (sebelum hijrah ke Madinah), di hari perjanjian persaudaraan kedua (lima bulan setelah hijrah ke Madinah), di rumah Ummu Salamah, ketika penentuan wali untuk anak perempuan Hamzah, pada peristiwa penutupan pintu rumah-rumah para sahabat yang bersebelahan dengan masjid Nabi, [1] dan yang paling terkenal adalah pada perang Tabuk. [2] Kutipan-kutipan yang beragam dari hadis manzilah seluruhnya memiliki kandungan yang sama bahwa posisi dan kedudukan Imam Ali as terhadap Nabi Muhammad saw sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa. Terdapat sedikit perbedaan redaksi-redaksi hadis ini yang muncul pada pengulangannya di acara-acara yang berbeda.

Sumber Hadis Antara Syiah dan Ahlus Sunnah

Hadis manzilah telah dilaporkan melalui sumber-sumber sejarah, riwayat dan ungkapan yang berbeda-beda, [3] bahkan sebagian ulama Syiah telah menulis beberapa kitab yang membahasnya secara tersendiri. Di antaranya, Mir Hamid Husain (wafat 1306 H/1888) mengulas secara khusus hadis ini dalam satu jilid dari kumpulan kitab Abaqāt al-Anwār. Hakim Haskani [4] dari gurunya, Abu Hazim Hafidh Abduwi, mengutip bahwa hadis manzilah telah diriwayatkan sampai lima ribu sanad. Menurut kutipan lainnya, 88 orang dari para perawi yang terkenal telah mengutip hadis tersebut. [5] Orang-orang seperti Ibnu Taimiyah [6], Abdul Haq Dehlavi, Ganji Syafi’i, Abul Qasim Ali bin Muhsen Tanukhi dan Suyuthi juga membuktikan kebenaran dan kemasyhuran hadis tersebut. [7] Hadis ini juga terdapat dalam kitab Shahih Bukhāri[8]dan Shahih Muslim,[9] dan dinukil dalam kitab-kitab hadis Ahlu Sunnah lainnya. [10]

Kebenaran Hadis di Kalangan Ahlu Sunnah

Ibnu Abi al-Hadid [11] meyakini bahwa semua mazhab Islam mengaku sepakat dengan hadis tersebut. Ibnu Abu al-Bar [12] menyatakan bahwa hadis tersebut termasuk yag paling benar dan paling kokoh riwayat hadisnya. Pada sebagian sumber, silsilah hadis ini disebutkan secara terperinci. [13] Hakim Naisyaburi [14] meyakini bahwa silsilah sanad hadis tersebut sahih. Hafizd Dzahabi dalam Talkhis al-Mustadrak [15] menegaskan kesahihannya. Bahkan para penentang dan musuh Imam Ali as juga tidak mampu menolak hadis tersebut dan terpaksa menerimanya, dan terkadang mereka mengutipnya tanpa sadar. Menurut Khatib al-Baghdadi, [16] Walid bin Abdulmalik dari Bani Umayah juga menerima keaslian hadis tersebut dan mengganti kata Harun menjadi Qarun. Makmun dari Bani Abbasiyah juga bersandar kepada hadis tersebut ketika berhujjah dengan para ulama fikih. [17] Menurut Khatib al-Baghdadi, [18] Umar telah mencap seseorang yang mencela Imam Ali as sebagai munafik, dengan bersandar pada hadis Manzilah,. Muawiyah juga tidak mengingkari hadis Manzilah. Muawiyah ketika bertanya kepada Sa'ad bin Abi Waqqash (salah seorang yang memusuhi Imam Ali as), "Mengapa engkau tidak mencela Imam Ali as?" Sa’ad menjawab, "Karena tiga keutamaan yang telah disebutkan untuk Imam Ali as." Ketika itulah Sa’ad menukil hadis Manzilah dan akhirnya Muawiyah mengurungkan niatnya dan tidak memaksa Sa’ad untuk mencela Imam Ali as. [19]Zaid bin Arqam juga termasuk salah satu sahabat yang menukil hadis ini. Dalam periwayatannya ia juga menambahkan bahwa ketika Rasulullah saw memerintahkan Imam Ali as untuk mengantikan posisinya di Madinah, sekelompok orang mengira Rasulullah saw marah terhadap Imam Ali as. Ketika Imam Ali as mendengar berita ini, ia pun menyampaikannya kepada Nabi Muhammad saw. Dalam jawabannya, Rasulullah saw menjelaskan hadis Manzilah ini. [20] Hakim Naisyaburi meyakini bahwa sanad hadis ini sahih dan ia mengutip dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad saw menyampaikan hadis ini pada perang Tabuk. Ibnu Abbas juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw yang mulia melanjutkan sabdanya kepada Imam Ali as, "Tidak selayaknya aku pergi kecuali engkau menjadi penggantiku." Juga bersabda, "Setelahku engkau menjadi pelindung setiap wanita dan laki-laki mukmin." [21]

Berdalil Dengan Hadis

Selain menunjukkan keutamaan Imam Ali as, hadis Manzilah juga menunjukkan khilafah dan kemaksumannya, karena Nabi Muhammad saw telah membuktikan dan menetapkan semua keutamaan, keistimewaan dan kedudukan Harun untuk Imam Ali as, kecuali derajat kenabian. Menurut Al-Quran, Nabi Musa as memohon kepada Allah swt supaya saudaranya dijadikan penggantinya dan mitra yang dapat membantu misi risalahnya. [22] Allah mengabulkan permohonannya [23] dan Harun menjadi pengganti ketika Nabi Musa as tidak ada. [24] Dengan demikian, seluruh kedudukan Nabi Musa juga dimiliki saudaranya saat itu. Seandainya Nabi Harun as masih hidup setelah Nabi Musa as wafat, maka ia pasti akan menjadi penggantinya—menurut kaum Yahudi, bahwa Nabi Harun as wafat 40 tahun sebelum Nabi Musa as wafat. Nabi Harun as banyak memiliki posisi dan kedudukan di sisi Nabi Musa As. Dari sini kita dapat mengetahui keagungan posisi Imam Ali as dan kelayakannya mengemban dan memikul khilafah setelah Rasulullah saw. Dengan bersandar pada peristiwa Harun as dan Musa as di dalam Al-Quran yang menyebutkan Harun adalah pendamping dan mitra Musa as di setiap pekerjaannya, maka Imam Ali as juga adalah pasangan Rasulullah saw dalam perkara khilafah dan wilayah kepemimpinan, kecualai perkara kenabian. [25] Harun as di tengah-tengah Bani Israil adalah orang kedua setelah Musa as, demikian juga Imam Ali as di tengah-tengah ummat Nabi saw. Harun as adalah saudara Musa as dan Imam Ali as juga saudara Rasulullah saw, berdasarkan dalil yang jelas dan mutawatir, yang dikutip dalam kitab-kitab Syiah dan Ahlu Sunnah. Harun as adalah orang yang paling unggul di tengah-tengah kaum Musa as di sisi Allah dan Nabinya, Imam Ali as juga demikian. [26] Harun sebagai khalifah ketika Nabi Musa as tidak ada, Imam Ali as pun demikian, khususnya dengan pernyataan Rasulullah saw yang bersabda:

""لاینبغی أن أذهب اِلّا و أنت خَلیفَتی‌ ""

"Tidak pantas bagiku untuk pergi kecuali engkau dalam keadaan telah menjadi khalifahku."

Harun as adalah orang yang paling cerdas di antara kaum Nabi Musa as. Imam Ali as pun orang paling berilmu setelah Rasulullah saw, sesuai dengan pernyataan Rasulullah saw. [27] Bagi Yusya’ (Yuasya) bin Nun (seorang washi Nabi Musa as) dan ummat Musa as, taat kepada Harun as ketika itu adalah sebuah kewajiban. Taat kepada Imam Ali as juga sebuah kewajiban, dengan anggapan sebagai wasiat Abu Bakar, Umar, Utsman atau siapa saja. [28] Harun as adalah orang yang paling dicintai oleh Allah dan Musa as, Imam Ali as juga demikian. Allah Swt telah membentengi dan memperkuat Nabi Musa as dengan saudaranya, Harun as, dan Allah swt memperkuat Rasulullah saw dengan Imam Ali as. Harun as terjaga dari kesalahan dan kealfaan, Imam Ali as pun demikian. [29]

Kritik dan Keraguan Pertama

Sebagian dari cendekiawan Ahlu Sunnah meragukan keabsahan sanad hadis ini dan sebagian lagi menganggapnya tidak mutawatir (hadis Āhad). [30] Ulama Syiah dalam menjawabnya berkata: Tidak diragukan lagi bahwa hadis ini sanadnya sahih, mustafidh, bahkan mutawatir dan menurut para ahli hadis, hadis ini termasuk riwayat paling benar dan paling tepat. Bahkan Dzahabi yang termasuk ulama terkemuka Ahlu Sunnah memberikan kesaksian atas kebenaran hadis tersebut dalam kitabnya, Takhlish Mustadrak [31] Jika hadis ini tidak sahih, maka tidak akan dinukil dan dicantumkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Selain itu, Muawiyah—sebagai musuh bebuyutan Imam Ali as yang memerintahkan untuk mencela dan melaknatnya serta membuat hadis palsu yang menentangnya—bukan hanya tidak mengingkari kedudukan hadis Manzilah, bahkan ia sendiri yang meriwayatkan hadis tersebut. [32]

Kritik dan Keraguan Kedua

Sekelompok Ahlu Sunnah meyakini bahwa hadis ini adalah satu-satunya hadis yang meramal kejadian perang Tabuk. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah, Ibnu Taimiyah, jld.7, hlm. 322. </ref> Kelompok lainnya lebih membatasi dengan mengatakan bahwa Rasulullah saw hanya menjadikan Ali as sebagai penggantinya di kota Madinah atau di kalangan keluarganya saja. [33] Mereka menerima hadis ini sebagai hadis yang benar dan sahih, namun tidak bermakna bahwa semua posisi dan kedudukan Rasulullah saw, kecuali kenabian bisa ditetapkan pada Ali as. Menurut mereka, hadis ini menunjukkan bahwa Ali as sebagai khalifah dan pengganti Nabi saw hanya pada saat Nabi tidak ada selama kepergiannya ke Tabuk. Itupun hanya berkaitan dengan keluarga Nabi Muhammad saw , sebagaimana Harun as menjadi khalifah Musa as pada saat ia tidak berada di tempat. Dalam menjawabnya harus dikatakan bahwa:

  1. Sebagian besar dari ulama Ahlu Sunnah meyakini bahwa hadis ini tidak hanya terbatas pada peristiwa perang Tabuk saja. Mereka meyakini bahwa Nabi saw dalam peristiwa lainnya pun menyampaikan hadis tersebut. Ibnu Abi al-Hadid [34] dalam menegaskan kedudukanAli as sebagai pengganti, bersandar kepada Al-Quran dan hadis-hadis. Ia berkata bahwa seluruh posisi yang ada pada Harun as dapat ditetapkan pada Ali as. Jika Nabi saw bukan penutup kenabian, maka Ali pun akan dimitrakan dalam posisi kenabiannya. Nabi saw memberikan nama anak-anak Ali as sebagaimana nama anak-anak Harun as. Nabi saw memeberinya nama Hasan dan Husain, dan bersabda, "Aku menamakan mereka dengan nama anak-anak Harun, Yaitu Syubar dan Syubair. [35]
  2. Para sahabat juga mengambil kesimpulan keumuman posisi-posisi yang ada dalam hadis ini. Sebagai contoh, sahabat Jabir bin Abdillah al-Anshari ketika ditanya tentang arti dan makna hadis Manzilah, ia menjawab bahwa Nabi saw dengan perkataan ini menjadikan Ali sebagai penggantinya di tengah-tengah umatnya ketika hidup dan sepeninggalnya dan mewajibkan kalian untuk mentaatinya. [36]

Kritik dan Keraguan Ketiga

Harun as memiliki kedudukan sebagai khalifah dan kedudukan-kedudukan lainnya di masa kehidupan Nabi Musa as karena ia meninggal dunia sebelum Musa as. Oleh karena itu, mungkin saja Ali as juga memiliki kedudukan-kedudukan di masa kehidupan Rasulullah saw, namun hadis Manzilah diyakini tidak bisa dijadikan sebagai nash atau dalil atas kekhalifahan setelah Rasulullah saw. [37] Jawaban:

  1. Kata pengecualian illa annahu la nabiya ba’di menjelaskan keumumannya dan ini adalah hal-hal yang lazim dan sebuah ketetapan di masa hidup dan sepeninggal Nabi saw atas Ali as. Jika tidak, maka kata pengecualian sama sekali tidak diperlukan. Sebagaimana perkataan Thabarsi, [38] para ahli hadis bersepakat bahwa pada peristiwa perang Tabuk, Nabi saw telah menjadikan Ali as sebagai penggantinya di Madinah. Nabi saw tidak mencabutnya, dan kedudukan sebagai imam ini berlanjut.
  2. Berdasarkan asumsi kritik di atas, Harun as tidak hidup setelah Musa as, sehingga dapat memiliki posisi sebagai khalifah. Jika Harun as hidup setelah Musa as, dapat dipastikan ia akan mengemban sebagai khalifah Musa as, karena posisi khalifah sudah dimilikinya. Sesuai dengan hadis, Ali as juga memiliki posisi khalifah Rasulullah saw. Selama ia ada dan Nabi saw tidak ada, Ali as senantiasa akan menjadi khalifah Rasulullah saw.

Kemiripan yang Sangat Dekat

Harun as menjadi khalifah pada saat Musa as tidak ada. Karena terkecoh tipu daya Samiri, umat Nabi Musa as pada saat itu menjadi penyembah sapi dan tidak seorangpun yang membantu dan menolong Harun as. Terpaksa Harun as harus bersabar di tengah-tengah kaumnya karena melihat kemaslahatan di dalamnya. Hadis Manzilah untuk Imam Ali as menjelaskan seluruh kejadian ini. Pada saat Nabi Muhammad saw tidak ada, Imam Ali as menjadi khalifah. Kemiripan Imam Ali as dan Harun as kembali pada sisi-sisi tersebut dan sama sekali tidak berkaitan dengan kejadian setelah atau sebelum wafat.

Catatan Kaki

  1. Manaqib Imam Ali as, Ibnu Maghazili, hlm. 255-257
  2. Musnad Ahmad bin Hambal, Ibnu Hambal, jld. 1, hlm. 277, jld. 3, hlm. 417, jld. 7, hlm. 513- 591; Shahih Bukhari, Bukhari, jld. 5, hlm. 129; Sahhih Muslim, jld. 2, hlm. 1870-1871; Sunan al-Tirmizi, jld. 5, hlm. 637, 640-641; Sunan al-Nasai, hlm. 50-61; Al-Mustadrak, Hakim Neisyaburi, jld. 3, hlm. 133-134; Al-Riyadh al-Nadhirah fi manaqibi al-Asyarah, Ahmad bin Abdullah Thabari, jld. 3, hlm. 118-119; Al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir, jld. 5, hlm. 7-8; Majmau al-Zawaid wa Manba’u al-Fawaid, Haitsami, jld.9, hlm. 110; ‘Umdatu al-Qari ‘Aini, Syarh Shahih Bukhari, jld: 16, hlm.301; Tarikhu al-Khulafa, Al-Suyuthi, hlm. 167; Al-dur al-manstur, Al-suyuthi, jld. 3, hlm. 236, 291; Kanzul Ummal, Muttaqi, jld. 13, hlm 163, 171-172; juga rujuklah Abaqat al-Anwar, Mir Hamid Husain, jld. 2, buku 1, hlm. 29-59; Syarafuddin, hlm. 130; Nafahat al-Azhar, Husaini Milani, jld.18, hlm. 363-411.
  3. Musnad Ahmad bin Hambal, jld. 1, hlm. 277, jld. 3, hlm. 417; Shahih Bukhāri, jld. 5, hlm. 129; Sunan al-Tirmizi, jld. 5, hlm. 637; Al-Kafi, jld. 8, hlm. 106-107, Kitāb Tamhid al-'Awāil wa Talkhis al-Dalāil, Baqilani, hlm. 457; Al-Mughni, Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad, jld. 1, bag. 1, hlm. 158; Tārikh Baghdadi, Khatib Baghdadi, jld. 4, hlm. 465; Al-Barāhin dar Elmi Kalām, Fahkrur Razi, jld. 2, hlm. 257, Syarh al-Maqāshid, Taftazani, jld. 5, 296.
  4. Muhaddis Masyhur, wafat abad kelima, jld. 1, hlm. 195.
  5. Nafahat al-Azhar, Husaini Milani, jld.17, hlm. 23-27.
  6. Minhāj al-Sunnah al-Nabawiyah, jld.7, hlm. 326.
  7. Nafahāt al-Azhār, Husaini Milani, jld.17, hlm. 151-162; Abaqat al-Anwar, Mir Hamid Husain, jld. 2, buku 1, hlm. 204-206.
  8. حَدَّثَنِی مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سَعْدٍ، قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِیمَ بْنَ سَعْدٍ، عَنْ أَبِیهِ، قَالَ: قَالَ النَّبِی صَلَّی اللهُ عَلَیهِ وَسَلَّمَ لِعَلِی: «‌أَمَا تَرْضَی أَنْ تَکونَ مِنِّی بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ، مِنْ مُوسَی‌» jld.4 hlm. 208, jld. 5, hlm. 162
  9. حَدَّثَنَا یحْیی بْنُ یحْیی التَّمِیمِی وَأَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَعُبَیدُ اللَّهِ الْقَوَارِیرِی وَسُرَیجُ بْنُ یونُسَ کلُّهُمْ عَنْ یوسُفَ الْمَاجِشُونِ - وَاللَّفْظُ لاِبْنِ الصَّبَّاحِ - حَدَّثَنَا یوسُفُ أَبُو سَلَمَةَ الْمَاجِشُونُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْکدِرِ عَنْ سَعِیدِ بْنِ الْمُسَیبِ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِی وَقَّاصٍ عَنْ أَبِیهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلی الله علیه وسلم- لِعَلِی «‌أَنْتَ مِنِّی بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَی إِلاَّ أَنَّهُ لاَ نَبِی بَعْدِی ». قَالَ سَعِیدٌ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَافِهَ بِهَا سَعْدًا فَلَقِیتُ سَعْدًا فَحَدَّثْتُهُ بِمَا حَدَّثَنِی عَامِرٌ فَقَالَ أَنَا سَمِعْتُه‍. فَقُلْتُ آنْتَ سَمِعْتَهُ فَوَضَعَ إِصْبَعَیهِ عَلَی أُذُنَیهِ فَقَالَ نَعَمْ وَإِلاَّ فَاسْتَکتَا. Shahih Muslim, Darul Jabal, Beirut+ Darul Afaq al-Jadidah, beirut, jld. 7, hlm. 119, bab dari keutamaan Imam Ali as.
  10. Al-Mustadrak, Hakim Neisyaburi, jld. 3, hlm. 133-134; Al-Irsyād, Syaik Mufid, hlm. 81-84; Ibnu Abdul Bar, Al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ashab, jld. 3, hlm. 1097-1098; Al-Kamil fi al-Tarikh, Ibnu Atsir, jld. 2, hlm. 278; Tazdkiratu Al-Khawāsh, Sibt Ibnu Jauzi, hlm. 27-28; Ibnu Abi al-Hadid, jld. 13, hlm. 211; Farāid al-Simthain fi Fadāil al-Murtadhā wa al-Batul wa al-Sibthain wa al-Aimah min Zdurriyatihim Alaihim Salām, jld. 1, hlm. 122; Majmau al-Zawāid wa Manba’u al-Fawāid, Haitsami, jld.9, hlm. 111; Kitab al-Ishābah fi Tamyiz al-Shahābah, Ibnu Hajar Asqalani, jld.2, hlm. 509; Tārikhu al-Khulafā', Al-Suyuthi, hlm. 167; Halabi, jld. 32, Hlm.187-188; Yanābi al-Mawaddah li Dzawi al-Qurbāa, Qunduzi, jld. 1, hlm. 111-112, 137; Fadhāilu al-Kamsah minal-Shahāh al-Sittah, jld. 1, hlm. 357-364; Itmam al-Wafa’ fi Sirati al-Khulafa, hlm. 169.
  11. Syarh Nahjul Balagah, Ibnu Abi al-Hadid, jld. 13, hlm. 211.
  12. Al-Isti’āb fi Ma’rifati al-Ashāb, jld. 3, hlm. 1097.
  13. Ibnu Abdu al-Bar, Al-Isti’āb fi Ma’rifati al-Ashāb, jld. 3, hlm. 1097; Tarjamatu al-Imām Ali bin Abi Thālib Alaihi Salām min Tarikh Madinah Dimasyq, Ibnu Asakir, jld. 1, hlm. 306-391.
  14. Al-Mustadrak, jld. 3, hlm. 134.
  15. Silahkan rujuk, Al-Mustadrak, Hakim Neisyaburi, jld. 3, hlm. 134
  16. Tārikh Baghdadi, jld. 8, hlm. 262
  17. Al-‘Aqd al-Farid, Ibnu Abdurabbih, jld. 5, hlm. 357-358.
  18. Tārikh Baghdadi, jld. 8, hlm. 498
  19. Usdul Ghābah, Ibnu Atsir, jld. 4, hlm. 104-105; Yanābi al-Mawaddah li Dzawi al-Qurbā, Qunduzi, jld. 1, hlm. 161; Al-Muraja’āt, Syarafuddin, hlm. 132-133.
  20. Silahkan rujuk, Majmau al-Zawāid wa Manba’u al-Fawāid, Haitsami, jld.9, hlm. 111.
  21. Musnad Ahmad bin Hambal, Ibnu Hambal, jld. 1, hlm. 545; Hakim Neisyaburi, jld. 3, hlm. 134; Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Ibnu Katsir, jld. 7, hlm. 351; untuk kutipan lainnya bagian kedua ungkapan Nabi Muhammad saw silahkan rujuk, Sunan al-Nasai, hlm. 64; Tārikh Thabari, Muhammad bin Jarir Thabari, jld. 3, hlm. 129; Al-Sawā’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar Haitami, hlm. 124; Ma’a Duktur Musa al-Musawi fi Kitābati al –syiah wa al-tashih, Qazweini, hlm. 82-87.
  22. Q.S. Surah Taha/ 29-32.
  23. Q.S. Surah Taha/ 36.
  24. Q.S. Surah al-'Araf/ 142.
  25. Rujuklah, Abaqāt al-Anwār, Mir Hamid Husain, jld. 2, buku 1, hlm. 86-88.
  26. Ibid, hlm. 104-110
  27. Rujuklah, Kanzul Ummāl, Muttaqi, jld. 11, hlm 614; Abaqāt al-Anwār, Mir Hamid Husain, jld. 2, buku 1, hlm. 113-129.
  28. Rujuklah, Abaqāt al-Anwār, Mir Hamid Husain, jld. 2, buku 1, hlm. 88-93.
  29. Abaqāt al-Anwār, Mir Hamid Husain, jld. 2, buku 1, hlm. 100-104.
  30. Untuk contoh, rujuklah, Al-Imāmah min Abkār al-Afkār fi Ushuliddin, Amadi, hlm. 167.
  31. Al-Mustadrak, Hakim Neisyaburi, jld. 3, hlm. 134.
  32. Al-Sawā’iq al-Muhriqah fi al-rad ala Ahli al-bida’i wa al-Zindiqah, Ibnu Hajar Haitami, hlm. 179.
  33. Kitab Tamhid al-Awail wa Talkhis al-Dalail, Baqilani, hlm. 457; Abaqat al-Anwar, Mir Hamid Husain, jld. 2, buku 1, hlm. 74-76.
  34. Syarh Nahjul Balagah, jld. 13, hlm. 211.
  35. Silakan rujuk, Musnad Ahmad bin Hambal, jld. 1, hlm. 158; Al-Mustadrak, Hakim Neisyaburi, jld. 3, hlm. 168; Kanzul Ummal, Muttaqi, jld. 12, hlm 117-118; Bihar al-Anwar, al-Majlisi, jld. 101, hlm, 110-112.
  36. Silahkan rujuk, Ma’aniu al-Akhbar, Ibnu Babuwaih, hlm. 74.
  37. Silahkan rujuk, Al-Mughni, Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad, jld. 1, bag. 1, hlm. 158; Syarh al-mawaqif, Jurjani, hlm. 8, 363; Abaqat al-Anwar, Mir Hamid Husain, jld. 2, buku 1, hlm. 74-76.
  38. Asraru al-Imamah, Hasan bin Ali Thabarsi, hlm. 252.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran Al-Karim
  • Ibrahim bin Muhammad Juwaini Khurasani, Faraid al-Simthain fi Fadail al-Murtadha wa al-Batul wa al-Sibthain wa al-Aimah min Zdurriyatihim Alaihim Salam, percetakan Muhammad Baqir Mahmudi, Beirut, tahun 1398- 1400 H/ 1978-1980.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balagah, percetakan Muhammad Abulfazl Ibrahim, Kairo, tahun 1385-1387/ 1965-1967, cetakan Beirut, tanpa tanggal.
  • Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut tahun 1385-1386/1965-1966, cetakan Efest, 1399-1402/ 1979-1982.
  • Ibnu Atsir, Usdul Ghabah fi Ma’rifati al- Shahabah, percetakan Muhammad Ibrahim Bena dan Muhammad Ibrahim ‘Asyur, Kairo, 1970-1973 M.
  • Ibnu Babuwaih, Ma’aniu al-Akhbar, percetakan Ali Akbar Ghafuri, Qom, tahun 1361 S.
  • Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah, percetakan Muhammad Rasyad Salim, Riyadh, 1406 H/1986M.
  • Ibnu Hajar Asqalani, Kitab al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, cetakan Efest, Beirut, tanpa tanggal. Mesir, 1328H
  • Ibnu Hajar Haitami, Al-Sawa’iq al-Muhriqah fi al-rad ala Ahli al-bida’i wa al-Zindiqah, percetakan Abdul Wahhab Abdul Latif, Kairo, 1385 H/ 1965 M.
  • Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal, Beirut, 1414H/1993M.
  • Ibnu Thawus, Al-Tharaif fi Ma’rifati Madzahib al-Thawaif, percetakan Ali ‘Asyur, Beirut 1420H/1999M.
  • Ibnu Abdu al-Bar, Al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ashab, Percetakan Ali Muhammad Bejawi, Beirut, 1412H/1992M.
  • Ibnu Abdurabbih, Al-‘Aqd al-Farid, percetakan Abdul MajidTarhini, Beirut 1404H/1983M.
  • Ibnu Asakir, Tarjamatu al-Imam Ali bin Abi Thalib Alaihi Salam min Tarikh Madinah Dimasyq, percetakan Muhammad Baqir Mahmudi, Beirut, 1398 H/ 1978M.
  • Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, 1411 H/ 1990 M.
  • Isfahani, Abu Naim, Hilyatu al-Auliya wa Tahabaqatu al-Asfiya, Beirut 1407 H/1987 M.
  • Baihaqi, Ahmad bin Hasan, al-Sunan al-Kubra, Beirut, 1424 H/2003M.
  • Thabari, Ahmad bin Abdullah, Al-Riyadh al-Nadhirah fi manaqibi al-Asyarah, Beirut, 1405H/1984M.
  • Al-Nasai, Ahmad bin Ali, Tahdzib Khasais al-Imam Ali, percetakan Abu Ishak Huwaini Atsari, Beirut, 1406H/1986M.
  • Hasan bin Ali Thabarsi, Asraru al-Imamah, Masyhad, 1380 S.
  • Baghdadi, Khatib, Tarikh Baghdadi,
  • Sibt Ibnu Jauzi, Tazdkiratu Al-Khawash, Beirut, 1401 H/1981M.
  • Qunduzi, Sulaiman bin Ibrahim,Yanabi al-Mawaddah li Dzawi al-Qurba, percetakan Ali Jamal Asyraf Husaini, Qom, 1416H.
  • Syarafuddin Abdul Husain, Al-Muraja’at, percetakan Husain Radhi, Qom, 1416 H.
  • Al-Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakr, Al-dur al-manstur fi Tafsir bi al-Ma’tsur, percetakan Najt Najib, Beirut, 1421H/2001M.
  • Al-Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakr, Tarikhu al-Khulafa, percetakan Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Qom, 1370 S.
  • San’ani, Abdur Razzaq bin hammam, Al-Musannaf, perccetakan Habib al-Rahman A’zami, Beirut, 1403H/1990M.
  • Haskani, Ubaidillah bin Abdullah, Syawahid al-Tanzil li Qawaid al-Tafshil, percetakan Muhammad Baqir Mahmudi, Beirut, Teheran,1411H/1990M.
  • ‘Alauddin Qazweini, Ma’a Duktur Musa al-Musawi fi Kitabati al –syiah wa al-tashih, Qom, 1414 H/ 1994 M.
  • Halabi, Ali bin Ibrahim, Al-Sirah al-Halabiyah, percetakan Abdullah Muhammad Khalil, Beirut, 1422H/2002M.
  • Haitsami, Ali bin Abi Bakr, Majmau al-Zawaid wa Manba’u al-Fawaid, Beirut, 1402H/1982M.
  • Ali bin Abi Thalib, Imam Awal, Nahjul Balaghah, Terjemahan Ja’far Syahidi, Tehran, 1371 S.
  • Muttaqi, Ali Hisamuddin, Kanzul Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al, Percetakan Bakri hayani dan Shafwatu Saqa, Beirut, 1409M/1989M.
  • Amadi, Ali bin Muhammad, Al-Imamah min Abkar al-Afkar fi Ushuliddin, percetakan Muhammad Zubaidi, Beirut, 1412H/1992M.
  • Jurjani, Ali bin Muhammad, Syarh al-mawaqif, percetakan Muhammad Badruddin Na’sai Halabi, Mesir, 1325H/1907M, cet. Offset Qom, 1370S.
  • Husaini Milani, Ali, Nafahat al-Azhar fi Khulasati Abaqat al-Anwar, Qom, 1384 S.
  • Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad, Al-Mughni fi Abwabi al-Tauhid wa al-Adl, percetakan Mahmud Muhammad Qasim, tanpa tempat dan tanggal.
  • Kulaini, Al-Kafi.
  • Majlisi Bihar al-Anwar.
  • Hadhari, Muhammad, Itmamu al-Khulafa fi Sirati al-Khulafa’, Beirut, 1402H/1982M.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail, Kitab al-tarikh al-Kabir, Beirut, 1986M.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail, shahih al-Bukhari,percetakan Muhammad Dzahabi Afandi, Istambul 1401H/1981M, cet. Offset Beirut, Tanpa tanggal.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh, Beirut.
  • Baqilani, Muhammad bin Tayyib, Kitab Tamhid al-Awail wa Talkhis al-Dalail, percetakan Imaduddin Ahmad Haidar, Beirut, 1414H/1993M.
  • Hakim Neisyaburi, Muhammad bin Abdullah, Al-Mustadrak ala al-Shahihain, wa bi Dzailihi al-Talkhis li al-Hafizd al-Zdahabi, darul Ma’rifah, Beirut, tanpa tanggal.
  • Fakhrur Razi Muhammad bin Umar, Al-Barahin dar Elmi Kalam, percetakan Muhammad Baqir Sabzawari, Tehran, 1341-1342S.
  • Tirmizi, Muhammad bin Isa, al-Jami al-Shahih wa hua Sunan al-Tirmizi, percetakan Ibrahim ‘Utuh ‘Iwadh, Beirut, Tanpa tanggal.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad, Al-Irsyad, Qom, Maktabatu Bashirati, tanpa tanggal.
  • ‘Aini, Mahmud bin Ahmad, ‘Umdatu al-Qari: Syarh Shahih Bukhari, percetakan Abdullah Mahmud Muhammad Umar, Beirut, 1421H/2001M.
  • Murtadha Husaini, Firuzabadi, Fadhaili al-Khamsah minal-Shahahu al-Sittah, Beirut, 1402H/1982M.
  • Taftazani, Masud bin Umar, Syarh al-Maqashid, percetakan Abdur Rahman Umairah, Kairo, 1409H/ 1989M, Qom, 1370-1371S.
  • Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, percetakan Muhammad Fuad Abdul Baqi, Istambul, 1413H/1992M.
  • Samawi, Mahdi, Al-Imamah fi Dhaui al-Kitab wa al-Sunnah, Kuwait 1399 H/1979M.
  • Mir Hamid Husain, Abaqat al-Anwar fi Imamati al-Aimmati al-Athar Alaihim salam, percetakan Abdur Rahim Mubarak dan selainnya, Masyhad 1383 S.