Buka menu utama

WikiShia β

Islam
کتیبه مسجد.png

Haji (bahasa Arab: الحج) adalah satu amalan ibadah wajib dan termasuk dari furu' atau cabang agama Islam. Haji adalah sekumpulan dari amalan-amalan yang dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah, di kota Mekah dan sekitarnya. Acara ritual haji adalah kumpulan terbesar kaum muslimin. seluruh kelompok dari berbagai aliran Islam berkumpul pada hari-hari pelaksanaan haji.

Haji memiliki beberapa macam dan bagian, yang paling maraknya adalah haji Tamattu' dan ini untuk kaum muslimin yang tidak tinggal di Mekah dan sekitarnya. Perjalanan haji diwajibkan sekali saja bagi setiap muslim yang sudah terpenuhi syarat-syarat untuk pelaksanaannya. Haji dimulai dengan memakai baju ihram dan dengan hal ini, sebagian amalan-amalan bagi seorang haji akan menjadi haram dan wajib banginya untuk melaksanakan amalan-amalan haji.

Dalam Alquran ada banyak ayat yang berbicara tentang haji dan bahkan ada sebuah surah yang dinamakan dengan nama surah Haji. Begitu juga lebih dari sembilan ribu riwayat yang telah dinukil mengenai haji dan hukum-hukum serta amalan-amalannya yang sebagian darinya menjelaskan bahwa haji merupakan ibadah yang diunggulkan dan teragung dari ibadah-ibadah lainnya setelah ibadah salat. Haji selain memiliki dimensi ibadah, juga memiliki dimensi ibadah-ibadah lainnya. Para ulama Islam selain berusaha menjelaskan amalan-amalan yang tertuang secara lahiriyah, juga berusaha menyingkap dan menafsirkan hakikat dan rahasia haji yang mana mencapai dan meraih hakikat Tauhid dan penyembahan terhadap Tuhan Yang Esa termasuk salah satu dari rahasia dan hakikat tersebut.

Sebelum Islam, jabatan-jabatan seperti menyambut dan menerima para jemaah haji yang fakir, juru kunci Kakbah, dan pemberi minum kepada para jamaah haji, ada pada musim haji yang mana Islam menyetujui sebagian darinya. Kini jabatan-jabatan baru di musim haji muncul sesuai dengan kebutuhan zaman.

Haji Tamattu' dikarenakan batasan-batasan tempat dan waktu, hanya dapat menampung beberapa jumlah dari para jemaah haji; oleh karena itu, kuota haji diberikan sesuai dengan jumlah penduduk kaum muslimin di setiap negara (kuota haji Indonesia: 221 ribu orang dan kuota haji Iran: 81 ribu orang). Kadar perputaran finansial haji untuk setiap negara berbeda-beda. Dimuat dalam sebuah laporan pada tahun 1437 H (1394 HS) lebih dari delapan juta jamaah dan peziarah haji yang mengadakan perjalanan berziarah ke rumah Allah dan pendapatan pemerintah Saudi secara langsung kira-kira 12 miliyar dolar. Haji merupakan topik yang sangat banyak dibahas dalam buku-buku modern di Iran dan negara-negara lainnya dari dulu hingga sekarang.

Daftar isi

Filsafat, Kedudukan dan Kepentingan

Haji, satu ibadah khusus yang bertujuan menaati dan mendekatkan diri kepada Allah[1] dan dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah di sebuah tempat bernama Mekah.[2] Diwajibkan bagi setiap muslim -jika syarat-syaratnya terpenuhi- untuk berangkat menunaikan ibadah haji.[3]

Haji dalam pandangan Islam, memiliki nilai dan kepentingan yang sangat tinggi dan dengan demikian haji ditempatkan dalam cabang-cabang agama Islam.[4]

Di dalam Alquran terdapat sebuah surah yang bernama surah Al-Hajj dan banyak ayat-ayat yang membahas tentang haji.[5] Sesuai dengan ayat 27 surah Al-Hajj, Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk menyampaikan hukum haji. Alquran memperkenalkan haji sebagai syiar Allah dan tanda-tanda-Nya.[6] Begitu juga, dalam Alquran telah dijelaskan bulan-bulan penyelenggaraan haji.[7]

Banyak juga riwayat-riwayat yang membahas dan menjelaskan tentang haji. Dua buku seperti Wasail al-Syiah dan Mustadrakul Wasail telah menukil lebih dari 9150 hadis yang berkaitan dengan kedudukan dan hukum-hukum haji dimana hal itu menunjukkan kepentingannya dalam agama Islam dan banyaknya hukum-hukum dan kejelimetannya. Imam Shadiq as menganggap haji lebih agung dari puasa dan jihad, bahkan dari segala ibadah kecuali salat.[8]

Menurut beberapa riwayat, ketika para jamaah haji menetap di Mina, seorang penyeru dari sisi Allah akan menyerukan bahwa: "Jika kalian menginginkan kerelaanKu, (ketahuilah bahwa) Aku telah meridhoinya" [9] Telah dinukil dari Imam Ali as bahwa Allah swt telah menjadikan haji sebagai pertanda kerendahan diri di hadapan keagungan dan pengakuan akan kemuliaan Tuhan. Allah memilih sebagian hambanya yang mendengar seruan-Nya dan menyambutnya dengan ucapan labbaik serta membenarkan ucapan-Nya.[10]

Sebelum Islam

Haji bukan sunah yang diciptkaan Islam, Bahkan menurut riwayat-riwayat, para Nabi telah melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah.[11] Bahkan kaum musyrik Mekah juga sebelum Islam telah melaksanakan haji dan tawaf di sekeliling Kakbah dan mereka memiliki tradisi-tradisi khusus yang sebagian darinya tidak disetujui oleh Islam, seperti tawaf dalam keadaan telanjang [12] dan mengubah hari-hari haji.[13] Sebagian dari agama-agama Ilahi dan non Ilahi juga memiliki sebuah manasik seperti haji kaum muslimin. kaum Yahudi selama masih ada tempat penyembahan Sulaiman ditugaskan untuk hadir di sana dalam tiga hari raya yang ditentukan.[14]

Hukum, Pembagian dan Manasik

Berangkat menunaikan ibadah haji dalam keadaan biasa (bukan dalam keadaan nazar atau sumpah) hanya diwajibkan sekali bagi setiap muslim. [15] Dari satu dimensi, haji dibagi kepada tiga bagian: Haji Tamattu', Haji Qiran dan Haji Ifrad.

  • Haji Tamattu': Haji ini wajib dilakukan bagi mereka yang tinggal dengan jarak enambelas atau duabelas farsakh (kira-kira 88 atau 66 kilo meter) dari kota Mekah atau lebih jauh.[16]

Amalan-amalan dan manasik haji Tamattu' terdiri dari dua bagian Umrah Tamattu' dan Haji Tamattu' itu sendiri:

  1. Umrah Tamattu' memiliki lima bagian:1.Ihram. 2. Tawaf. 3. Salat Tawaf. 4. Sa'i antara Shafa dan Marwah. 5. Taqshir (memotong rambut, kuku dll).
  2. Haji Tamattu' itu sendiri memilki 13 bagian: 1.Ihram. 2. Wukuf di Arafah. 3. Wukuf di Masy'aril Haram. 4. Pelemparan Jumrah (Aqabah). 5. Kurban. 6. Mencukur Rambut atau memotongnya. 7. Tawaf (Haji). 8. Salat Tawaf (Haji). 9. Sa'i antara Shafa dan Marwah. 10. Tawaf Nisa. 11. Salat Tawaf Nisa. 12. Bermalam di Mina. 13. Melempar Jumrah-jumrah.
  • Haji Qiran dan Haji Ifrad: Kedua kategori haji ini adalah tugas para penduduk Mekah dan juga orang-orang yang tempat tinggal mereka kurang dari jarak yang sudah disebutkan dalam Haji Tamattu'.[17]

Manasik atau amalan-amalan haji, adalah bagian terpenting dari haji yang mana banyak hal yang telah ditulis mencakup tentangnya. Alquran dalam berbagai ayatnya telah mengisyaratkan tentang manasik dan hukum-hukum fikih berkaitan dengan haji. Diantara hukum-hukum yang telah diisyaratkan dalam Alquran adalah: Pensyariatan haji tamattu' untuk penduduk selain Mekah dan orang-orang yang tinggal di sekitar Tanah Haram,[18] wukuf di Masy'aril Haram dan Arafah bersama dengan norma dan adab-adabnya, [19] hukum-hukum yang berkaitan dengan kurban[20] dan perburuan,[21] kewajiban bertawaf di rumah Allah,[22] dan Sa'i antara Shafa dan Marwah,[23] tidak diperbolehkannya mencukur rambut sebelum melaksanakan kurban,[24] diperbolehkan melakukan jual beli dalam haji, [25] dilarang untuk melakukan hubungan intim dengan istri.[26]

Hikmah Diwajibkannya Haji

  • Sangat banyak hadis yang menjelaskan tentang hikmah diwajibkannya haji. Imam Ali as dalam berbagai kesempatan mengingatkan pentingnya berhaji misalnya untuk menunjukkan ketawadhuan dihadapan kebesaran Tuhan, membebaskan manusia dari kesombongan, ujian berat dan bersabar atas kesulitan-kesulitan, mempererat persaudaraan antara kaum Muslimin, sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan untuk memperoleh rahmat dari Allah swt. [27]
  • Sayidah Fatimah sa bersabda, "Haji merupakan salah satu faktor untuk mengokohkan agama.” [28]
  • Imam Shadiq as bersabda: "Di antara hikmah haji menurut hadis dari Nabi Muhammad Saw: Berkumpulnya kaum Muslimin dari berbagai belahan dunia, saling mengenal antara yang satu dengan yang lainnya, memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hubungan perdagangan, mempelajari ilmu-ilmu keagamaan.” [29]
  • Imam Ridha as bersabda: "Sebagian hikmah-hikmah haji yang lain adalah: Menjadi tamu Tuhan dan bertaubat atas dosa-dosa yang dilakukan pada masa lampau, mencegah badan untuk mengikuti keinginan-keinginan nafsu, menjauhkan diri dari sifat hati yang keras dan keputus-asaan, memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang lain, pemanfaatan sisi ekonomi, mempelajari masalah-masalah keagamaan.” [30]

Adab-adab Perjalanan

Cukup banyak anjuran-anjuran dari Rasulullah saw dan para Imam as tentang adab-adab safar, diantaranya:

  • Penyesalah dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukan, memiliki sifat zuhud sehingga tidak akan melakukan perbuatan dosa dan mendatangkan kesabaran yang akan menjauhkan rasa marah, berbuat baik sesama teman seperjalanan, bermurah hati dalam menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan berhaji, menghindari menawar barang ketika berbelanja, [31] bertutur kata yang baik selama perjalanan, menghindari perbuatan yang tidak penting selama dalam perjalanan dan memberi makan bagi orang-oang yang membutuhkan. [32]
  • Dalam hadis dijelaskan bahwa pahala dan ampunan Ilahi akan diperoleh seseorang yang berhaji dengan syarat melaksanakan hajinya dengan ikhlas dan menjauhkan diri dari segala penyakit riya. [33]

Kewajiban Berhaji

Haji merupakan rukun Islam dan bagi setiap orang yang memenuhi syarat, wajib melakukan ibadah haji sekali dalam seumur hidup. Dalam istitilah syara', haji wajib adalah haji yang wajib bukan karena nadzar dan hal-hal semacamnya. Karena haji wajib ini merupakan rukun agama, maka disebut dengan "Hajjatul Islam". [34]

Kewajiban haji bersifat segera (fauri) artinya pada tahun pertama istitha'at harus dilakukan dan jika ia tidak melaksanakan kewajiban berhaji, maka ia harus mengerjakannya pada tahun selanjutnya, dan mengakhirkan kewajiban beribadah haji dari tahun semenjak ia mampu melakukan adalah dosa besar. [35]

Haji kadang-kadang menjadi wajib karena nadzar, sumpah, tidak sahnya haji yang dilakukan sebelumnya, dan badal haji bagi orang lain. [36] Tanpa terpenuhinya salah satu dari hal-hal yang mewajibkan haji, maka melakukan haji sunah hukumya, sebagaimana pengulangan pelaksanaan haji setiap tahun atau membawa keluarga untuk berhaji juga sunnah hukumnya. [37]

Syarat-syarat Wajib Haji

Syarat-syarat wajib haji meliputi: berakal, baligh, [38] merdeka, [39] istitha'at atau mampu. [40] Oleh itu, haji tidak wajib bagi orang-orang yang gila, belum baligh, budak dan orang-orang yang tidak mampu. Jika orang-orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan ibadah haji, melaksanakan ibadah haji, maka haji mereka tidak dapat disebut dengan Hajjatul Islam. [41]

Jenis-jenis Haji

Haji memiliki tiga bagian: haji Tamattu', haji Qiran dan haji Ifrad.

  • Haji tamattu adalah kewajiban seseorang yang tinggal pada jarak 16 atau 12 farsah dari Mekah atau lebih jauh berdasarkan perbedaan fatwa-fatwa. [42]
  • Haji Qiran dan Ifrad adalah kewajiban penduduk Mekah dan orang-orang yang jarak tempat tinggalnya lebih dekat dari jarak itu hingga Mekah. [43]

Manasik Haji

Amalan-amalan dan manasik haji berdasarkan urutan waktu adalah:

  1. Mengenakan pakaian Ihram
  2. Wukuf di Arafah
  3. Wukuf di Masy'aril Haram (Muzdalifah)
  4. Bermalam di Mina pada malam-malam 11, 12 dan pada sebagian malam 13 untuk melakukan amalan-amalan:
    1. Lempar tiga Jumrah pada hari yang telah ditentukan. [44]
    2. Berkurban di Mina yang diwajibkan dalam haji Tamattu' dan disunnahkan dalam haji Qiran dan haji Ifrad. [45]
    3. Halq (menggundul) atau taqshir (mencukur)
  5. Thawaf ziarah
  6. Salat Thawaf ziarah
  7. Sa'i antara Shafa dan Marwah
  8. Thawaf Nisa'
  9. Salat thawaf Nisa'
  • Dalam haji Tamattu', umrah Tamattu' harus dilakukan sebelum haji.
  • Amalan-amalan Mekah (lima amalan terkhir), dengan menjaga syarat-syarat yang telah ditetapkan, dapat dilakukan juga setelah Halq atau Taqshir pada hari ke-10.

Hal-hal yang disunahkan dalam Manasik Haji

Setiap manasik haji, memiliki adab-adab dan hal-hal mustahab yang dianjurkan untuk dikerjakan. Dalam kitab-kitab fikih, disebutkan tentang adab-adab untuk melakukan ihram, memasuki Masjidil Haram, thawaf, salat tawaf, sa'i antara Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, wukuf di Masy'aril Haram, melempar jumrah, berkurban, berada di Mina dan di Mekah sendiri.

Peristiwa Penting

Pembunuhan Jamaah Haji pada tahun 1987

Sepanjang sejarah, kadang-kadang para jamaah haji selama menempuh perjalanan haji atau diantara al-Haramain al-Syarifain, menderita kerugian harta dan jiwa. Diantaranya pada tanggal 31 Juli 1987 bertepatan dengan 6 Dzulhijjah tahun 1407 H, ratusan peziarah dari Iran dan beberapa peziarah dari negara-negara lain di Mekah dan Kakbah, diserang secara sadis dan dibunuh oleh agen Wahabi Arab Saudi, dan hal itu terjadi pada saat mereka melakukan ritual kewajiban Ilahi untuk berlepas diri dari kaum musyrikin. [46]

Kejadian Mina pada tahun 2015

Kejadian Mina, adalah kejadian paling mematikan dalam peristiwa haji Tamattu' yang terjadi pada tanggal 24 September 2015 M bertepatan dengan Idul Kurban yang menelan korban nyawa lebih dari 2900 jiwa. Sebagian sumber kabar menuliskan jumlah orang yang tewas menembus hingga 5 ribu jiwa lebih. Para hujaj yang meninggal atau hilang atau luka-luka parah dalam insiden ini berasal dari 39 negara. Pemerintah Arab Saudi hingga sekarang belum mengeluarkan pernyataan resmi sebab kejadian ini.

Penyebab meletusnya kejadian ini, sebagaimana yang diumumkan oleh pemerintah setempat karena penutupan jalur 204 dan adanya penumpukan jamaah. Berdasarkan statistik terbaru yang dilansir, jumlah peziarah Republik Islam Iran adalah jumlah paling banyak yang meninggal dunia dan terluka dari pada negara-negara lain.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran memberikan reaksi keras atas insiden Mina dan mengumumkan tiga hari sebagai hari berkabung nasional. Rahbar menilai penyebab insiden ini adalah kesalahan managemen yang dilakukan Arab Saudi atas penyelenggaraan ibadah haji. [47] Demikian juga Macky Sall, presiden Republik Senegal juga mengumumkan hari berkabung selama tiga hari. [48]

Akibat kejadian ini dan tidak terjalinnya kesepakatan antara Iran dan Arab Saudi, maka pengirimin jemaah haji Iran pada tahun 2016 M dibatalkan.

Galeri-Galeri

Catatan Kaki

  1. Thuraihi, Majma' al-Bahrain, jld.2, hlm.285.
  2. Mehrizi, Farhang Nameh Haj wa Umreh wa Amakine Marbutheh, hlm.13.
  3. Husaini Hamadani, Anware Derakhsyan, jld.3, hlm.145.
  4. Thayyib, Athyabul Bayan fi Tafsiril Quran,jld.6, hlm.296.
  5. sebagai contoh, lihat: QS. Al-Hajj, 27-32.
  6. QS. Al-Hajj, 32.
  7. QS. Al-Baqarah, 197.
  8. Kulaini, al-kafi, jld.4, hlm.254.
  9. Kulaini, al-kafi, jld.4, hlm.262.
  10. Sayid Radhi, Nahjul Balaghah, hlm.45, khotbah pertama.
  11. 'Ayyashi, Tafsir, jld.1, hlm.186.
  12. Alusi, Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Quran al-Azhim, jld.3, hlm.234.
  13. Fahrur Razi, Mafatih al-Ghaib, jld.16, hlm.45.
  14. Taufiqi, Asynai ba Adyane Buzurg, hlm.88.
  15. Husaini Hamedani,Anware Derakhsyan, jld.3, hlm.145.
  16. Najafi, Jawahirul Kalam, jld.18, hlm.1-5.
  17. Najafi, Jawahirul Kalam, jld.18, hlm.44-47.
  18. QS. Al-Baqarah, 196.
  19. QS. Al-Baqarah, 198-199.
  20. QS. Al-Baqarah, 196; Al-Hajj, 28.
  21. QS. Al-Maidah, 95-96.
  22. QS. Al-Hajj, 29.
  23. QS. Al-Baqarah, 158.
  24. QS. Al-Baqarah, 196.
  25. QS. Al-Baqarah, 198.
  26. QS. Al-Baqarah, 197.
  27. Silahkan lihat: Nahj al-Balaghah, Khutbah 1, 110, 192. Hikmah 252.
  28. Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 29, hlm. 223.
  29. Silahkan lihat: Hurr al-Amili, jld. 11, hlm. 14.
  30. Ibnu Babawaih, no. 1363, jld. 2, hlm. 90.
  31. Ibnu Babawaih, 1404, jld. 3, hlm. 167, 197; al-Thusi, Tahdzib, jld. 5, hlm. 445; Hurr al-Amili, jld. 11, hlm. 149, jld. 17, hlm. 455-456.
  32. Silahkan lihat: Ibnu Abi Jumhur, jld. 4, hlm. 33; Qazwini, hlm. 586-588; Syakui, hlm. 99.
  33. Silahkan lihat: Ibnu Babawaih, no. 1368, hlm. 504; Ibnu Hajar al-Asqalani, jld. 3, hlm. 302; Hurr al-Amili, jld. 11, hlm. 166, 109, 110.
  34. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 220-223.
  35. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 223-225.
  36. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 216-228.
  37. Muhadzdzab al-Ahkam, jld. 12, hlm. 18.
  38. Jawāhir al-Kalām jld. 17, hlm. 229.
  39. Jawāhir al-Kalām jld. 17, hlm. 241.
  40. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 248.
  41. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 229, 241, 248 dan 275.
  42. Jawāhir al-Kalām jld. 18, hlm. 105.
  43. Jawāhir al-Kalām jld. 17, hlm. 44-47.
  44. Jawāhir al-Kalām jld. 17, hlm. 136.
  45. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 114, 115.
  46. http://www.irdc.ir/fa/calendar/136/default.aspx.
  47. khameini.ir.
  48. Site Irna.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran al-Karim.
  • Nahj al-Balāghah, Subhi, Salihi, Qahirah, 1411 H/1991 M.
  • Ibnu Abi Jumhur, Awali al-Liali al-Aziz fi al-Hadits al-Diniyah, cet. Mujtaba Araki, Qum, 14031405/19831985.
  • Ibnu Idris al-Hilli, Kitāb al-Sarāir al-Hawi li Tahrir al-Fatawi, Qum, 1410-1411 H.
  • Ibnu Babuwaih, Tsawāb al-A'māl wa Iqāb al-A'mal, Qum, 1410 H.
  • Ibnu Babawaih, Uyun Akhbar al-Ridhā, Cet. Mahdi Lajurdi, Qum, 1404 H.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, Syarah Sahih Bukhari, Bulaq, 1300-1301, cet. Offset Beirut, tanpa tahun.
  • Ibnu Khuzaimah, Sahih Ibnu Khuzaimah, cet. Muhammad Mustafa A'dhami, 1412 H/1992 M.
  • Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, cet. Ali Syiri, Beirut, 1412 H/1992 M.
  • Abu Salah al-Halabi, Al-Kāfi fi al-Fiqh, cet. Ridha Ustadi, Isfahan, 1403 H.
  • Ismail Hamad al-Jauhari, al-Sihah, Taj al-Lughah wa Sihah al-Arabiyah, cet. Ahmad al-Ghafur Athar, Qahirah, cet. Offset Beirut, 1407 H.
  • Bahrani, Yusuf bin Ahmad, al-Hadaiq al-Nadhirah fi Ahkām fi al-Itrah, Jamiah Mudarisin, Qum, 1405 H.
  • Hur al-Amili, Muhammad bin Hasan, Tafshil Wasāil Syiah ila Tahsil Masail al-Syiah, Qum, 1409-1412 H.
  • Al-Sabzawari, Sayid Abdul A'la, Mahdzab al-Ahkām fi bayan al-Halāl wa al-Harām, Muasasah al-Manar Qum, 1413 H.
  • Abdul Jabbar bin Zainal Abidin Syakui, Misbah al-Haramain, cet. Jawad Thabathabai, Tehran, 1426 H.
  • Fakhruddin Muhammad Thuraihi, Majma' al-Bahrain, cet. Ahmad Husaini, Tehran, 1403 H.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, cet. Ahmad Husaini, Tehran, 1403 H.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, Dar al-Kitab al-Ilamiyah, Tehran, 1407 H.
  • Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi al-Majlisi, Bihār al-Anwār, Beirut, 1403 H/1983 M.
  • Muhammad Ismail al-Bukhari, Sahih Bukhari, cet. Muhammad Dhahani Efendi, Istanbul, 1401 H/1981 M.
  • Muhammad Hasan al-Thusi, al-Mabsuth fi Figh al-Imāmiyyah, jld. 1, cet. Muhammad Taqi Kasyfi, Tehran, 1429 H.
  • Muhammad Hasan al-Thusi, Tahdzib al-Ahkām, Cet. Hasan Musawi Khurasan, Tehran, 1405 H.
  • Muhammad Isa al-Turmudzi, jld. 2, cet. Abdurahman Muhammad Utsman, Beirut, 1403 H.
  • Muhammad bin Muhammad alZubaidi, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, cet. Ali Syiri, Beirut, 1414 H/1994 M.
  • Muhammad Hasan bin Muhammad Ma'shum alQazwini, Kasyf al-Ghitha an Wujuh Marāsim al-Ihtida fi Ilm al-Akhlāq, cet. Muhsin Ahmadi, Qum, 1422 H.
  • Muhammad bin Ahmad al-Aini, Umdah al-Qāri, Syarah Sahih Bukhari, Beirut, Tanpat tahun.
  • Al-Najafi, Muhammad Hasan, Jawāhir al-Kalām fi Syarah Syarayi' al-Islam, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, Beirut, 1414 H.
  • Al-Yazdi, Sayid Kazhim Thabathabai, al-Urwah al-Wutsqa fi ma Ta'ummu bihi al-Balwa (Muhassyi), Jamiah Mudarisin, 1419 H.