Buka menu utama

WikiShia β

Sahabat Imam
Abu Bashir al-Asadi
Nama Lengkap Yahya bin Abi al-Qasim al-Asadi
Sahabat dari Imam Baqir asImam Shadiq asImam Kazim as
Julukan Abu Muhammad
Gelar Abu Bashir al-Asadi
Populer dengan Abu Bashir
Wafat/Syahadah 150 H/767
Guru-guru besar Abu Hamzah al-Tsumali • Shaleh bin Maitsam
Murid-murid Ali bin Abi Hamzah al-BathainiAban bin Utsman
Dikenal untuk Anggota Ijma'


Yahya bin Abi al-Qasim al-Asadi (bahasa Arab: یحیی بن أبی‌القاسم الأسدی) atau lebih dikenal dengan Abu Bashir al-Asadi ( أبوبصیر الأسدی) (w. 150 H/767) adalah seorang tokoh Imamiah dari Kufah dan merupakan salah seorang sahabat Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja'far al-Shadiq as. Ia juga tercatat dalam daftar sahabat Imam Musa al-Kazhim as.

Daftar isi

Kuniyah dan Nasab

Anggota Ijma'

Sahabat Imam Baqir as
Zurarah bin A'yan
Ma'ruf bin Kharrabudz
Buraid bin Mu'awiyah
Abu Bashir
Fudhail bin Yasar
Muhammad bin Muslim


Sahabat Imam Shadiq as
Jamil bin Darraj
Abdullah bin Muskan
'Abd Allah bin Bukair
Hammad bin Utsman
Hammad bin 'Isa
Aban bin 'Uthman


Sahabat Imam Kazhim as dan Imam Ridha as
Yunus bin Abdurrahman
Shafwan bin Yahya
Muhammad bin Abi 'Umair
Abdullah bin al-Mughirah
Hasan bin Mahbub
Ahmad bin Abi Nashr al-Bazanthi

Ia dikenal dengan kuniyah Abu Muhammad dan kemungkinan ia disebut Abu Bashir karena ia buta. [1] Abu al-Qasim adalah kuniyah ayahnya dan ia juga dikenal dengan nama Ishaq. [2]Namun sebagian dari literatur menyebutkan Abu al-Qasim dengan Qasim sebagai nama ayah Yahya. [3]

Nasabnya dikaitkan dengan al-Asadi karena keluarganya memiliki hubungan dengan kabilah Arab Bani Asad. [4] Syaikh Thusi dalam kitab al-Rijal [5] menyebutkan ia adalah penduduk Kufah. Syaikh Thusi dan Najasyi [6] menukilkan tahun wafatnya .

Sahabat Aimmah

Abu Bashir dalam jangka waktu tertentu menjadi sahabat Imam Muhammad al-Baqir as. Ia meriwayatkan dari Imam Shadiq as riwayat-riwayat yang berkenaan dengan akidah dan fikih yang periwayatan darinya banyak terekam dalam kitab-kitab hadis Imamiah. [7] Syaikh Thusi menyebut juga Abu Bashir sebagai salah seorang sahabat Imam Musa al-Kazhim as. [8]Abu Bashir sekitar 2 tahun bersama dengan Imam Musa al-Kazhim as dan meriwayatkan sejumlah hadis langsung dari sang Imam.

Kesetiaan kepada Imam Kazhim as

Dari berbagai sumber yang berbeda-beda terdapat riwayat dari jalur Ali bin Abi Hamzah yang menyebutkan bahwa tidak lama setelah Imam Shadiq as wafat, yang saat itu Abdullah al-Afthah masih hidup, Abu Bashir melakukan perjalanan ke Hijaz untuk menunaikan ibadah haji . Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Imam Kazhim as dan menyatakan janji setia dihadapan Imam. [9]

Riwayat

Selain meriwayatkan langsung dari sejumlah Imam, Abu Bashir juga meriwayatkan hadis dari sejumlah sahabat seperti Abu Hamzah al-Tsumali dan Shalih (Imran) bin Maitsam. [10] Sejumlah perawi seperti Aban bin Utsman al-Ahmar, 'Ashim bin Hamid al-Hannath, Husain bin Ali al-'Ala dan Abdullah bin Hammad al-Anshari meriwayatkan hadis darinya. [11]

Demikian pula Ali bin Abi Hamzah al-Bathaini, Abdullah bin Wadhah dan keponakannya sendiri Syu'aib al-'Aqarqufi meriwayatkan hadis darinya dan disebutkan bahwa mereka ini adalah murid-muridnya yang paling dekat. [12]

Berhadapan dengan Kelompok Syiah yang Menyimpang

Mukhtariyyah dan Zaidiyah

Dari riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Abu Bashir banyak melakukan perdebatan ideologis dengan kelompok-kelompok Syiah lainnya seperti dengan Mukhtariyyah dan Zaidiyah. [13]

Fathahiyyah

Tahun-tahun terakhir dari usia Abu Bashir al-Asadi dengan wafatnya Imam Ja'far al-Shadiq as dan munculnya klaim keimamahan dari Abdullah al-Afthah putra tertua Imam Shadiq as. Abu Bashir harus berhadapan dengan para pengikut Abdullah al-Afthah yang dikenal dengan nama Fathahiyyah yang menentang orang-orang Syiah yang meyakini keimamahan Imam Musa al-Kazhim as. Posisinya melawan Fathahiyyah membuatnya memiliki reputasi baik di antara para pengikut Imam Musa Kazhim as dan dianggap sebagai salah seorang sahabat Imam Shadiq as yang menolak imamah Abdullah al-Afthah dan menegaskan keimamahan Imam Kazhim as sejak awal. [14]

Dari laporan pengikut Imam al-Kazim as yang menukil langsung dari ucapan Abu Bashir, ia disebutkan menyerang keyakinan dasar Fathahiyyah mengenai masalah Imamah. [15] [Note 1]

Kedudukan Abu Bashir di sisi Waqifiyyah

Pada periode terpecahnya Imamiah dan terbaginya pengikut Imam Musa al-Kazhim as menjadi Waqifiyyah (yang menolak kematiannya dan meyakini mahdawiyyah Imam Kazhim as) dan Qath'iyyah (yang meyakini ia digantikan oleh Imam Ali ar-Ridha as) terjadi bertahun-tahun pasca wafatnya Abu Bashir al-Asadi. Ali bin Abi Hamzah al-Bathaini adalah salah seorang murid dekat Abu Bashir yang menjadi pemimpin di kelompok Waqifiyyah dan putranya Hasan yang juga bermazhab Waqifi banyak mengambil riwayat dari Abu Bashir. [16] Dalam kitab-kitab Waqifi, sebagian riwayat-riwayat yang menegaskan dan mengukuhkan keyakinan mazhab Waqifi dinukil dari ucapan-ucapan Abu Bashir al-Asadi. [17]

Kredibilitas

Para ahli rijal Imamiah menyebut Abu Bashir sebagai Anggota Ijma' dan kesemuanya mengakui kredibilitasnya. [18] Najasyi menyebut Abu Bashir sebagai perawi yang tsiqah. [19] Ialah yang meriwayatkan hadis Lawh, dimana keyakinan kepada 12 imam dan keturunan mereka diuraikan. [20] [21]


Abu Bashir sebagai Waqifi?

Sebagian dari ahli rijal Imamiah seperti Allamah al-Hilli karena dibingungkan dengan keberadaan teks al-Kasysyi [22] meyakini Abu Bashir Yahya bin Abi al-Qasim al-Asadi dengan Yahya bin Qasim al-Hadzdza al-Waqifi sebagai sosok yang satu sehingga menyebut Abu Bashir al-Asadi sebagai Waqifi. [23] Sementara jika meninjau tahun wafatnya Abu Bashir al-Asadi pada tahun 150 H dan dimulainya perpecahan kelompok Waqifah pada tahun 183 H, maka ia diklaim sebagai Waqifi, tidak mungkin benar.

Karya

Abu Bashir dikenal memiliki dua karya yaitu kitab Manasik al-Haj yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Hamzah dan Husain bin 'Ala [24] dan kitab Yaum wa Lailah yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Hamzah al-Bathaini [25].

Syaikh Shaduq menghimpun sejumlah hadis fikih darinya yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Hamzah dalam kitab Man La Yahdhuruhl Faqih. [26] Demikian pula ia menghimpun sekitar 20 hadis dalam tema 'sebab-sebab' di dalam kitab 'Ilal al-Syara'i yang diriwayatkan dari Husain bin Yazid al-Nawfali dari Ali bin Hamzah. [27]

Ibnu Babawaih mengkombinasikan riwayat dari Abu Bashir dan Muhammad bin Muslim dalam kitab [[hadis al-Arba'a mi'a, yang kesemuanya termaktub dalam al-Khisal. [28]

Ada sebuah tulisan dari Abu Bashir mengenai biografi Aimmah yang pertama diriwayatkan Muhammad bin Sinan (pada sebagian sanad disebutkan dengan periwayatan Ibnu Muskon) yang digunakan dalam karya-karya tua milik Imamiah dan selain Imamiah. [29]Al-Khashibi menyebutkan Abu Bashir yang disebutkan dalam sanad ini adalah Abu Bashir al-Asadi.

Catatan Kaki

  1. Kasysyi, Ma'rifatul Rijal, Ikhtiyar Thusi, jld. 1, hlm. 173 dan 476; Thusi, Rijal, jld. 1, hlm. 140 dan 333.
  2. Thusi, Rijal, jld. 1, hlm. 140; Mufid, al-Ikhtishash, jld. 1, hlm. 83.
  3. Lih. Najasyi, Rijal, jld. 1, hlm. 441.
  4. Kasysyi, Ma'rifatul Rijal, Ikhtiyar Thusi, jld. 1, hlm. 173; Thusi, Rijal, jld. 1, hlm. 333; Mufid, al-Ikhtishash, jld. 1, hlm. 83.
  5. Thusi, Rijal, jld. 1, hlm. 333.
  6. Thusi, Rijal, jld. 1, hlm. 333; Najasyi, Rijal, jld. 1, hlm. 441.
  7. Barqi, al-Rijal, jld. 1, hlm. 11 dan 17; Thusi, Rijal, jld. 1, hlm. 140 dan 333; Najasyi, jld. 1, hlm. 441.
  8. Thusi, Rijal, jld. 1, hlm. 364; Najasyi, Rijal, jld. 1, hlm. 441.
  9. Lih. Himyari, Qurb al-Isnad, hlm. 146; Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 285 dan jld. 2, hlm. 124; Mas'udi, Itsbat al-Washiah, jld. 1, hlm. 167-168; Dalail Imamah, dikaitkan dengan Ibnu Rustam Thabari, jld. 1, hlm. 163 dan 193.
  10. Lih. al-Barqi, al-Mahasin, jld. 1, hlm. 309; al-Kulaini, al-Kafi, jld. 7, hlm. 185-186; Ibnu Babawaih, Amali, hlm. 268.
  11. Lih. Ibnu Babawaih, Masyikhatul Faqih, jld. 4, hlm. 121; Thusi, al-Fihrist, jld. 1, hlm. 178; Thusi, Amali, jld. 2, hlm. 95 dan 157.
  12. Lih. Najasyi, Rijal, jld. 1, hlm. 215 dan 429; Kasysyi, Ma'rifatul Rijal, Ikhtiyar Thusi, jld. 1, hlm. 171.
  13. Lih. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 291; Kasysyi, Ma'rifat al-Rijal, Ikhtiyar Thusi, jld. 1, hlm. 240-241.
  14. Lih. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 351-352; Kasysyi, Ma'rifat al-Rijal, Ikhtiyar Thusi, jld. 1, hlm. 282-284.
  15. Lih. Ibnu Babawaih, Ali bin Husain, al-Imamah wa al-Tabshirah min al-Hairah, hlm. 49 dan 74; Mas'udi, Itsbat al-Washiah, jld. 1, hlm. 161.
  16. Lih. Najasyi, Rijal, jld. 1, hlm. 250, dinukil dari Tafsir Ali bin Abi Hamzah; Ibnu Babawaih, Tsawab al-A'mal, hlm. 130 dst, dinukil dari Fadhail Qur'an Hasan bin Ali; Najasyi, Rijal, jld. 1, hlm. 37.
  17. Lih. Alawi, Nashratul Waqifah, nmr. 21, 23 dan 33; Kasysyi, Ma'rifat al-Rijal, jld. 1, hlm. 474-476.
  18. Lih. Kasysyi, Ma'rifat al-Rijal, Ikhtiyar Thusi, jld. 1, hlm. 238; Thusi, 'Uddat al-Ushul, jld. 1, hlm. 384.
  19. Najasyi, Rijal, jld. 1, hlm. 441.
  20. Lih. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 527-528; Nu'mani, al-Ghaibah, jld. 1, hlm. 42-44; Ibnu Babawaih, Kamaluddin, jld. 1, hlm. 308-311.
  21. Dengan alasan bersamanya Abdurrahman bin Salim (perawi hadis ini) dengan Ali bin Abi Hamzah pada riwayat Abu Bashir dalam sebagian sanad memberikan petunjuk kuat bahwa Abu Bashir al-Asadi mengetahui hadis ini. Lih. Thusi, Tahdzib, jld. 1, hlm. 443; Thusi, al-Istibshar, jld. 1, hlm. 203.
  22. Kasysyi, Ma'rifat al-Rijal, Ikhtiyar Thusi, jld. 1, hlm. 474-476.
  23. Allamah Hilli, Rijal, jld. 1, hlm. 264.
  24. Thusi, al-Fihrist, jld. 1, hlm. 178.
  25. Najasyi, Rijal, jld. 1, hlm. 441.
  26. Ibnu Babawaih, Masyikhat al-Faqih, hlm. 18.
  27. Ibnu Babawaih, 'Ilal al-Syara'i, jld. 1, hlm. 15-16.
  28. Ibnu Babawaih, 'Ilal al-Syara'i, jld. 2, hlm. 610-637.
  29. Ibnu Abi al-Tsalj, Tarikh al-Aimmah, jld. 15; Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 461, 463 dan 468; Khashibi, al-Hidayat al-Kubra, hlm. 39; Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, jld. 1, hlm. 50; Ibnu Khassyab, Tarikh Mawalid al-Aimmah wa Wafayatihim, jld. 1, hlm. 161.
  1. Meskipun dalam riwayat tidak dijelaskan bahwa Abu Bashir yang manakah yang dimaksud namun penghormatan khusus terhadap Abu Bashir al-Muradi tetap diberikan oleh Fathahiyyah. Kemungkinan Abu Bashir yang dimaksud adalah Abu Bashir al-Asadi. Mungkin inilah penyebab dikenalnya Abu Bashir al-Asadi sebagai tokoh yang anti Fathahiyyah karena Ibnu Faddhal seorang ahli rijal dalam kritiknya terhadap rijal Abu Bashir al-Asadi mengalami kebingungan. lih. Kasysyi, Ma'rifat al-Rijal, Ikhtiyar Thusi, jld. 1, hlm. 173, hlm. 476

Daftar Pusaka

  • Abul al-Faraj al-Isfahani, Maqatilu al-Thalibiyyin, Najaf, 1385 H/1965.
  • Agha Buzurg, al-Dzari'ah.
  • Al-Barqi, Ahmad bin Muhammad, al-Rijal, Tehran, 1383 H.
  • Ibnu Abi al-Tsalj, Muhammad bin Ahmad, Tarikh al-Aimmah, Majmu'ah Nafisah, Qom, 1406 H.
  • Ibnu Babawaih, Ali bin Husain, al-Imamah wa al-Tabshirah min al-Hairah, Qom, 1404 H.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, 'Ilal as-Syara'i, Najaf, 1385 H/1966.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, al-Khishal, riset: Ali Akbar Ghaffari, Qom, 1403 H.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, al-Amali, Beirut, 1400 H/1980.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah, riset: Ali Akbar Ghaffari, Tehran, 1390 H.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, Man laa Yahdhuruhul Faqih, riset: Has Musawi Khurasan, Najaf, 1376 H.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, Masyikhat al-Faqih, ditambahkan dengan 4 jld. al-Faqih.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, Tsawab al-A'mal, Najaf, 1392 H/1972.
  • Ibnu Khassyab, Abdullah bin Nashr, Tarikh Mawalid al-Aimmah wa Wafayatihim, Majmu'ah Nafisah, Qom, 1406 H.
  • Ibnu Nadim, al-Fihrist.